Mind Travelling

“Perjalanan menemui akhir kala sudah menemukan pengertiannya, bukan tempatnya..”

Indah kan, kalimatnya…
Keambiguan makna adalah karakter rangkaian kata.
Gambaran seperti apa yang terbesit ketika membacanya??

Ada perjalanan. Ada tempat yang dituju. Dan ada, sebuah pemaknaan.
Manusia pejalan yang menyukai berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain dan menyatakan akhir perjalanannya adalah sebuah pemaknaan. Akhir, bukanlah sampainya ia pada tempat tujuan. Akhir, adalah sebuah pemahaman tentang jagat alam. Akhir, adalah ketika ada satu puzzle yang lagi-lagi mengisi rangkaian gambaran dunia dalam hatinya.

Tapi, rangkaian kata diatas hanyalah sebuah kalimat buatan manusia yang penafsirannya tak seketat menafsirkan kalimat buatan Sang Pencipta semesta. Continue reading

Syukur Baru Sabar

“Apa-apa yang datang dari Allah, terima dengan senang hati, Dek..”
Kalimat Ibu yang dulu pernah dikatakan sekali padaku. Sekali, dan manjur.

Akhir-akhir Ramadhan, tak cukup sekali Ibu mengatakannya lagi. Dua sampai tiga kali beliau ulangi.
Untuk siapa??
Untuk anaknya yang paling rewel sak donyo..

“Alhamdulillah”
Adalah ucapan pertama yang harus diucapkan ketika terjadi tumbukan dalam hidup. Setelah itu baru,
“Inna lillahi..”
Begitu, rumus sekuensialnya..

Untuk mensyukuri, kebaikan yang akan datang kelak. Agar, saat kalimat pertama tersebut yang terucap, Allah utus malaikat membangun sebuah rumah di surga. Agar, nikmat yang semula minus berubah menjadi plus. Yang plus menjadi plus plus.

Begitu pun, kenapa Allah menghendaki kata “hamdun” bukan “syukrun”. Agar tak ada kufur nikmat di dalam ucapan cinta untukNya..

“Apa-apa yang datang dari Allah, terima dengan senang hati, Dek..”
Kalimat yang akan dipegang sampai mati, insya Allah. Kebaikan, agar mengalir pada yang memberi kebaikan. Ibu…

[14:7]

Gerak Semesta

“Mbak Nuri, ayo duduk diluar. Berani gak?” kata si Om
“Ehmm..Coba deh Om” kataku sembari mencoba berdiri. Memegang si kreki.

Sebuah tanjakan cukup tinggi yang belum berani kulewati sendiri. Si Om menggotong kursi yang semula kududuki keluar. Meletakkannya di bawah rindangnya pohon mangga di halaman. Memilih tempat yang sedikit terkena sinar matahari. Dan tarra…duduklah aku disana. Di bawah rindangnya pohon mangga. Mendengarkan celoteh si Om, si Mbak, dan adek sepupu yang duduk di sebuah kursi panjang. Menikmati lagi duduk di bawah langit biru. Menikmati lagi hangatnya sinar matahari menyentuh kulit kaki.

Continue reading

Zaid Kecil, Batu, dan Hujan

Penuh kekesalan, Zaid kecil berlari keluar dari ruang kelas. Lagi-lagi, akalnya tak mampu mencerna pelajaran.

Bodohkah si Zaid kecil?? Tidak. Cerdas ia. Hanya saja, beratnya beban kehidupan yang ditanggungnya telah melemahkan akalnya. Begitu sulitnya si Zaid kecil menerima pelajaran meski sepele karena ada beban di jiwanya yang belum keluar.

Dalam perjalanannya, turunlah si hujan. Ke dalam gua ia berlindung. Dalam istirahatnya, ia mendengar suara lembut tetesan air hujan menimpa sebuah batu. Dialihkan pandangnya ke arah sumber suara. Tertegunlah ia melihat pemandangan di depannya. Sebuah batu yang berlubang karena tetesan air hujan yang lembut, tipis, konsisten.

Hikmah Allah, Zaid kecil merenungkannya,
“Kalo bukan karena kuasa Allah, tak mungkin si hujan kecil mampu melubangi si batu keras.”

Lalu, kembalilah ia ke madrasah menemui gurunya. Menceritakan segala yang ia lihat.

Tahu apa jawab gurunya, Nak??
“Sebuah batu pun jika terus menerus terkena tetesan air hujan bisa berlubang juga.”
Begitu??
Bukan Nak. Belajarlah melihat lebih dalam ke arah hakikat, bukan hanya yang tampak.
“Perhatikan, air saja yang cuma menetes karena ia ingin patuh kepada Allah, mampu menjadikan batu yang keras luar biasa itu bisa berlubang. Apalagi kalo kamu mau patuh pada ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wattaqullah wayu’alimukumullah.”

Begitu terkuak rahasianya, cepatlah Zaid kecil menangkap pelajaran. Hingga, jadilah sebuah buku 18 jilid, Fathul Bari, syarah kitab Shahih Bukhari.

Itulah Nak, salah satu esensi taqwa..

~ hujan berhenti, ayo pulang..Blui-chan..

[Ramadhan 1438 H] Nabi Yusuf dan Ramadhan

Imam Ibnu Jauzi menyampaikan bahwa,

Ramadhan terhadap bulan-bulan yang lain sebagaimana Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya. Nabi Ya’qub mempunyai 12 anak, jumlah bilangan bulan 12 pula. Sebagaimana Nabi Yusuf adalah anak yang paling istimewa, begitu pula dengan Ramadhan. Sebagaimana Allah mengampuni dosa seluruh anak-anak Ya’qub hanya karena do’a Nabi Yusuf, maka begitu pula Ramadhan. Dengan satu bulan tersebut, terampunilah dosa di 11 bulan yang lain.

Sebagaimana Allah paling menyukai sebuah bejana yang paling bening dan bersih, begitu pula hati yang disukai Allah.

🙂 Mohon maaf lahir batin jika ada kesalahan dalam bertulis 🙂

|| purifying the heart ~ welcoming ramadhan ~ pursuing lailatul qadr ||

~ L-Room, ketika semua sudah mudik pulang dan hanya tersisa 2 orang di ruangan..

Darimana Manusia Belajar Menjadi Manusia??

“Manusia perlu belajar menjadi manusia dulu sebelum belajar tentang AGAMA…”

Itu, sepotong awal dari sebuah share status panjang seorang kawan. Sebuah quote dari seorang filsuf Barat, sepertinya. Kelanjutannya apa, saya sudah lupa. Karena terlanjur perih membaca awal kalimatnya. Saat itu hanya terlintas tanya,
“Darimana manusia belajar menjadi seorang manusia??”

Ar Rahman: 2-3.
Penyebutan tentang pengajaran al Qur’an, Allah dahulukan dibandingkan dengan penciptaan manusia. Kenapa??

Dalam Zhilal-nya, Sayyid Qutb menerangkan. Nilai-nilai dari Al Qur’an itulah yang mengisi manusia hingga manusia bisa menjalankan fungsinya sebagai khalifah. Itulah kenapa, nikmat tertinggi yang disebutkan pertama adalah pengajaran Al Qur’an bukan penciptaan manusia. Tanpa nilai-nilai dari Al Qur’an, manusia hanya sepotong daging yang berjalan di atas tanah. Dan Al Qur’an, adalah bagian dari agama.

Wallahu’alam..

Fafiruu Ilallah..

Jika memang tidak sedang baik-baik saja, bilang saja tidak sedang baik-baik saja.
“Pada siapa??”
Pada yang Maha Kuasa

Berpura-pura baik-baik saja dan mengendapkannya, pada akhirnya hanya akan menjadi racun semata.

Sujudlah padaNya, merunduk, tunduk. Meminta maaf, bercerita, merengek, mengeluh, meminta. Apa saja. Keluarkan semua yang menyesak dalam dada.

Allah pun suka. Allah pun gembira ketika ada hamba yang kembali padaNya. Allah pun mendengar, semua. Allah pun menjawab, satu persatu. Meski terkadang, Ia tunda sebentar karena Ia suka pada indah rengekannya.

Karena begitulah, manusia memang sengaja diciptakan dengan pandangan sektoralnya. Keintegralan hanya milikNya.
Karena begitulah, urusan kehidupan sengaja diciptakan bukan untuk diselesaikan, tapi untuk membuat manusia terduduk pasrah, menyerah pada Al Jabbar.

Mengangkat tangan, memohon, mengetuk, dan mengembalikan segala urusan padaNya..

Cukuplah ketika tahu bahwa, Allah suka. Allah suka pada mereka yang kembali padaNya.
Cukuplah ketika tahu bahwa, Allah suka. Karena yang sejatinya dicari adalah cintaNya.
Cukuplah ketika tahu bahwa, Allah suka. Maka Allah akan memberikan apapun yang diminta selama itu baik bagi hambaNya..

Ruh Ilahiah~Balance~Jasad Tanah

Kalau hanya ingin meninggikan ruh ilahi hingga mencapai langit tanpa mempedulikan jasad tanah itu mudah. Hanya tinggal hidup menyendiri, lalu silakan memfokuskan diri untuk melakukan ibadah mahdhoh. Sholat, puasa, berdzikir.

Kalau hanya ingin memenuhi keinginan jasad tanah tanpa mempedulikan ruh ilahiah itu mudah. Silakan mencicipi aneka ragam kesenangan yang disukai jasad tanah.

Sayangnya, allah-al qur’an-iman-islam selalu menghendaki terjadinya keseimbangan. Sebagaimana telah Allah sebutkan nama-namaNya yang saling menyeimbangkan di awal surah Jumu’ah. Al Malik-Al Qudus-Al ‘Aziz-Al Hakiim.

Al Malik dan Al ‘Aziz, membuat hambaNya harus bersikap khauf.
Al Qudus dan Al Hakiim, membuat hambaNya bersikap roja’.
Ada jarak, ada kedekatan diantara nama-namaNya. Keduanya, tidak bisa berdiri sendiri. Keduanya, harus ada. Seimbang.

Begitu pula, antara ruh ilahi dan jasad tanah. Dua unsur dalam tubuh manusia ini harus berjalan seimbang. Dan ini, tidak mudah. Menjaga agar ruh ilahi bisa terbang mencapai langit dan jasah tanah tetap menjejak bumi. Akan ada saling tarik ulur diantara keduanya.

Tapi, ‘ajruki ‘alaa nashobik…
Allah tahu seberapa jauh usaha. Cukup, terus saja memberikan yang terbaik yang dibisa. Allah tahu, selalu tahu. Semoga Allah kuatkan, dengan bantuanNya..

= L Room =

“Ibu, Allah Dimana??”

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi dengan langit pertama.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi dan langit pertama dengan langit kedua.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi, langit pertama, dan langit kedua dengan langit ketiga.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi, langit pertama, langit kedua, dan langit ketiga dengan langit keempat.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi, langit pertama, langit kedua, langit ketiga, dan langit keempat dengan langit kelima.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi, langit pertama, langit kedua, langit ketiga, langit keempat, dan langit kelima dengan langit keenam.

Sebuah cincin dilempar ke sebuah gurun pasir nan luas. Itulah, perbandingan bumi, langit pertama, langit kedua, langit ketiga, langit keempat, langit kelima, dan langit keenam dengan langit ketujuh.

Diatas langit ketujuh akan ada Sidratul Muntaha. Gabungan antara bumi dan seluruh langit dibanding dengan Sidratul Muntaha, seperti cincin yang dilempar ke sebuah padang pasir nan luas.

Diatas Sidratul Muntaha ada lautan yang jika dibanding dengan gabungan bumi, seluruh langit, dan sidratul muntaha, seperti cincin yang dilempar ke sebuah padang pasir nan luas.

Terbayangkah, Nak.
Kita, hanya seperti setitik debu di dasar lautan.

Ayat kursi, sudah hapal kan..
“wasi’a kursiyuhus samawati wal ard”
Kursiy itu, pijakan kaki raja di singgasana.
Seberapa besar pijakan kaki Sang Raja??
Sepenuh langit dan bumi dan segala yang ada di bawahnya.

Dan disanalah, di atas ‘Arsy, Allah bersemayam.

Allah, besar sekali kan Nak.
Maka, di dalam hatimu yang suci itu, besarkan Rabb-mu. Biarkan Allah memenuhi ruang hatimu. KebesaranNya akan mengecilkan yang lainnya. Hingga kau pun mampu, untuk selalu berjalan dengan kokoh, dengan tenang melintasi permukaan bumi.
Jagalah Allah, maka dimana pun kau berada, Allah akan selalu ada. Menjagamu, melindungimu.

Karena orang tuamu, tak bisa selalu berada di sisimu…

= L Room =

Ibu dan Semester 3

Bandung. Semester 3.
Masa paling down sepanjang sejarah perkuliahan. Full sks, organisasi, kepanitiaan. Itu, sama dengan semester-semester sebelumnya. Hanya, manusia tak pernah menduga skenario seperti apa yang akan Ia berikan padanya. Seorang kawan meminta untuk ikut bantu-bantu di bisnis yang akan dirintisnya. Fix. Jadilah pembantunya.

Waktu berjalan.
Blank akut. Terduduk lemas di depan kelas. Sebegitu banyak amanah. Kuliah, amanah orang tua, yang harusnya jadi prioritas utama terbalik menjadi prioritas akhir.

Ajaibnya.
Ibu, yang biasanya hanya menelepon sebulan sekali memberi kabar uang jajan sudah tertransfer, pada masa itu menjadi intens sekali menelepon. Hampir tiap hari malah. Padahal, tak pernah ada cerita curhatan hati pada Ibu. Walhasil, tiap kali Ibu menelepon, tiap kali pula harus menahan suara agar tertampak baik-baik saja.

Saat itulah, muncul pertanyaan,
“Kenapa bisa seperti itu?? Bisakah beliau merasakan perasaanku??”

Tentu saja. Ketika melahirkan bukankah mitokondria Ibu terbawa ke dalam tubuh. Perasaan Ibu pada anaknya, seperti perasaan Ibu pada dirinya sendiri. Perasaan anaknya, akan menjadi perasaannya juga. Maka, jaga baik-baik perasaanmu. Karena Ibu tahu..

~ hanya sedang merindukan Ibu…