
Melihat manusia salju, warnanya tak sepenuhnya putih. Ada bercak kecoklatan, bercampur warna tanah. Yaa, sama seperti manusia.
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya, merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy Syam [91]: 7-10)

Dalam tubuh manusia, Allah percampurkan dua unsur, jasad tanah dan ruh ilahiah. Dalam jasad tanah, terkandung sifat fujur yang akan selalu mengajak manusia ke arah keburukan. Berbalik dengan ruh ilahiah, yang akan selalu mengajak manusia ke arah kebaikan. Nafs, menjadi nama percampuran kedua unsur tersebut. Nafs inilah yang akan dihitung kelak di hari perhitungan.
Allah tempatkan Nafs di suatu wadah yang bernama, Qalbu. Tarikan positif negatif tanpa henti antara keduanya membuat qalbu akan selalu terbolak balik. Dari sanalah, hadir ketidaktenangan. Nafs yang selalu diusahakan untuk memenangkan sifat taqwa, akan menjadi nafsu Mutmainah. Yang penuh ketenangan.
Qalbu, adalah panglima tubuh. Baiknya qalbu akan membuat Aql berputar terus mencari jalan kebaikan. Hingga akhirnya, jasad akan mengeluarkannya dalam bentuk tindakan. Vice versa.
Jasad pun akan turut mempengaruhi apa yang dipikirkan Aql dan dirasakan qalbu. Jika yang dilakukan seluruh indera adalah baik -melihat yang baik, menyentuh yang baik, mendengar yang baik-, maka Aql akan berpikir yang baik baik. Qalbu pun akan tersentuh dengan kebaikan. Vice versa.
Demikian, Allah ciptakan sebuah reinforcing loop dalam sistem nafs yang antar komponennya bekerja saling menguatkan. Tergantung manusianya, akan menguatkan ke arah baik atau buruk.
Semoga Allah kuatkan selalu..
On the train to Prague, 22.08.2025











