Ruh Kehidupan

You know, we should make it a habit whenever we’re sad, angry, or upset, to turn to the Qur’an. You don’t even need to pray a whole juz, just a few lines can calm and console your heart. Wallah, no amount of ranting can bring your heart happiness than reciting the words of Allah. ~Al-Firdaus

-xxx-

Anak-anak kecil di jalanan Palestina itu, ketika ditanya,
“Nak, apa cita-citamu?”
Jawab mereka,
“Syahid, al mautu fi sabilillah”
Tanya relawan kembali,
“Bagaimana caranya Nak, untuk syahid?”
Kata mereka
“Dengan Qur’an”
Si relawan melanjutkan pertanyaannya
“Kenapa Nak, dengan Qur’an?”

“Sebab, yang dipilih oleh Izzuddin Al Qassam untuk berada di titik-titik yang paling memungkinkan untuk syahid adalah orang-orang yang paling akrab dan paling mesra dengan Al Qur’an” jawab mereka dengan wajah polos penuh keyakinan.

-xxx-

Sebab, yang dipilih oleh Allah untuk menjadi saksi-saksi baginya, yang tidak mati meskipun telah pergi dari bumi, yang ruhnya tetap hidup di sisi Allah dan mendapat rizki yang berlimpah, adalah yang paling mesra dengan kalamNya, dengan penghayatannya.

Al Qur’an, yang membuat mereka tawadhu’ khusyuk. Al Qur’an, yang membuat akhlak mereka mulia. Al Qur’an, yang membuat roket-roket itu bergerak tepat mengenai sasaran dan menimbulkan ketakutan bagi musuh-musuh mereka.

Karena Al Qur’an, adalah ruh kehidupan. Karena Al Qur’an, adalah sumber kebangkitan. Kebangkitan diri, kebangkitan masyarakat, kebangkitan bangsa negara, kebangkitan peradaban.

Maka, mohonlah dengan sangat, agar Allah menyatukan Al Qur’an dengan diri-diri kita. Agar dalam setiap gerak kita adalah terjemah dari Al Qur’an.

~Salim a Fillah~

Holistik Dunia Akhirat

Mari kita anggap bahwa, 1 hari di akhirat = 1000 tahun di dunia.
Apa dasarnya??
Coba, buka Al Qur’an nya dan cari surah Al Hajj ayat 7. Ada kan, perhitungannya🙂
Ini, patokan pertama.

Patokan kedua,
“Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka.” [HR. Al Bazzar, shohih]

Lalu, apa??
Karena saya tidak menemukan dasar yang bisa menghubungkan antara lama penyakit demam dengan seberapa jauh jarak penjauhannya dari api neraka maka kita anggap saja kalo,
sakit demam sehari di dunia = menghilangkan siksa sehari di akhirat

Nah, dari kedua patokan tersebut bisa kita dapati bahwa,
ketika sehari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia, maka sakit demam sehari di dunia bisa menghilangkan siksa sehari di akhirat yang lamanya 1000 tahun dunia. Jadi ringkasnya, jika kita sakit, sesungguhnya sakit kita yang cuma 1 hari itu telah menghindarkan kita dari panasnya api neraka selama 1000 tahun.

Nangkep kan maksudnya,,

Lalu, kenapa??
Yak yuk, karena kita adalah manusia yang suka dengan sesuatu yang nyata dan terasa, maka mari, sejenak kita coba membayangkan seberapa panas api neraka.

Ambil korek api, lalu sentuhkan ke kulit kita. Tahan berapa lama kah?? sakitkah??
Nah, itu baru api dunia. Padahal, api neraka panasnya 69 kali lipat dari panasnya api dunia.

“Api kalian ini yang dinyalakan oleh anak cucu Adam hanyalah 1 bagian dari 70 bagian dari panasnya api jahanam. Mereka berkata, ‘Wahai rasulullah, api di dunia ini saja sungguh sudah cukup (untuk menyiksa)’
Maka beliau bersabda,
‘Maka sesungguhnya api jahanam dilebihkan 69 kali lipat panasnya, dan setiap bagiannya (dari 69 ini) mempunyai panas yang sama seperti api dunia.'” ~ HR. Bukhari dan Muslim

Sudah terbayangkah rasa api neraka??

Maka sungguh, bersyukurlah karena dalam sebuah kesakitan yang sedikit ada hikmah yang sedemikian banyak. Dalam sebuah kesakitan yang sebentar, akan ada penyelamatan dari kesakitan yang lebih lama.

Jadi, inti tulisan ini, apakah??
Berbahagialah orang yang sering sakit demam karena para shalafus sholih pun tiap malam berharap agar mereka bisa terkena penyakit penghapus dosa ini..begitu??
Bisaa..

Tapi diatas, hanya secontoh kasus. Generalisirnya, mari kita coba melihat setiap kejadian dari berbagai sisi secara holistik, menyeluruh. Bukan hanya sisi dunia yang nampak, tapi mari, kita coba melihat dari sisi akhirat yang meskipun terkesan tak tampak tapi sebenarnya itulah kesejatian hidup. Ketika logika kemanusiaan kita hanya menemukan sesuatu yang menyesakkan, maka mari, kita coba lihat dengan logika akhirat yang lebih menenangkan. Dan semoga, hanya kesyukuran yang menghiasi kehidupan.

Wallahu ta’ala a’lam

Untuk Apa..??

Untuk setiap doa yang terucap, kelak, akan ada tanya,
‘untuk apa..??’ ~ Salim A Fillah

Ada jawaban yang harus disusun sekarang untuk menjawab pertanyaan kelak. Jawaban pengabulan doa bertahun yang lalu..

There’s a time to landing and there’s a time to take off..
To spread out the wings
To reach and fly higher in the sky..
(August 31th, 2013)

Time to fly again, ne..kid

Tekad yang kuat tak pernah memutuskan hasil yang didapat,
Sama saja, apakah dia orang yang mengalahkan atau dikalahkan masa,
Allah akan membalas setiap usaha seseorang.
[Syair Syauqi]

May Allah shower you with blessings..
– Lovely home –

Continuous Improvement

Kesempurnaan itu nisbi. Akan selalu ada lubang dalam sebuah tambalan. Meski mungkin, lubang yang terbentuk lebih kecil dari lubang yg ditambal. Tak akan pernah ada sebuah sistem yang sempurna. Konsen untuk memperbaiki kekurangan sistem sebelumnya, akan membuat celah kekurangan baru yang pada akhirnya akan ditutup oleh sebuah sistem yang baru lagi. Sebuah tesis yang akan dibantah oleh sebuah antitesis yang pada akhirnya akan menimbulkan sebuah sintesis. Sintesis akan berubah lagi menjadi tesis, memunculkan antitesis baru melahirkan sintesis, ad infinitum. Hingga tercetuslah continuous improvement, sebuah perbaikan yg tiada akhir.

Tak ada kesempurnaan, hanya perbaikan. Tak ada yg paling baik hanya yang lebih baik. Sebuah konsep yang sudah sangat dikenal dalam sebuah sistem termasuk juga dalam sistem kehidupan.

Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin
“motto hidup yg berat Mbak” kata seorang kawan
Tak ada yg berat jika Allah berkehendak membuatnya mudah…

Siklus

“Look deep into the nature and then you’lll understand everything better..” -Albert Einstein

pagi~siang~senja~malam

Kesemuanya tak dapat diperbandingkan. Keindahan dan fungsi yang berbeda melekat pada masing-masing. Komplementer bukan substitusi.

Pagi, penguat. Ia lah yang selalu membuat ketakutan menghadapi hari sirna. Menggantinya dengan sapaan riang ketika kaki keluar menapak jalanan.

Siang, penyemangat. Hanya perlu berjalan sebentar ke tempat dimana sang mentari berada. Menatap langit dan membiarkan cahayanya menembus pori kulit. Mencecap kehangatannya dan kembali melakukan kewajiban.

Senja, pemulih. Terkadang sebuah bulatan oranye besar yang membuatmu berjalan sangat perlahan di sepanjang Kalimalang menghilangkan kepenatan. Terkadang guratan warna awan hasil dispersi sinar yang membuatmu rela mengambil jalan memutar agar bisa lebih lama memandang.

Malam, penenang. Ketika dunia diam, tak banyak celotehan. Ketika Dia turun, dekat.

Tak ada jeda, semua ada makna. Dia sengaja ciptakan siklus ini agar kita mengerti atau Dia mengerti kita hingga terciptalah siklus ini?? Hanya mereka yang mau memikirkan yang bisa memahami…

Alam, selalu menenangkan. Tak peduli seberapa berat pikiran, seberapa sesak dada, lihatlah keluar. Sebentarr saja. Meluaskan pandangan. Membuat lapang..

Dengan begitu, kau pun bisa tersungkur bersujud, takdzim-mu pada Pencipta..

“Kami tiada menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan dalam waktu yang ditentukan..” -46:3

Bekasi-Yogyakarta
Waxing crescent moon

SenyumNya, RidhoNya..Saja..

Ada kata-kata yang tak bisa terucap maupun tertulis karena kau tak tahu apakah Dia akan memberikan senyumNya atau murkaNya jika kau melakukannya. Serta pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang,
“Terlanggarkah batas-batasNya??”
Akhirnya kau menjadikannya sebuah do’a yang kuat dan dalam tapi tak akan pernah memaksa.

SenyumNya, itu kan yang selalu kau damba dalam kehidupan. Tak peduli bagaimana manusia memandang, menilai pada akhirnya kau hanya akan kembali mencari pandanganNya. Meminta izin, menimbang, bertanya,
“Ridhokah Engkau, ya Allah??”

Taat untuk memburu barakah, tak akan pernah mudah. Seperti Ibrahim yang harus menutup matanya ketika akan menyembelih Ismail, seperti Yusuf yang lari dari kejaran Zulaikha karena mengingat Tuhannya, seperti shalafush sholih yang harus menangis dalam ketaatan. Kadang tangan harus mengepal, gigi menggertak, hati bertempur dengan hawa nafsu. Tapi akan selalu ada senyum Allah disana. Ada ‘afiatNya, kekuatanNya, yang akan mengganti segala kepayahan.

~ Monjali, morning after rain in the night. Ketika dua waktu mustajab bertemu…

Indah kan, Perbedaan :)

“When I say that I love You
It means I’ll give the best for You
You means everything to me
Cause I will never leave You
Cause I love You so..
No more fear about the future
Cause I’ll give everything
When I say that I love You”

Salah satu dari dua lagu rohani yang saya hapal di luar kepala karena si Mbak, teman sekamar dulu ketika SMA, sangat sering menyanyikannya. Bukan hanya satu dua, tapi ada beberapa lagu yang sering beliau nyanyikan ketika di kamar. Suaranya bagus, jernih, dengan rentang oktaf yang luas membentang dari rendah sampai tinggi karena beliau memang menjadi anggota paduan suara di tempat kebaktian beliau. Dan entah kenapa, lagu ini akhir-akhir ini sering terngiang di otak bawah sadar meski saat ini sedang berjuang keras untuk membuang musik dari kehidupan.

Dan, gegara hari ini parkir terlalu dekat dengan lapangan basket, saya jadi pengen nge-dribble bola basket lagi. Permainan yang sudah sejak SMA ditinggalkan. Jadi inti cerita ini, saya kangen masa SMA saya..heuhh..salah..

Continue reading

Untuk mereka yang tak pernah ingin kau lihat sedih di wajah mereka…
Untuk mereka yang tak pernah ingin kau lihat kekhawatiran di mata mereka..
Untuk mereka yang selalu ingin kau bahagiakan…
Untuk mereka yang suatu saat ingin kau katakan pada mereka,
“A crown from the light for you, Mom..Dad..”
dengan senyum paling manis yang kau bisa sepanjang hidupmu…
Untuk mereka agar selalu tersenyum….

Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan, Nak…
Do It..!!
May allah guides you in every steps you’ll take..

Sincerily love both of you, おかあさん、おとうさn。。
and, forgive your stupid daughter…

Agar Kutuai Kesholihan Buah Hatiku

Sesungguhnya nikmat Allah tak terhingga. Dan, diantara nikmat yang paling mulia adalah nikmat keturunan atau anak. Tidak ada yang mengetahui keagungan nikmat ini kecuali orang-orang yang terhalang mendapatkannya. Anak juga merupakan amanah bagi kedua orang tua yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Apakah ia menunaikan hak-hak mereka atau melalaikannya?? Allah Ta’ala berfirman,
“Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” [66:6]

Kesholihan dan kesuksesan seorang anak adalah dambaan setiap orang tua. Namun, tentu saja butuh kerja keras dalam mewujudkannya. Untuk setiap ayah dan ibu, ada beberapa poin yang harus diperhatikan dalam mendidik anak:

Continue reading