He Knows How to Answer the Question from His Slave

Leave a comment

‘Mau ke Auditorium juga??’ kata si mbak berjilbab lebar yang kata Mbak Echi namanya Mbak Rani.
‘Hiya Mbak,,’ jawabku
‘Ya udah bareng aja yuk..’ lanjutnya sambil melirik namaku di id card yang tergantung di leher
‘Oke mbak, tunggu bentar yo..’ sahutku

More

Summer in Samben

Leave a comment

“Udah 2 bulan gak hujan niki mbak” kata salah seorang tetangga yang datang ke rumahku.
“Owh pantes halaman rumah gak muncul lumutnya” sahutku

Wew, ternyata di desaku sedang musim panas. Summer kalo kata wong londo. Tapi jangan bayangkan panasnya kayak J-Town ya (red:Jakarta). Sepanas-panasnya Samben, udaranya masih tetep seger. Angin masih bertiup kencang. Apalagi kalo pagi. Brr,,adem. Kebiasaan tiap kali di rumah adalah jalan-jalan pagi sama si emak. Whuih,,kalian bisa liat pemandangan yang mengagumkan kalo pagi hari. Kalo mengambil rute ke Timur, kalian bisa melihat gunung Putri Tidur. Entahlah apa nama sebenarnya gunung tersebut. Tapi dulu pas masih kecil teman-teman pada bilang namanya Gunung Putri Tidur karena bentuknya memang mirip seorang wanita yang lagi tidur. Jalanannya lurus dan mulus, di kanan kirinya full of sawah. Jangan bayangkan sawah yang menghijau ya, karena sudah musim panen jadi padi sudah mulai menguning. Musim panas identik dengan pohon yang meranggas. Kalian bisa melihat perpaduan yang sempurna antara gunung, matahari terbit, dan sebatang pohon yang meranggas tertata apik. Sayang gak ada kamera DSLR jadi gak bisa diambil gambarnya. Cukuplah saya ingat di memori saya :D More

A Valuable Lesson

Leave a comment

Assalamua’alaikum wr wb,,, :)

One day a rich father took his son on a trip. He wanted to show him how poor someone can be. They spent time on the farm of a poor family.

On the way home, father asked
“Did you see how poor they are? What did you learn?”
The son replied,
“We have a pool, they have rivers. We have lanterns at night, they have stars. We buy food, they grows theirs. We have walls to protect us, they have friends. We have encyclopedias, they have the Qur’an.”

Then he added
“Thanks Dad for showing me how poor we are.”

LESSON: It’s not about money that makes us rich, it’s about simplicity and having Allah SWT in our lives :)

Taken from: Islamic Thinking

Nilai Sebutir Nasi

Leave a comment

Seorang bapak berusia kurang lebih 40 tahun-an masuk ke kantor. Badannya kurus kering. Dia berkata kalau dia tidak punya uang untuk kembali ke rumahnya dan dia ingin minta sedikit dana untuk ongkos pulang ke rumahnya. Salah seorang petugas di kantor tersebut mempersilakan si Bapak untuk duduk menunggu terlebih dahulu. Prosedur untuk meminta dana bantuan di kantor tersebut memang cukup panjang. Bukan karena tidak percaya pada mereka yang meminta, hanya berusaha waspada. Zaman sekarang banyak orang yang memanfaatkan kebaikan untuk penipuan. More

Kisah Si Dokter Muda

2 Comments

Dokter muda itu mendesah perlahan. Dia berusaha memahami dan bersabar. Entah ini sudah yang ke berapa kalinya.
Sudah beberapa bulan ia bekerja di Rumah Bersalin Gratis. Tempat mereka yang tidak mampu bisa memeriksakan kesehatannya tanpa keluar uang sepeser pun.
“Bu, tolong ibu rontgen paru-paru ibu di klinik ya karena disini kita belum punya alat untuk memeriksa paru-paru Ibu.” kata dokter muda itu lembut More

Apa Kabar Rumah (Abadi) ku??

4 Comments

Hari ini sahabatku datang menjengukku. Seperti biasa ia akan bercerita panjang lebar. Kali ini ia menceritakan rumah barunya yang belum lama ia tempati.
“Kau tahu kawan, rumah yang satu kamarnya berharga 800 juta itu tak ada apa-apanya dibanding rumah yang saat ini kutempati.” katanya sambil menunjukkan gambar maket rumah di surat kabar yang tergeletak di atas lantai.
Aku tersenyum sinis memandang arah ujung telunjuknya. More

Kearifan Penguasa Berkah Bagi Semua Warga

Leave a comment

Assalamua’alaikum wr wb,,, :D

Andalusia ditimpa musim kemarau panjang. Tanaman sudah mengering. Dan hewan-hewan sudah kurus kering. Raja mengadakan shalat Istisqa. memohon kepada Yang Maha Kuasa agar hujan segera diturunkan. Ketika datang waktu berkhotbah, seorang tokoh ulama berdiri di mimbar. Aneh sekali, ia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Mulutnya terkunci dan tubuhnya berguncang. Ia turun dan raja naik. Ia tiba-tiba bisu. Akhirnya ia pun turun.
Mimbar kosong. Dan tak seorang pun berani menggantikan raja. Setelah hening beberapa lama, seorang pemuda tampil. Setelah membaca tahmid, shalawat, dan salam, dengan fasih ia menyampaikan nasihatnya. Menurut pemuda itu, semua bencana terjadi karena kezaliman penguasa. Penguasa sudah tidak dapat lagi mendengar jeritan orang banyak. Ia terasing dari lautan rakyat dalam sebuah pulau yang dihuni hanya oleh para penjilat, tukang cari muka. Raja sudah kehilangan pandangan pada keadaan yang sebenarnya. Tuhan murka. Tuhan ingin menunjukkan bahwa kesalahan seorang raja mengakibatkan derita jutaan manusia.
Mendengar itu, raja tak sanggup menahan air matanya. Sementara itu, para pendengar yang lain ketakutan. Mereka yakin, pemuda itu sedang berbicara untuk terakhir kalinya. Mereka mengira, jika beruntung, pemuda itu dapat mengisi sisa hidupnya di penjara yang pengap. Biasanya orang yang menyinggung perasaan raja akan segera kehilangan seluruh hidupnya. Melihat raja menangis, pemuda itu melanjutkan khotbahnya, “Bila penguasa bumi sudah ada rasa takut maka ridha-lah Penguasa Langit.” Belum selesai kalimat yang ia ucapkan, hujan turun dari langit, makin lama makin deras. penguasa Langit sudah ridha.

Taken from -Hidup ini Indah_Kisah-Kisah Penyejuk Hati-

Sekelumit Kisah di Tengah Dahsyatnya Gunung Merapi

2 Comments

Assalamua’alaikum wr wb,,, :D

Kejadian bermula ketika sedang menggelandang di Jakarta. Tepatnya di Masjid Istiqlal. Ternyata sehabis sholat dhuhur dan asar di masjid istiqlal ada sedikit kajian. Tema utamanya ‘Musibah’. Tapi saya cuma mau ngambil cerita Mbah Marijannya aja. Itu aja yang teringat jelas soalnya..

Kata Ustadz yang ngisi kajian, cerita ini shohih karena didapat langsung dari muridnya yang ikut sibuk di Gunung Merapi.

‘Ceritanya saat itu sedang ada evakuasi di daerah tempat mbah marijan tinggal. Mbah Marijan dan konco-konconya sudah dalam keadaan siap untuk turun gunung tapi keburu terdengar suara azan magrib. Mbah Marijan pun usul untuk sholat magrib dulu baru turun gunung. Akhirnya jadilah mereka semua pada sholat magrib berjamaah. Ada kejadian yang luar biasa pada saat mereka manjalankan sholat magrib. Wedhus Gembel yang biasanya mengalir dengan kecepatan tinggi pada saat itu seolah-olah berjalan dengan sangat pelan menunggu mereka yang sedang sholat magrib. Subhanallah…
Selesai sholat magrib dengan terus mengucapkan istigfar mereka satu persatu menuju ke mobil yang sudah disiapkan untuk evakuasi. Setelah turun baru mereka sadar kalo Mbah Marijan ternyata tidak ada dalam rombongan pengungsi tersebut. Akhirnya beberapa orang termasuk wartawan dan seorang nasrani berangkat menjemput Mbah Marijan. Dan akhirnya mereka semua, Mbah marijan dan penjemput-penjemputnya, diketemukan tewas terkena wedhus gembel. Mbah marijan ditemukan tewas dalam keadaan sujud, tapi kurang tahu juga sujudnya menghadap kemana. Ada sumber yang mengatakan kalo mbah marijan sujud menghadap ke selatan alias arah keraton. Wallahu’alam kalo yang ini..’

Turut teramat berduka untuk saudara-saudara di Klaten yang terkena musibah gunung merapi. Pengen daku pulang apa daya belum bisa juga…

Doaku untuk Indonesia #PrayForIndonesia

Memberi Makanan Berbuka Orang yang Berpuasa

Leave a comment

Assalamua’alaikum wr wb,,, :D

Ku mencomot tempe goreng nan gurih menu takjil di Masjid Al Fath.
Hemm, nikmat..
Hangat,,
Fresh dari penggorengan apalagi ditambah cabe yang semu-semu pedas. Kalo ada Pak Bondan pasti beliau langsung bilang maknyusss…. :D
Tiap kali bulan Ramadhan pasti menu gorengan ini selalu nangkring jadi menu utama di masjid. Pak Rasim, muadzin yang sering mengumandangkan azan di Masjid Al Fath sekaligus penjual gorengan ini, tak pernah absen menyisihkan gorengannya untuk disantap para pengunjung masjid yang datang untuk sholat magrib sekaligus membatalkan puasa mereka.

“Wah, pak rasim, masih semangat aja bagi-bagi gorengannya” kataku pas duduk di samping Pak Rasim di dalam masjid
“Hehe,,hiya Nak. Alhamdulillah masih ada yang bisa dibagi.” jawab beliau
“Kau pasti sudah tahu kan Nak, hadits Nabi yang mengatakan tentang keutamaan orang yang memberi buka orang yang berpuasa. Dia akan mendapat pahala setara dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun. Jamaah yang datang ke tempat ini kalau dihitung bisa mencapai 90-an orang. Kalo jamaah ini semua berbuka dengan makanan yang kita hidangkan berarti kita bisa mendapat pahala 90 orang yang berpuasa tersebut. Belum kalo ada acara kumpul anak yatim. Bisa mencapai ratusan orang. Bayangkan saja berapa besar pahala yang bisa kita dapat.” lanjut bapak sepuh itu. More

Delapan Sikap untuk Menemukan Kebenaran

2 Comments

Assalamua’alaikum wr wb,,, :D

Salah seorang yang diceritakan Abu Nu’aim adalah si Tuli Abu Abdurrahman Hatim. Gelar “Si Tuli”, Al-Asham, konon diberikan kepadanya karena pernah pura-pura tuli demi menjaga rasa malu wanita. Wanita tersebut, maaf, telah mengeluarkan angin dengan keras di hadapannya.
Hatim berguru kepada Syaqiq Al-Bakhi, juga seorang maestro dunia tasawuf. Pada suatu hari gurunya bertanya,

    “Berapa lama engkau telah berguru kepadaku?”
    “Tiga puluh tahun,” jawab Hatim
    “Selama itu apa saja yang telah engkau pelajari dariku,” tanya Syaqiq.
    “Delapan hal saja.”
    “Sia-sia saja umurku bersamamu. Selama ini kau belajar hanya delapan hal,” ujar Syaqiq dengan gusar.
    “Tuan guru, memang aku tidak mendapatkan sesuatu selain itu. Aku pun tidak ingin berdusta.”
    “Jelaskan yang delapan itu, aku ingin dengar,” pinta sang guru.

Inilah jawaban Hatim.
Aku lihat semua orang mempunyai kekasih. Dia ingin sehidup semati dengan kekasihnya. Padahal ketika sampai ke kubur, berpisahlah dia dengan kekasihnya. Aku pilih amal shaleh sebagai kekasihku, karena ia menyertaiku bila aku masuk kubur, juga menemaniku ketika menghadapi panggilan Illahi nanti.

    “Benar sekali, Hatim, lalu apa yang kedua?”

Aku perhatikan firman Allah: “Adapun orang yang takut di hadapan kebesaran Tuhannya dan menahan hawa nafsunya, surgalah tempat tinggalnya” (QS An Nazi’at: 40-41). Tuhan benar. Aku memilih surga. Aku berjuang mengendalikan hawa nafsuku.

    “Engkau betul, apa yang ketiga?”

I want more

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.