Assalamua’alaikum wr wb,,,
Dari Abu Abdurrahman bin Mas’ud ra, dia berkata, “Rasulullah SAW menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, ‘Sesungguhnya ketika kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya sebagai setetes mani selama 40 hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama 40 hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan 4 perkara: rezeki, ajal, amal, dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada Illah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta, akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka, maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesunguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta, akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga, maka masuklah dia ke dalam surga.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah hadis yang membuat saya berpikir dari pertama kali mendengar sampai sekarang.
Di awal hadis ini menerangkan tentang fase penciptaan manusia. Dan di bagian akhir menerangkan tentang usaha kita agar terus konsisten melakukan kebaikan karena pada akhirnya yang akan dilihat Allah adalah pada kesudahan akhir hidup kita. Ini inti pembahasan yang saya dapat dari buku terbitan MQS Publishing yang berjudul “Syarah Hadits Arbain an-Nawawi” (baca sendiri ya kalo penasaran
)
Tapi pembahasan tersebut tidak mengobati pertanyaan-pertanyaan saya yang sudah berkembang terlalu jauh.
“Berarti semua manusia sudah ditentukan dari dulu dia akan masuk surga atau neraka? Berarti sebanyak apapun amal kebaikan yang kita lakukan kalo Allah menghendaki kita masuk neraka pada akhirnya akan ke neraka juga? Lha trus buat apa kita berbuat macam-macam hal kalo pada akhirnya semua sudah ditentukan hasilnya? dan berbagai macam pertanyaan lanjutan lainnya..”
Ada 2 versi tentang takdir yang saya dapat
1. Ini saya dengar pas ikut kuliah agama. Ada banyak jalan yang Allah sediakan untuk kita. Kita sebagai manusia mempunyai akal untuk memilih jalan mana yang akan kita ambil. Di setiap ujung jalan tersebut akan ada takdir kita yang menanti. Trus ada seorang teman bilang kalo semua pencapaian hidup kita tergantung pada ikhtiar kita. Besar kecilnya ikhtiar yang kita lakukan akan berdampak pada besar kecilnya hasil yang akan kita dapatkan. Ada juga yang berpendapat kalo jalan hidup kita sebenarnya sangatlah kompleks. Kalo diibaratkan seperti pemrograman komputer akan banyak if..then..else disana. Setiap keputusan sekecil apapun yang kita ambil akan mempengaruhi jalan hidup kita. Di sini yang saya tangkap akan ada hasil yang berbeda untuk setiap jalan yang kita ambil. Kalo kita memilih jalan A kita akan dapat hasil A, kalo milih jalan B kita akan dapat hasil B. Di sini berarti Allah berkehendak untuk mengubah ketetapan-Nya yang sudah tertulis di Lauh Mahfuz yang sudah dibuat 50.000 tahun sebelum penciptaan alam semesta.
Sabda Rasulullah SAW
‘Allah Ta’ala telah menulis taqdir makhluk sebelum Dia mencipta langit-langit dan bumi dalam jarak 50 ribu tahun dan arasyNya berada di atas air’. (Sahih Muslim)
2. Saya bertanya pada senior ketika kuliah tentang hadis ini dan beliau memberikan contoh “Seberapapun kerasnya kalian belajar kalo Allah menghendaki kalian dapat D juga tetep aja dapet D. Semua hasil sudah tercetak. Yang harus kita perhatikan adalah prosesnya. Karena yang akan dinilai oleh Allah adalah prosesnya. Buat apa Allah menilai sesuatu yang sudah Allah tetapkan sendiri”. Trus saya dengar penjelasan seorang ustadz dari radio MQ FM (saya lupa nama ustadznya) bahwa takdir Allah sudah ditulis dalam Lauh Mahfuz sejak zaman azali. Dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun. Allah akan menurunkan sebab-sebab sehingga hamba-Nya menuju ke takdir yang sudah Dia tetapkan.
Nah, saya cenderung pada pendapat yang terakhir ini dengan banyak pertanyaan tentu saja..
Bagaimana dengan Al Qur’an surat Ar Ra’d: 11 yang mengatakan bahwa
“..Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..” ??
Perbuatan mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka pun sebenarnya sudah tercatat dalam kitab Lauh Mahfuz. Allah akan menurunkan sebab-sebab yang membuat mereka menyadari bahwa mereka harus mengubah keadaan diri mereka sendiri. Sehingga terlihat seolah-olah keadaan mereka berubah karena usaha yang mereka lakukan.
Contoh kasusnya:
Ada seorang penjual keripik. Hidupnya serba kekurangan. Tapi Allah berkehendak bahwa hamba-Nya ini akan menjadi kaya pada akhirnya. Allah akan menurunkan sebab-sebabnya. Allah akan memberi ilham/ide/wangsit/keinginan/dorongan dan menunjukkan jalan pada orang ini untuk berusaha mengubah nasibnya. Sehingga orang ini pada akhirnya akan menjadi seorang kaya. Lewat bimbingan-Nya lah orang ini mau berusaha keras dan cerdas mengubah nasibnya. Mungkin bimbingan Allah datang lewat orang lain yang memberi bantuan modal atau kerjasama bisnis dengannya. Atau Allah memberi ilham pada orang ini berupa kreatifitas untuk memajukan usaha kripiknya. Atau bisa saja skenarionya seperti ini. Orang ini mendengar ayat ini dan Allah memberikan kesadaran pada dirinya untuk berusaha mengubah dirinya sesuai petunjuk Allah dalam surah Ar Ra’d. Dan balik lagi, Allah yang memberi kesadaran tersebut. Allah yang membuka pintu hikmah-Nya pada orang ini.
Kalo Allah menghendaki orang ini tetap pada keadaannya semula maka jalan-Nya pun akan berlaku disini. Mungkin Allah belum berkehendak untuk memberi bimbingan pada hamba-Nya ini untuk berusaha lebih keras dan cerdas. Orang ini bisa jadi sudah diberi hikmah oleh Allah untuk mengubah dirinya dengan bekerja keras mati-matian tapi usahanya belum mampu mengubah keadaannya karena Allah menghendaki demikian. Kalo dalam seminar-seminar motivasi orang-orang ini baru bekerja keras belum bekerja cerdas. Sehingga kondisi hidupnya stagnan. Mereka belum menemukan suatu cara yang bisa mendobrak kondisi dirinya menjadi lebih baik (biasanya ini berhubungan dengan kreatifitas atau strategi dkk). Kenapa mereka belum menemukan cara tersebut?? karena Allah belum memberikan ilham-Nya pada orang tersebut.
Kalo begitu caranya apa untungnya kita berusaha mati-matian?? Toh kalo sudah takdir kita nanti juga akan dikasih sama Allah..
Alert..ada beberapa poin yang bisa saya ambil dari pertanyaan ini..
Poin 1
Pas awal tadi sudah dibilangin sama senior saya kalo Allah melihat proses yang kita tempuh bukan hasil. Kalo kita berpikiran kita gak usah berusaha toh nanti akan tetap sama aja hasilnya berarti nilai usaha kita 0. Di dunia aja kita gak mau dapat nilai 0 apalagi nilai 0 dari Allah,,saya pastinya gak mau. Gak tahu kalo Anda mau nilai 0 dari Allah ![]()
Contoh kasus:
Kita mau ada tes kalkulus hari senin. Sejak hari sabtu sampai saat tes kita sudah belajar (rajin amat..). Tapi ternyata hasilnya tetep aja dapet D. Nah, yang dinilai Allah adalah proses belajar kita. Atau kita sudah belajar mati-matian plus kita jujur pada waktu ngerjain tes tapi nilai kita tetep kalah sama yang bermain curang pada waktu tes. Insya Allah nilai kita di sisi Allah jauh lebih baik daripada si tidak jujur ini.
Kasus diatas masih termasuk kasus ringan karena hanya berpengaruh pada pribadi saja. Contoh kasus yang lebih rumit adalah dalam suatu perusahaan atau kantor atau organisasi yang tentunya sangat mementingkan hasil. Kalo memang hasil sudah ditentukan ngapain repot-repot mikirin cara buat dapat hasil yang bagus??
Jawaban ada di bawah ini..
Poin 2
Semua bilang masa depan adalah misteri. Nah, inilah hebatnya ilmu Allah. Allah tidak memberitahu kita apa yang akan terjadi pada kita esok hari. Dengan cara seperti ini Allah memberi kita kesempatan untuk merancang masa depan kita.
membuat strategi-strategi untuk mencapai tujuan kita. Ketidaktahuan kita ini bisa menjadi modal yang besar bagi kita, kita bisa bermimpi setinggi-tingginya dan berharap kelak mimpi-mimpi kita bisa tercapai. Kita pasti semua berharap akan mendapat hasil yang indah pada akhirnya. Ketidaktahuan akan hasil akhir membuat kita berjuang keras untuk mendapat hasil sesuai yang kita inginkan. Disini yang kita tekankan adalah sifat husnudzhon pada Allah.
Contoh kasus
Sebuah perusahaan bagaimanapun juga pasti menghendaki hasil yang sesuai target. Saat itu perusahaan pasti dalam
kondisi tidak tahu apa yang akan tepat terjadi pada hasil akhir kita. Perusahaan hanya bisa meramalkan hasil yang bisa
mereka capai dan menemukan cara-cara untuk mencapai target tersebut. Jika anda masih berpikiran untuk tidak berusaha karena hasil sudah ditentukan Allah pada kasus ini anda pasti akan dipecat dari perusahaan karena anda cuman bengong nunggu hasil dateng padahal yang lain sudah pontang-panting ngejar target ![]()
Begitu juga dengan surga dan neraka. Kita tidak tahu pada akhirnya kita akan ditempatkan dimana. Yang bisa kita lakukan adalah terus berprasangka baik pada Allah bahwa Dia akan memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Bukankah Allah sesuai prasangka hamba-Nya.. ![]()
Nah, pasti ada yang berpikiran seperti ini. Kalo begitu ceritanya buat apa saya susah-susah berbuat kebaikan. Sebanyak apapun amal sholeh yang saya lakukan kalo Allah sudah menetapkan saya di neraka ya akhirnya saya nyemplung ke sana juga kan??
Poin 3
Dari Imran bin Husain radhiyallahu’anhu, dia berkata:
Rasulullah SAW ditanya: Wahai Rasulullah! Apakah sudah diketahui orang yang akan menjadi penghuni syurga dan orang yang akan menjadi penghuni neraka? Rasulullah saw menjawab: ‘Ya’. Kemudian baginda ditanya lagi: Jadi untuk apa orang-orang itu harus beramal? Rasulullah SAW menjawab: Setiap orang akan dimudahkan untuk melakukan apa yang telah menjadi taqdirnya. (sahih Muslim)
Setiap kali Allah berkehendak akan sesuatu Dia pasti akan memberikan sebab-sebabnya terlebih dahulu. Kita tidak tahu apa
yang akan terjadi pada diri kita kelak dan kita mau menuju ke sesuatu yang indah pada akhirnya. Dan kita tahu untuk menuju ke takdir yang sudah ditentukan Allah, Dia pasti akan menuntun kita ke jalan tersebut. Ditambah sikap husnudzon kita kepada Allah, itu akan mendorong kita untuk terus melakukan kebaikan yang menjadi sebab kita mendapat rahmat dan ridho-Nya.
Untuk jawaban pada poin 2, Ya..amal kebaikan kita tidak akan mungkin membuat kita masuk surga. Sebanyak apapun itu karena yang membuat kita masuk ke dalam surga adalah rahmat-Nya. Jika kita masih ingin bersikap pasif dengan tidak melakukan amal sholeh dan hanya mengikuti hawa nafsu karena berpikiran semua hasil sudah ditetapkan coba pikir sekali lagi. Kita pasti ingin masuk surga kan, sementara kita tidak berbuat sesuatu yang bisa menjadi jalan menuju surga. Kita hanya menunggu dan berharap bahwa akhir hidup kita bahagia karena Allah menetapkan kita masuk surga. Bagaimana bisa?? sedangkan kita sendiri tidak berada di jalur yang benar untuk mendapatkan surga-Nya..
Coba berpikir seperti ini, saya tidak tahu apakah nantinya saya mau masuk surga atau neraka. Tapi saya ingin masuk surga, dan saya tidak tahu dengan jalan apa Allah akan mengantarkan saya masuk surga. Jadi saya akan berada di jalur yang benar untuk menggapai surga-Nya karena bisa saja jalan yang saya tempuh ini adalah jalan yang sudah Allah sediakan untuk saya menuju surga-Nya. Nangkep gak??
Poin 4
Semua yang Allah berikan pada kita adalah amanah dan karunia dari-Nya. Apa yang Allah perintahkan pada kita perihal amanah?? Sudah pasti harus kita kerjakan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin. Nah, hidup kita dan segala yang Allah berikan pada kita ini adalah amanah-Nya. Jadi kita pun harus berusaha semaksimal mungkin dalam untuk menjaga amanah kehidupan kita. Selain itu hidup ini adalah karunia dari-Nya, apa yang Allah perintahkan jika kita mendapat karunia atau nikmat?? Allah menyuruh kita bersyukur atas segala pemberian-Nya. Nah, salah satu cara bersyukur adalah menggunakan segala pemberian-Nya untuk berjalan di jalan-Nya.
Selain itu Allah menyuruh kita berusaha. Jika kita benar orang beriman kita akan dengan ikhlas mengerjakan apapun perintah-Nya termasuk bekerja dan berusaha tersebut. Jadi kalo kita masih berpikiran untuk tidak berusaha dalam hidup ini karena semua sudah ditetapkan-Nya berarti kita menolak perintah-Nya untuk berkerja dan berusaha. Padahal hakikat penciptaan manusia oleh Allah adalah untuk beribadah kepada-Nya, yang intinya adalah menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dengan keterangan poin 4 kita masih bermalas-malasan berarti kita harus diruqyah
. Hati-hati dengan bisikan setan. Allah itu akan selalu menunjuki kita jalan kebaikan, jika yang anda rasakan adalah keburukan itu sudah pasti setan sedang menghembuskan nafas provokasinya. Kalo sudah begitu mari kita ucapkan “A’udzubillahi minass syaitoni rojim..” ![]()
Surah Ar Ra’d ayat 11 diatas pun artinya sebenarnya melihat dari Tafsir Ibnu Katsir adalah berhubungan dengan nikmat bukan dengan nasib.
Ibnu Hatim meriwayatkan dari Ibrahim, ia mengatakan: “Allah mewahyukan kepada salah seorang Nabi dari Bani Israil: ‘Hendaklah kamu ketakan kepada kaummu bahwa warga desa dan anggota keluarga yang taat kepada Allah tapi kemudian berubah berbuat maksiat atau durhaka pada Allah pasti Allah akan mengubah mereka dari apa yang mereka senangi menjadi sesuatu yang mereka benci.’”
Lalu bagaimana dengan Hadis Rasulullah SAW yang berbunyi
“Tidak ada yang dapat menolak qadha kecuali doa.” (HR. Tirmidzi)
Itu berarti jalan yang Allah gunakan untuk membuat kita menuju ke takdir kita adalah doa kita. Tapi bukan doa itu yang mengubah takdir kita meskipun secara pandangan lahiriah seolah-olah dengan kita berdoa takdir kita berubah. Toh kita juga tidak tahu bagaimana takdir kita di masa depan. Jadi bagaimana kita bisa tahu kalo takdir kita berubah. Kita sering mendengar bahwa Allah mengabulkan doa kita dengan 3 cara:
1. Allah akan langsung mengabulkan doa yang kita panjatkan
2. Allah akan menunda dan memberikan apa yang kita inginkan pada saat yang tepat
3. Allah akan mengganti dengan yang lebih baik
Contoh kasus:
Kita ingin menjadi seorang dokter, kita berdoa siang dan malam untuk mewujudkan cita-cita kita tersebut. Tapi ternyata Allah berkehendak kalo kita menjadi seorang ekonom. Doa kita yang tak putus kita panjatkan telah Allah ganti dengan yang lebih baik lagi menurut pandangan-Nya. ![]()
Ada orang miskin yang berdoa siang malam berharap agar Allah menjadikannya kaya. Tapi bila Allah belum berkehendak maka dia akan tetap miskin. Kondisi tersebut tidak berarti menunjukkan kalo Allah tidak sayang pada orang tersebut. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Bisa jadi kemiskinan tersebut memang yang terbaik untuk dia. Seperti bentuk pengabulan doa nomor 3 ato bisa juga no 2. Pada saat yang tepat akan diberikan-Nya apa yang dia pinta.
Pasti setelah itu kita mikir. Berarti gak usah berdoa saja yah, kalo hasilnya sama aja,,??
Poin 1
Kan tadi sudah dibilang kalo doa bisa jadi salah satu jalan yang Allah gunakan untuk mencapai takdir kita. Kita tidak tahu akan seperti apa kita di masa depan dan jalan apa yang akan kita gunakan untuk mencapainya. Jadi kita mikirnya gini aja “Siapa tahu doa ini akan menjadi jalan yang Allah kehendaki bagi saya untuk mencapai maksud tujuan saya. Saya mau berdoa ah…”
Poin 2
Doa adalah salah satu bentuk ibadah, syukur, dan cinta kita kepada Allah. Kembali lagi pada hakikat penciptaan kita. kalo sudah sampai alasan ini dan kita masih menolak berdoa,,berarti mari bersama-sama kita meningkatkan keimanan dan kecintaan kita pada Allah..
Ini beberapa keuntungan yang dapat kita rasakan ketika kita mengambil sikap untuk percaya bahwa apa yang sudah Allah tetapkan sejak zaman azali tidak akan berubah (kita atau saya yah
):
1. Lebih ringan menghadapi hidup, tidak bersedih hati terhadap apa yang sudah luput dari diri kita. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.
(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorang pun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput daripada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Ali Imran: 153)
2. Mengurangi kata-kata ‘seandainya’. Kita tidak akan mengatakan
“Sendainya saya kemaren mengambil jalan yang itu, seandainya saya kemaren milih yang itu, …”
Karena kita yakin apa yang terjadi pada diri kita hari ini adalah kehendak-Nya. Dan inilah yang terbaik yang diberikan kepada kita. Tinggal bagaimana cara kita mengambil hikmah dari apa yang sudah terjadi. Pikirkan apa maksud Allah mengirim kita ke keadaan kita saat ini??
3. Tak ada lagi kesombongan, karena keberadaan kita saat ini dengan kondisi kita saat ini adalah karena Allah. Semua berada dalam genggaman-Nya. Bahkan kita tidak bisa menahan satu rambut yang jatuh dari kepala kita. Sadar kan betapa kecil, ringkih, dan lemahnya kita..
4. Semangat mencari sebab-sebab untuk menuju hidup yang lebih baik yang kita inginkan karena kita tidak tahu lewat jalan apa Allah akan mengantar kita pada takdir-Nya..Jadi, kalo ingin hasil yang terbaik,,stay on the right track
Dan jangan lupa bahwa Allah itu baik dan akan selalu baik pada hamba-hambaNya, Allah itu Maha Kasih dan akan selalu mengasihi hamba-hambaNya,,dan kita semua adalah hamba-Nya yang pasti akan selalu mendapat kasih dan sayangNya.
Oh ya, satu lagi ada temen juga yang bilang
“Kalo begitu bagaimana dengan kejadian Lailatul Qadr. Bukankah pada malam itu ditetapkan takdir kita untuk satu tahun ke depan??”
Nah, menurut sumber yang saya baca takdir itu pun merujuk ke takdir azali kita CMIIW.,.
Semoga Allah selalu melimpahkan hikmahnya pada kita semua untuk memahami ilmu-ilmu-Nya.. Amiin..
CMIIW (Correct Me If I am Wrong)..I am just a little newbie who try to find an answer..
~Another Long Post~
Referensi:
http://ikanlepu.blogspot.com/2010/09/doa-dan-ikhtiar-tidak-boleh-mengubah.html





.jpg)
Jun 03, 2011 @ 14:26:49
lebih kurang ,… saya suka penjelasannya …
tp tetap takdir, misteri ilahi, tak kan terungkapkan
just doing the best .. ^.^
Jun 03, 2011 @ 15:18:20
Yupp,,
just do the best