Human Interest

Like the kid, pure
Like the bird, free
The tie between two, love…

~ Credit photo: Gulden Somez
Really in love with this pict

Advertisements

Bintal 2018: SECAPA TNI AD

Bumi Parahyangan, 3-8 Mei 2018…

Kami siswa Telkom, berjiwa satria
Tidak pernah mengenal keluh kesah
Hadapi rintangan, tak jadi masalah
Maju terus pantang mundur
Demi kehormatan

Continue reading

By Isnaini Posted in Moment

Kebebasan Bersyarat? Tak Apa..

 

“Jadilah apapun yang kamu inginkan, tapi janganlah profesimu membuatmu jauh dari Allah.”

dua pernyataan yang menyenangkan dari ustadz Adi.

“jadilah apapun yang kamu inginkan.”
ini, salah satu pernyataan teradem yang dari dulu paling disuka. sebagai makhluk penyuka kebebasan, kata-kata tersebut, anggap saja, surga dunia.

“jangan membuat jauh dari allah.”
sebuah pernyataan yang, seakan-akan, menjadi konstrain dari bebasnya pernyataan pertama. tapi sebenarnya, itulah kebebasan yang sejatinya. ketika keinginan bukan lagi menjadi pengekang. ketika hatimu menyadari bahwa keinginanmu tak ada apa-apanya dibanding rasa surga.

sebuah kebebasan yang terbatasi konstrain. sebuah kebebasan yang terbatasi pakem. disanalah, tantangan sebenarnya. sama, seperti ketika melakukan penelitian. bebaslah pikiranmu mengeksplorasi kemana-mana, tapi tetap semua harus ada dalam kerangka yang tak dapat terlanggar.

maka mengertilah, bahwa konstrain-konstrain itu ada hanya agar kebebasan menjadi sebuah kebenaran yang membaikkan. menenangkan.

pwkt-yk

0.5 jam sebelum sampai tujuan…

 

— ketika harusnya meminta cuti untuk tidur seharian dan yang didapat adalah perjalanan tanpa bisa tertidur sekejap pun.

Busy but happy? Yess..

Somehow, i know what it means, dear Sensei ๐Ÿ™‚

 

Kehidupan Tak Usah Dipahami

Kehidupan tak usah dipahami,
maka ia jadi pesta.
Biarkan hari-hari berjalan
seperti kanak tanpa beban
dihadiahi kelopak aneka warna
oleh sejuknya hembusan angin.
Mengumpul menyimpan segala
sungguh si kanak tak ingin.
Kelopak dilepaskan dari rambutnya,
tempat mereka terpenjara;
pada umur yang manis dan muda
tangan meminta tambahan usia.

— Rilke, 1899 —

Obrolan Warung Pinggir Sawah

“Setiap dosen di tempat kita punya karakternya sendiri-sendiri. Gak salah kan aku nempatin dia ngajar mata kuliah itu.” yah, begitu kurang lebih perkataan mas calon kaprodi.

“Ada yang pintar negoisasi. Nah, dari sana kita bisa belajar bagaimana cara bernegoisasi. Setiap dari kita belajar dari yang lain.” lanjutnya, kalo gak salah..

“Kalo aku sih, orangnya gak bisa basa basi busuk.” lanjutnya lagi..

Saya pun angkat tangan sambil bilang,
“Sama mas~”

Begitulah, obrolan terakhir sebelum pulang dari nongki di Warpisa. Setelah colut dari kondangan sekaligus colut dari kampus sekaligus ngendon dari sebelum asar sampe setelah magrib.

Obrolan yang membuat sesek dada. Karena begitu banyaknya yang harus dipelajari. Karena merasa tertinggal jauh dari mereka-mereka, saudara seperjuangan di prodi. Karena bingung spesialisasi gue apaan??

Seperti siput yang keluar dari cangkang lalu silau melihat cahaya. Jika pun dibuat list apa saja yang harus diimprove, sepertinya akan nampak panjangnya.

Kata seorang kawan,
“Dosen itu mengenai manajemen diri.”

Pekerjaan beraneka rupa isinya pikiran semua. Ehmm…ada fisiknya juga sih. Berdiri presentasi.

Seperti seorang introvert yang harus berada di wilayah makhluk-makhluk extrovert. Tak cuma materi pemikiran, tapi juga materi percakapan. Tak cuma materi penelitian, tapi juga materi pengabdian.

Ada zona nyaman yang harus terus diperlebar. Ada zona tak nyaman yang harus terus diterjang. Ada pemikiran-pemikiran yang harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Ada hal-hal tak terpikirkan yang harus menjadi bahan perhatian. Ada strategi-strategi yang harus kembali dirancang. Ada loncatan-loncatan kreativitas yang harus diciptakan. Ada banyak bahan bakar kehidupan yang harus terus ditemukan lalu dinyalakan. Ada kekritisan yang harus terus digali.

Lalu??

Lalu, entah. Ini, tulisan yang belum selesai disimpulkan.

Hanya ingin mengumpulkan keberanian dan menata kembali tujuan. Hanya ingin memberikan kembali untuk mereka-mereka yang sudah terlalu banyak memberi…

Untuk mereka atau untuk diri??
Tepatnya, hanya untuk Illahi, kan…

Mind Travelling

“Perjalanan menemui akhir kala sudah menemukan pengertiannya, bukan tempatnya..”

Indah kan, kalimatnya…
Keambiguan makna adalah karakter rangkaian kata.
Gambaran seperti apa yang terbesit ketika membacanya??

Ada perjalanan. Ada tempat yang dituju. Dan ada, sebuah pemaknaan.
Manusia pejalan yang menyukai berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain dan menyatakan akhir perjalanannya adalah sebuah pemaknaan. Akhir, bukanlah sampainya ia pada tempat tujuan. Akhir, adalah sebuah pemahaman tentang jagat alam. Akhir, adalah ketika ada satu puzzle yang lagi-lagi mengisi rangkaian gambaran dunia dalam hatinya.

Tapi, rangkaian kata diatas hanyalah sebuah kalimat buatan manusia yang penafsirannya tak seketat menafsirkan kalimat buatan Sang Pencipta semesta. Continue reading

Syukur Baru Sabar

“Apa-apa yang datang dari Allah, terima dengan senang hati, Dek..”
Kalimat Ibu yang dulu pernah dikatakan sekali padaku. Sekali, dan manjur.

Akhir-akhir Ramadhan, tak cukup sekali Ibu mengatakannya lagi. Dua sampai tiga kali beliau ulangi.
Untuk siapa??
Untuk anaknya yang paling rewel sak donyo..

“Alhamdulillah”
Adalah ucapan pertama yang harus diucapkan ketika terjadi tumbukan dalam hidup. Setelah itu baru,
“Inna lillahi..”
Begitu, rumus sekuensialnya..

Untuk mensyukuri, kebaikan yang akan datang kelak. Agar, saat kalimat pertama tersebut yang terucap, Allah utus malaikat membangun sebuah rumah di surga. Agar, nikmat yang semula minus berubah menjadi plus. Yang plus menjadi plus plus.

Begitu pun, kenapa Allah menghendaki kata “hamdun” bukan “syukrun”. Agar tak ada kufur nikmat di dalam ucapan cinta untukNya..

“Apa-apa yang datang dari Allah, terima dengan senang hati, Dek..”
Kalimat yang akan dipegang sampai mati, insya Allah. Kebaikan, agar mengalir pada yang memberi kebaikan. Ibu…

[14:7]

Gerak Semesta

“Mbak Nuri, ayo duduk diluar. Berani gak?” kata si Om
“Ehmm..Coba deh Om” kataku sembari mencoba berdiri. Memegang si kreki.

Sebuah tanjakan cukup tinggi yang belum berani kulewati sendiri. Si Om menggotong kursi yang semula kududuki keluar. Meletakkannya di bawah rindangnya pohon mangga di halaman. Memilih tempat yang sedikit terkena sinar matahari. Dan tarra…duduklah aku disana. Di bawah rindangnya pohon mangga. Mendengarkan celoteh si Om, si Mbak, dan adek sepupu yang duduk di sebuah kursi panjang. Menikmati lagi duduk di bawah langit biru. Menikmati lagi hangatnya sinar matahari menyentuh kulit kaki.

Continue reading

Zaid Kecil, Batu, dan Hujan

Penuh kekesalan, Zaid kecil berlari keluar dari ruang kelas. Lagi-lagi, akalnya tak mampu mencerna pelajaran.

Bodohkah si Zaid kecil?? Tidak. Cerdas ia. Hanya saja, beratnya beban kehidupan yang ditanggungnya telah melemahkan akalnya. Begitu sulitnya si Zaid kecil menerima pelajaran meski sepele karena ada beban di jiwanya yang belum keluar.

Dalam perjalanannya, turunlah si hujan. Ke dalam gua ia berlindung. Dalam istirahatnya, ia mendengar suara lembut tetesan air hujan menimpa sebuah batu. Dialihkan pandangnya ke arah sumber suara. Tertegunlah ia melihat pemandangan di depannya. Sebuah batu yang berlubang karena tetesan air hujan yang lembut, tipis, konsisten.

Hikmah Allah, Zaid kecil merenungkannya,
“Kalo bukan karena kuasa Allah, tak mungkin si hujan kecil mampu melubangi si batu keras.”

Lalu, kembalilah ia ke madrasah menemui gurunya. Menceritakan segala yang ia lihat.

Tahu apa jawab gurunya, Nak??
“Sebuah batu pun jika terus menerus terkena tetesan air hujan bisa berlubang juga.”
Begitu??
Bukan Nak. Belajarlah melihat lebih dalam ke arah hakikat, bukan hanya yang tampak.
“Perhatikan, air saja yang cuma menetes karena ia ingin patuh kepada Allah, mampu menjadikan batu yang keras luar biasa itu bisa berlubang. Apalagi kalo kamu mau patuh pada ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wattaqullah wayu’alimukumullah.”

Begitu terkuak rahasianya, cepatlah Zaid kecil menangkap pelajaran. Hingga, jadilah sebuah buku 18 jilid, Fathul Bari, syarah kitab Shahih Bukhari.

Itulah Nak, salah satu esensi taqwa..

~ hujan berhenti, ayo pulang..Blui-chan..

[Ramadhan 1438 H] Nabi Yusuf dan Ramadhan

Imam Ibnu Jauzi menyampaikan bahwa,

Ramadhan terhadap bulan-bulan yang lain sebagaimana Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya. Nabi Ya’qub mempunyai 12 anak, jumlah bilangan bulan 12 pula. Sebagaimana Nabi Yusuf adalah anak yang paling istimewa, begitu pula dengan Ramadhan. Sebagaimana Allah mengampuni dosa seluruh anak-anak Ya’qub hanya karena do’a Nabi Yusuf, maka begitu pula Ramadhan. Dengan satu bulan tersebut, terampunilah dosa di 11 bulan yang lain.

Sebagaimana Allah paling menyukai sebuah bejana yang paling bening dan bersih, begitu pula hati yang disukai Allah.

๐Ÿ™‚ Mohon maaf lahir batin jika ada kesalahan dalam bertulis ๐Ÿ™‚

|| purifying the heart ~ welcoming ramadhan ~ pursuing lailatul qadr ||

~ L-Room, ketika semua sudah mudik pulang dan hanya tersisa 2 orang di ruangan..