Rezeki dan Kematian

Kue itu datang tidak tiba-tiba. Ia sudah direncanakan. Ia dibeli, lalu dibawa ke ruangan. Ditempeli lilin, kemudian dinyalakan. Hanya untuk ditiup dan kembali dimatikan. Tubuhnya dipotong menjadi beberapa bagian. Habis lenyap hanya dalam hitungan jam. Umur kehidupan yang singkat namun membuat kesan yang panjang.

“Rezeki itu berbanding terbalik dengan kematian.” begitu Ustadz Adi pernah bilang.

Semakin banyak rezeki yang sudah dirasakan, semakin dekat kematian. Karena salah satu hakikat kehidupan adalah menghabiskan jatah rezeki yang sudah disediakan.

Kue kedua dari kalian ๐Ÿ™‚

Btw, kita belum sempat makan-makan. Saya nya aja yang selalu kelupaan… :mrgreen:

ูŠูŽุง ุฃูŽูŠู‘ูŽุชูู‡ูŽุง ุงู„ู†ู‘ูŽูู’ุณู ุงู„ู’ู…ูุทู’ู…ูŽุฆูู†ู‘ูŽุฉู, ุงุฑู’ุฌูุนููŠ ุฅูู„ูŽู‰ูฐ ุฑูŽุจู‘ููƒู ุฑูŽุงุถููŠูŽุฉู‹ ู…ูŽุฑู’ุถููŠู‘ูŽุฉู‹, ููŽุงุฏู’ุฎูู„ููŠ ูููŠ ุนูุจูŽุงุฏููŠ, ูˆูŽุงุฏู’ุฎูู„ููŠ ุฌูŽู†ู‘ูŽุชููŠ.

Ruaya

Trains are wonderful.To travel by train is to see nature and human beings, towns and churches and rivers, in fact, to see life.

~ Agatha Christie

Progo,

Selama jendela tertutup tirai, sebanyak deret kejadian terlewat dari pandangan.

15 November 2018..

Q.S Al Jin: 1-2

“Katakanlah (hai Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku, bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an). Lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan (Al Qur’an), (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami,'” (QS AL Jin [72]: 1)


Dari kedua ayat tersebut, ada 3 riwayat yang menjelaskan tentang kisah sekumpulan jin yang mendengarkan Al Qur’an dari lisan Rasulullah.

Riwayat pertama tersebut dalam kitab Dala’ilun-Nubuwwah karangan Imam al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi

Saat itu, Rasulullah sedang dalam perjalanan menuju ke Pasar Ukazh bersama para sahabat. Saat itu pula, setan-setan tidak lagi bisa mencuri berita langit dan mulai dihujani panah-panah api hingga mereka kembali kepada kaumnya.

Pertanyaan pun timbul dari kaumnya,
“Apa yang terjadi pada kalian?”
Mereka menjawab,
“Kami telah terhalang dari mendengar berita langit dan panah-panah api menghujani kami.”
Kaumnya berkata,
“Jika demikian halnya, pasti telah terjadi suatu peristiwa yang besar. Maka, pergilah ke belahan timur dan belahan barat lalu carilah penyebab terhalangnya kalian dari berita langit.”

Menyebarlah sekumpulan jin ke belahan timur dan barat untuk mencari penyebab yang menghalangi mereka dari berita langit. Sampai saat ada rombongan jin yang berangkat menuju ke arah Tihamah, yaitu ke arah Rasulullah. Saat itu, Rasulullah berada di Nakhlah dalam perjalanannya menuju ke pasar Ukazh. Beliau sedang menjadi imam sholat subuh sahabat-sahabatnya.

Ketika mendengar bacaan Al Qur’an yang dibaca oleh Rasulullah, mereka berkumpul mengerumuni Rasulullah untuk mendengarkannya. Lalu, mereka berkata,
“Orang ini, demi Allah, dialah yang menjadi penyebab terhalangnya kalian dari berita langit.”

Setelah mereka kembali pulang kepada kaumnya, berkatalah mereka,
“Sesungguhnya kami telah mendengarkan AL Qur’an yang menakjubkan (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami.”

Riwayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah tidak membacakan Al Qur’an kepada jin dan tidak pula Rasulullah pernah melihat mereka.

Riwayat kedua diambil dari kitab Shahih-nya Imam Muslim

Ibnu Mas’ud pernah bercerita ketika beliau ditanya oleh Alqamah,
“Adakah seseorang diantara kalian yang ikut bersama Rasulullah di malam jin?”
Ibnu Mas’ud menjawab,
“Tidak, akan tetapi kami sedang bersama Rasulullah di suatu malam dan tiba-tiba kami kehilangan beliau. Kami pun mencari beliau ke lembah dan lereng yang ada di sekitar situ tapi kami tidak menjumpai beliau. Maka ada yang mengatakan bahwa beliau dibawa pergi dan dibunuh.”

Ibnu Mas’ud melanjutkan kisahnya,
Kami pun melalui malam itu dengan perasaan paling buruk yang pernah dirasakan oleh suatu kaum. Dan, pagi harinya beliau muncul dari arah Gua Hira.”
Ibnu Mas’ud melanjutkan,
“Kami pun bertanya pada beliau,
‘Wahai Rasulullah, tadi malam kami mencari engkau dan kami tidak menemukan engkau. Akhirnya kami menjalani malam paling buruk yang dialami suatu kaum’.

Rasulullah pun menjawab,
‘Telah datang kepadaku utusan jin, lalu aku pergi bersama mereka dan aku bacakan Al Qur’an kepada mereka.'”
Ibnu Mas’ud melanjutkan,

“Lalu beliau membawa kami pergi dan memperlihatkan kepada kami jejak-jejak dan bekas-bekas perapian mereka.”

Ibnu Mas’ud melanjutkan,
“Lalu beliau membawa kami pergi dan memperlihatkan kepada kami jejak-jejak dan bekas-bekas perapian mereka.”

Para sahabat bertanya pada Rasulullah tentang makanan yang dikonsumsi oleh jin, beliau pun menjawab,
“Setiap tulang yang disebutkan nama Allah pada (saat menyembelih)nya yang ada di tangan kalian sedang tulang itu masih banyak dagingnya, dan juga setiap tahi atau kotoran hewan ternak kalian.”
Rasulullah bersabda,
“Maka janganlah kalian bersuci dengan menggunakan keduanya (sebagai sarana cebokmu) karena sesungguhnya kedua barang itu adalah makanan saudara-saudara kalian (dari makhluk jin).”

Dalam riwayat yang kedua ini disebutkan bahwa Rasulullah diundang oleh sekumpulan jin.

Imam Baihaqi kemudian menyelaraskan kedua riwayat tersebut dengan menyebutkan bahwa kedua riwayat tersebut menceritakan 2 peristiwa bukan 1 peristiwa.

Riwayat ketiga dari Ibnu Ishaq.

Dalam riwayat ketiga ini, kisah dimulai dari cerita Rasulullah ketika berada di Thaif. Kita skip saja kisah di Thaif dengan kaum Bani Tsaqifnya

Setelah cerita kesedihan beliau ketika berada di Thaif, beliau pun pulang kembali ke Mekkah. Ketika sampai di Nakhlah, hari sudah malam. Dan setelah tengah malam, beliau pun menunaikan sholat malam. Saat itulah, beliau bersua dengan rombongan jin yang kisahnya disebutkan ALlah dalam Al Qur’an. Rombongan jin tersebut terdiri dari 7 jin yang berasal dari penduduk Nashibin. Mereka pun mendengarkan bacaan Al Qur’an Rasulullah hingga saat mereka kembali kepada kaumnya dengan memberikan peringatan bahwa mereka telah beriman dan menyambut apa yang mereka dengarkan.

Kisah jin ini diceritakan Allah kepada Rasulullah melalui firmanNya,
“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an.” (QS Al Ahqaf [46]: 29)

Sampai dengan firman-Nya,
“dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.” (QS Al Ahqaf [46]: 31)

Demikianlah, kisah yang terkandung dari surah Al Jin ayat 1. Bahkan jin-jin pun, ketika mendengarkan Al Qur’an, hati mereka bisa tersentuh dan kemudian beriman. Apa kabar kita, kaum manusia??

Wallahu ta’ala a’lam..

Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb

Sumur Rawa Laut

Indrayanti, 29 Dzulhijah 1439 H

***

Seperti sumur. Dalam tapi sempit. Itulah, spesialis..
Seperti rawa. Luas tapi dangkal. Itulah, generalis..
Seperti laut. Luas dan dalam. Itulah, ulama.

– Salim A Fillah –

Sumur?? Rawa?? atau Laut??

A Timeless Journey

Indrayanti, setunggal dinten sak derengipun 1 Suro

===

Treasured steps become
Long trails in the sandy path
A timeless journey

===

[Richard Grahn]

By Isnaini Posted in Moment

Hitam Putih Abu

Komposisi hitam atau putih itu lebih mudah.

Jika hitam, maka komposisi hitam=100% dan putih=0%

Jika putih, maka komposisi hitam=0% dan putih=100%

Beda lagi dengan abu-abu.

Jika abu, maka komposisi hitam=x% dan putih=y%

Untuk bisa tahu nilai x dan y nya, harus dibuat dulu persamaan, baru bisa dihitung nilai keduanya.

Namun, meski tahu abu itu lebih rumit, kenapa banyak orang lebih memilih abu-abu??

(Nurisusilawati, 2018)

Pupuk Kesombongan

Pujian adalah pupuk kesombongan. Ia menyuburkan benih-benih kecil kesombongan yang sudah tertanam sejak hari kelahiran.

Memuji hampir sama dengan menenggelamkan. Menenggelamkan kearah ketidaksadaran, melupakan ke-eling-an. Eling bahwa semua bukan kepunyaan. Semua bukan karena diri yang berjuang, semua bukan karena kepintaran, semua bukan karena kebaikan. Semua, karena kasih sayangNya..

Pujian adalah pupuk kesombongan hingga ia menjadi tinggi menjulang lupa dulunya ia hanyalah sebutir benih yang tertanam tak kelihatan.

Maka mengertilah, kenapa Rasulullah tak pernah memuji langsung seseorang dihadapan.

Library room, 2nd floor..

Mengemis di Langit, Bermanis di Bumi

Karena seluruh masalah sudah dilemparkan ke langit, sudah diadukan habis-habisan ke Allah, maka jadilah semanis-manis manusia di bumi.

Hingga yang tersisa adalah kesediaan untuk mendengarkan keluh kesah manusia. Yang tersisa adalah manusia yang paling bisa membantu sesama. Yang tersisa adalah manusia yang paling berguna..

~ Ustadz Salim..