Maka, Beranilah…

Jika, ada banyak orang berani mendendangkan lagu di tengah keramaian orang, kenapa harus malu ketika harus membuka mushaf dan bertilawah di tengah keriuhan??

Jika, ada banyak orang berani bersegera berebut bermain permainan dunia, kenapa harus malu ketika bersegera bergegas sholat ketika mendengar suara azan??

Beranilah jika memang tak ada yang salah. Beranilah jika memang Lillah..

~May Allah shower this place with a lot of barakah~

Tiket

Actually, inilah kali pertama memilih kereta tengah malam. Hanya agar, kawan yang disana bisa tertidur tenang sampai subuh datang lalu dengan segar bisa berangkat menjemput di pemberhentian.

Tiket sudah ditangan. Bukan bentuk fisik memang, karena masih berupa data digital. Tapi uang sudah terlanjur dikeluarkan. Jadi, yo sayang kalau sampai ketinggalan.

Meski ternyata koreksian sampai jam 9 malam belum juga kelar gegara panggilan rapat dadakan tadi siang. Meski masih ada cucian yang harus dibereskan. Meski masih ada setrikaan yang harus dirapikan. Meski barang bawaan pun belum dipersiapkan. Meski badan sudah rasa pengen rebahan. Tetep, agar tiket yang sudah terbeli tidak percuma terbuang, semua pekerjaan harus diselesaikan. Lelah pun diterjang.

Ya begitu, kalau hanya untuk urusan seremeh tiket kereta yang cuma berharga sekian uang dunia, lelah tak dirasa. Tidak kah takut, ketinggalan kereta surga, yang tiketnya sudah digenggam bahkan ketika terlahir ke dunia??

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

***

Anyway, happy looongg holiday

Let’s walk, again, under the sky (^^)\

Qur’an dan Inspirasi

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia…” (Al Ahzab [33]: 72)

Menerima amanat berarti ada tanggung jawab untuk melaksanakannya. Melaksanakan penjagaan bumi beserta seluruh isi di dalamnya. Berefleksi dari ayat tersebut, terciptalah Masdar City, sebuah kota hijau di Abu Dhabi untuk mencegah hancurnya peradaban bumi karena suhu yang terus meninggi.

***

“…dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaatnya bagi manusia,…” (Al Hadid [57]: 25)

Merasa penasaran dengan “kekuatan hebat” yang disampaikan di ayat tersebut, Jabir ibnu Hayyan langsung masuk ke laboratoriumnya dan mulai menguji kekuatan besi sampai ke partikel dasarnya. Ditemukan bahwa, unsur besar paling stabil ada di Fe57. Dimana 57 adalah sebuah angka yang merujuk pada nomor surah Al Hadid. Wallahu ta’ala a’lam..

***

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya diatas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pengasih. Sungguh, Dia Maha Melihat segala sesuatu.” (Al Mulk [67]: 19)

Setelah membaca ayat tersebut, Abbas bin Firnas pun mulai memperhatikan bagaimana burung terbang. Bagaimana konstruksi pembuatan sayap mereka, bisa membuat mereka terbang di udara? Bisakah manusia menirunya? Hingga terciptalah konsep pesawat terbang yang sekarang ada.

***

Pertanyaan saya sampai saat ini adalah,
“Bagaimana kiranya ayat-ayat Al Qur’an tersebut mampu menembus akal mereka untuk menemukan dan menguatkan tekad mereka untuk menciptakan produk-produk yang bermanfaat untuk sebuah peradaban??”

Ustadz Adi pernah berkata,
“Al Qur’an itu Huddan, sebuah solusi untuk setiap permasalahan di muka bumi. Mungkin solusinya bukan berwujud sebuah penemuan langsung, tapi isyarat itu pasti ada di dalam Al Qur’an. Qur’an bukan kitab ilmiah, tapi isyarat ilmiah ada di dalamnya.”

Mungkin, hanya kemiskinan azzam yang membuat tidak mampu melihat tanda-tanda dalam kalam yang Ia turunkan..

Dan sungguh, manusia itu memang zalim dan sangat bodoh…
kecuali, mereka-mereka yang sudah Allah pilih dan kehendaki…

Wallahu ta’ala ‘alam…

Yang Pertama Ditanya

Mushola DC, beberapa bulan yang lalu…

Ia hendak beranjak keluar untuk mengambil air wudhu. Ketika dalam posisinya yang baru setengah berdiri, ia tiba-tiba berkata,

“Bu, kira-kira dia udah sholat subuh belum ya Bu?” tanyanya sembari menyebutkan nama temannya yang belum lama meninggal karena kecelakaan.

“Eh…” aku tertegun mendengar pertanyaannya.

“Kan dia ditemukan jam 5 pagi ya Bu. Saya kok malah kepikirannya dia pas itu udah sholat subuh belum. Yang ditanya pertama di akhirat itu, tentang sholatnya kan ya Bu.” dia menjatuhkan lututnya ke lantai. Kembali duduk.

Aku, tersenyum mendengar kata-katanya.

“Hebat. Saya malah gak kepikiran sampai ke sana..” jawabku.

“Itulah kenapa, lebih baik kalo sholat secepatnya kan. Setelah azan terdengar. Kita pun tak bisa menjamin, dalam perjalanan kita kembali ke kos, misalnya, nyawa kita diambil. Lebih baik sholat dulu di kampus kan. Baru berjalan pulang. Karena kita tak tahu, kapan malaikat maut akan datang.”

“Iya ya Bu..” katanya sembari menerawang.

“Sudah wudhu sana..”

“Ah, iya Bu..” jawabnya kembali riang sambil berdiri bangun dan melangkah ke pancuran.


Setahun ke belakang, entah sudah berapa banyak yang ditakziyahi…

Percakapan Akhir Tahun

Matahari pun ada waktunya tenggelam

Mbak, aku udah buat rencana 6 bulan ke depan!” katanya berapi-api.

“Wiih..josss” sahutku

“Lha, yang 6 bulan ke depannya?” lanjutku

“Blom Mbak, ntar lah…” jawabnya dengan nada riang seperti biasa.

Aku tergelak mendengar jawabannya. Lalu kembali lagi melihat ke arah netbie. Menyelesaikan materi yang harus disampaikan hari ini.

“Kalo kematian itu, rencana jangka panjang atau pendek?” tanyaku padanya sambil masih ngutek powerpoint.

“Pendek Mbak…” sahutnya setelah berpikir sejenak.

Aku tersenyum mendengar jawabannya.

“Sepertinya, manajemen kematianku akhir-akhir ini kacau. Waktuku habis untuk dunia…” kataku masih sambil mencet-mencet keyboard si netbie.

Hening sejenak.

Hingga akhirnya, dia kembali bersuara dan mencipta gelak tawa..


“Hidup itu pilihan”, begitu kata orang-orang.

Ya, aku percaya saja. Di dunia ini, kita bebas menentukan langkah kita. Sejauh mana, sebanyak apa. Hingga saat kita tak mampu lagi menentukan pilihan. Ketika kematian datang.

“Hidup itu pilihan” begitu kata orang-orang.

Beliau menambahkan sebuah pernyataan,

“Sebaliknya dengan kematian. Ia, bukan pilihan..”

Sepresisi Saad

Saad mengambil anak panahnya. Memposisikan pada busur panahnya. Meregangkannya. Membidik musuhnya, dan…

Yatta…

Si anak panah tepat mengenai musuhnya. Tak cuma satu, dua, tiga. Tapi peluang jitu bidikannya, mungkin mendekati 1 atau bahkan mutlak 1. Yang berarti, dari semua bidikannya, tak ada satu pun yang meleset dari target sasarannya.

Titis, kalo orang jawa bilang.

Presisi, kalo kata anak teknik. Continue reading

Dari Krakatau

Bukan Krakatau, Hanya Gunung Dekat Tempat Kerja

27 agustus 1883,

Krakatau tak mampu lagi menahan luapan panas dalam tubuhnya. Ia pun membiarkan semua energi panasnya yang setara dengan 21.574 kali energi bom atom, keluar dan memporak-porandakan dunia. Sementara ia sendiri, kehilangan 60% tubuhnya.

Sekira 36.000 jiwa penduduk dunia tewas karenanya. Dua setengah hari dunia berada dalam gelap gulita terkena hasil luapan panasnya. Dan selama setahun kebelakang, langit dunia redup terhalang sisa debu vulkanisnya. Hamburan debunya terlihat hingga New York dan Norwegia.

Darinya, kita belajar bahwa kemarahan besar yang diluapkan, tak cuma menghancurkan ketenangan sekitar. Ia sendiri pun ikut hancur karena ulahnya.

Darinya, dunia pertama kali belajar tentang sebuah makna ‘universal’. Bahwa kita satu dunia. Saling terhubung antara satu dengan yang lainnya. Sebuah kejadian di belahan bumi timur jauh, mampu mengguncang belahan bumi barat sana.

Doa terbaik untuk bangsa. Yang sedang bertubi-tubi didera luka. Semoga Rabbul ‘alamin berikan rahmatNya, untuk semesta. Yang pasti akan diberikannya, jikalau penduduk bumi beriman dan bertakwa…

Level Membaca

Aku mendapatkannya ketika sedang berkutat dengan laptop dan kertas di kubikal paling sudut ruangan. Dengan jendela terbuka seperti biasa, menampakkan langit senja dan semilir angin penghilang kepenatan. Notifikasi dari media sosial masuk mengganggu fokus pikiran.

“Perpustakaanbaitulhikmah started a live video.”

Headset kupasang. Notifikasi kutekan. Bit-bit digital yang terkonversi menjadi lantunan suara pembicara dari ‘kota peradaban’ mulai terdengar. Panjang memang kajian yang beliau sampaikan. Tapi hanya ini yang ingin dituliskan.

—–

Tak semua orang yang banyak membaca buku itu, pandai. Ada yang sudah membaca ratusan buku, tapi masih belum mampu menilai kedalaman isi buku-buku yang dibacanya. Level orang yang membaca itu, dibagi menjadi empat;

Pertama, paham dengan apa yang dibaca.

Kedua, paham dengan struktur buku yang dibaca. Metode penelitian apa yang dipakai, etimologinya, epistemologinya, dll.

Ketiga, paham dengan struktur berpikir penulis.

Keempat, dia yang mampu melewati ketiga level diatas, pada akhirnya akan mampu mendekonstruksi buku tersebut. Hingga menghasilkan karya yang mampu memperbarui dan memperbaiki nilai buku-buku yang sudah ia baca.

—–

Mendengar ini, rasanya getir. Lha, saya kadang baca aja gak paham sama isinya. Apalagi sampai level mendekonstruksi sebuah ilmu.

Teringat pula dosen pembimbing dulu pernah berkata,

“Saya gak mau nulis buku kalo gak ada kebaruan di buku yang saya tulis..”

Allah, jauhnya perjalanan ini..

Tepat seperti apa yang beliau katakan di awal-awal pembahasan.

“Jalan ilmu itu, jalan yang yang sulit…”

Rabbi zidni ‘ilma warzuqni fahma…

Rezeki dan Kematian

Kue itu datang tidak tiba-tiba. Ia sudah direncanakan. Ia dibeli, lalu dibawa ke ruangan. Ditempeli lilin, kemudian dinyalakan. Hanya untuk ditiup dan kembali dimatikan. Tubuhnya dipotong menjadi beberapa bagian. Habis lenyap hanya dalam hitungan jam. Umur kehidupan yang singkat namun membuat kesan yang panjang.

“Rezeki itu berbanding terbalik dengan kematian.” begitu Ustadz Adi pernah bilang.

Semakin banyak rezeki yang sudah dirasakan, semakin dekat kematian. Karena salah satu hakikat kehidupan adalah menghabiskan jatah rezeki yang sudah disediakan.

Kue kedua dari kalian 🙂

Btw, kita belum sempat makan-makan. Saya nya aja yang selalu kelupaan… :mrgreen:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ, ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً, فَادْخُلِي فِي عِبَادِي, وَادْخُلِي جَنَّتِي.