Mencintai Karena Allah

Assalamua’alaikum wr wb,,, 😀

Notes:
Mencintai disini dalam arti umum bukan dalam arti khusus antara laki-laki dan perempuan. Orang Barat telah menyempitkan makna mencintai hanya sebatas cinta seseorang laki-laki pada perempuan atau sebaliknya. Dalam Islam mencintai mencakup keseluruhan. Mencintai saudara, orang tua, sahabat, kakek, nenek, paman, bibi, dan lain sebagainya.


==========================================================================================

Emang bagaimana tandanya kalo kita mencintai seseorang karena Allah??
Aku suka yo suka aja. Gak karena dia kaya, gak karena dia pintar, gak karena dia cakep. Itu bisa disebut suka karena Allah gak??
Satu pertanyaan jaman dulu sekali yang membuatku speechless gak bisa jawab.
Mencintai karena Allah berarti mencintai seseorang karena kita mencintai Allah atau alasan sesungguhnya adalah Allah. Seseorang yang mencintai sesuatu akan berbuat apa yang diperintahkan oleh sesuatu yang kita cintai (Ini kita jadikan dasar).
Kita ambil satu contoh, Cinta pada orang tua.
Secara naluriah (kalo kita mau dengar kata hati nurani) semua anak pasti akan mencintai orang tua.
Trus apa beda kita mencintai orang tua kita secara alamiah dengan kita cinta mereka karena Allah?
Secinta-cintanya seorang anak pada orang tua pasti akan ada kondisi kita merasa kesal pada orang tua kita. Melihat sifat seorang anak yang memang punya kecenderungan besar untuk durhaka pada orang tua. Seumpamanya kita lagi enak-enaknya nonton filem ni, tiba-tiba si ibu nyuruh kita beli sesuatu di warung atau si bapak yang suka marah-marah karena sebab-sebab sepele. Atau ketika kita merawat orang tua kita yang sudah uzur yang pasti membutuhkan kesabaran ekstra. Dalam kondisi kayak tadi pasti kadang-kadang bobol juga pertahanan diri kita. Nah, kita lihat apa yang Allah perintahkan pada kita tentang orang tua kita.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al Isra: 23)
Allah memerintahkan pada kita untuk berbuat baik pada orang tua kita bahkan untuk berucap “ah” atau bisa dibilang berkata dengan nada keras pada mereka saja Allah sudah melarang. Kalo kita mencintai orang tua kita karena Allah kita pasti akan segera teringat pada ayat ini dan berusaha meredam hawa nafsu amarah angkara murka kita. Dan pada akhirnya yang keluar dari mulut kita adalah apa yang Allah inginkan.
Nah, sekarang untuk kasus seorang anak yang benar-benar berbakti pada orang tuanya. Apapun kehendak perintah mereka pasti akan dia turuti. Bagaimana kita tahu kalo kecintaan kita ini benar-benar karena Allah atau tidak??
Ini pun ada 2 kondisi:
1. Orang tua anak ini ilmu agamanya bisa dibilang masih rendah. Suatu saat orang tua anak ini memerintahkan anak ini berbuat sesuatu yang melanggar aturan Allah. Jika anak ini mencintai orang tuanya karena Allah pasti dia akan menolak perintah orang tuanya dengan bahasa dan tingkah laku yang tidak melukai hati mereka. Seperti perintah Allah dalam QS Luqman: 15
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

2. Orang tua anak ini benar-benar paham tentang agama. Keduanya ma’rifat pada Allah sehingga mereka tidak pernah memerintahkan sesuatu yang melanggar aturanNya. Bagaimana kita tahu kalo cinta ini benar-benar karena Allah??
Kalo kondisinya seperti ini kita kembali ke macam cinta versinya Imam al Ghazali.
Mencintai seseorang karena sesuatu di luar obyek cinta yang tidak sebatas dunia tapi terkait dengan akhirat.
Dalam kasus ini, jika anak ini mencintai orang tua mereka dengan tujuan mendapat keridaan Allah atas bakti anak tersebut kepada orang tuanya maka bisa disebut bahwa anak ini adalah pecinta Allah. Dalam konteks cinta ini, bisa terjadi tujuan duniawi bergabung dengan tujuan ukhrawi dan tetap termasuk dalam cinta karena Allah. Untuk tahu lebih jelasnya tanyakan pada hati anda sendiri..
Kita ambil contoh lain. Cinta pada saudara, sahabat, dkk
Masih menurut al Ghazali, manusia bisa mencintai seseorang karena ‘sesuatu’ yang dikandung obyek cintanya tersebut. Jadi bukan karena manfaat tertentu yang bisa diterimanya. ‘Sesuatu’ ini bisa berupa fisik, akal, atau karakter. Atau bisa jadi karena adanya kesamaan dan kecocokan karakter batin yang tersamar. Sesuatu secara naluriah akan tertarik pada sesuatu yang serupa. Nah, cinta yang seperti ini bisa dikatakan bukan cinta karena Allah. Karena cinta ini bisa dibilang tidak berdasar. Semua hanya terjadi secara alamiah. Sedang mencintai karena Allah selalu mempunyai tujuan yaitu Allah.
Lalu bagaimana kita bisa tahu apakah tujuan kita mencintainya adalah Allah atau bukan??
Kalo tujuan kita Allah otomastis kita akan bertindak sesuai kehendak Allah. Kita lihat lagi aturan-aturan Allah tentang persaudaraan. Tentang hak dan kewajiban yang Allah tetapkan untuk kita jalani.
Contoh kasus:
Saudara kita berbuat kesalahan fatal pada kita. Apa yang Allah perintahkan pada kita dalam kondisi seperti ini??
QS Ali Imran: 134
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Allah lebih menyukai orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Maka jika kita mencintainya karena Allah kita pasti akan melaksanakan hal yang disukai Allah.
Kita melihat saudara kita sudah keluar dari batas aturan Allah. Kalo kita mencintainya karena Allah apa yang akan kita lakukan??
QS Al Balad: 12-17
“Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.”
Sudah pasti akan mengingatkannya. Dengan kemungkinan resiko sahabat kita akan menjauhi kita. Itu sebagai bukti kasih sayang kita pada mereka. Kita tidak ingin saudara kita jauh dari Allah.
Dan masih banyak lagi kasus dalam kehidupan sehari-hari. Coba cari dalam kehidupan nyata kalian 😀
Dan bukti yang paling nyata kalo kita mencintai saudara kita karena Allah adalah penyebutan nama-nama saudara kita dalam doa-doa kita kepada-Nya. Sudahkah kalian menyebut nama saya dalam doa kalian?? Hehehe… :mrgreen:
Wallahua’alam…

Advertisements

4 comments on “Mencintai Karena Allah

  1. Pingback: Mencintai Karena Allah (non-mahram version) | Setitik Cahaya di Rimba Raya Dunia Digital

  2. Pingback: Mencintai Karena Allah | Life T L

  3. Pingback: Mencintai Karena Allah | Just Collecting Good Stuff Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s