Assalamua’alaikum wr wb,,,

Begitulah kehidupan ini, kau tidak pernah berhak bertanya atas keputusan Tuhan. Kita mengenal kehidupan demokratis, kebebasan memilih, kebebasan keinginan, diajarkan langsung oleh-Nya melalui kitab suci, tapi ironisnya justru tidak ada kata demokratis, tidak ada kesempatan memilih dengan takdir-Nya. Kau tidak berhak protes. Tidak sama sekali…
Setiap kali kau protes, maka seseorang akan mengingatkan bahwa Tuhan Maha Adil. Yaaa,,,Tuhan Maha Adil. Karena kita terlalu bebal maka kita-lah yang tidak tahu dimana letak keadilan-Nya, tidak tahu apa maksud-Nya….Kalau kita tidak pernah mengerti, itu jelas karena kita terlalu tolol, bukan berarti Tuhan tidak adil, Tuhan selalu benar…
Subhanallah,,,mantap….
Buku Tere Liye kedua yang saya baca setelah ‘Hapalan Shalat Delisa’. Dan lagi-lagi kisahnya membuat hati ini bergetar ketika membacanya. Buku yang saya ambil ngasal dari rak buku di salah satu kios di Palasari yang slese dalam waktu 5 jam yang akan diserahkan pada perpustakaan IT Telkom sebagai salah satu syarat biar bisa dapat ijazah–Jadi berat mo ngasih ke perpus–
Kisahnya agak sedikit flashback. Awal baca saya salah menebak ceritanya,,,
Melati,,,seorang anak berumur 6 tahun yang karena sesuatu kejadian menjadikan dia buta dan tuli..
Karang,,,pemuda yatim piatu yang sangat menyayangi anak-anak dan karena suatu ‘tragedi’ kehidupannya mulai berubah menjadi ‘menyedihkan’..
Hampa, kosong, gelap, sepi, sendiri…itulah yang dirasakan Melati. Telinganya yang tak dapat mendengar, matanya yang tak dapat melihat,,otomatis membuat mulutnya yang tak dapat berbicara pula. Akses bagi Melati untuk berhubungan dan mengenal dunia benar-benar tertutup. Sampai akhirnya datanglah Karang yang dengan kemampuannya untuk bisa memahami anak-anak berusaha membuka akses komunikasi Melati.
Membaca kisah ini saya teringat dengan kisah Nabi Musa dan Nabi khidir. Nabi Khidir melakukan tindakan-tindakan yang tidak dapat dipahami oleh Nabi Musa. Se-tidak masuk akal perbuatan Nabi Khidir tersebut ternyata di dalamnya terdapat hikmah yang sedemikian besar. Demikian juga dengan Karang,,dia berusaha mengajarkan dan mengenalkan dunia pada Melati dengan caranya sendiri. Tindakan-tindakan yang dilakukannya dari luar tampak begitu kasar dan keras serta tidak akan dimengerti oleh orang lain, tapi apa yang dilakukannya membuahkan hasil,,terciptalah akses bagi Melati untuk berkomunikasi dengan dunia luar
Ada satu lagi yang saya tangkap dari kisah ini. Perhitungan dan janji 4WI itu pasti tepat,,Seluruh rangkaian kehidupan yang kita jalani sudah diatur sedemikian rupa oleh 4WI,,
“Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan,,,”
Jangan pernah berhenti berharap akan keajaiban-keajaiban yang suatu saat akan diberikan 4WI untuk kita,,,karena janji 4WI itu benar,,
=Kisah ini diilhami dari cerita Hellen Keller=
Judul Buku : PANDUAN MENGGUNAKAN MAPSERVER
“Jilbab bukan pembatas mimpi. Jalan-jalan dan menapakkan kaki di Bumi Allah yang maha luas ini, cuma satu simbol dari mimpi yang bisa kamu miliki. Nggak usah ragu apalagi takut. Hidup hanya sebentar, sayang banget jika waktu yang hanya sekedipan mata itu masih dibatasi oleh banyak ketakutan dan kekhawatiran or perasaan nggak bisa.”





.jpg)
Komen-Komen