Agar Al Quran Menjadi Teman

Assalamua’alaikum wr wb,,, 😀

Kurang lebih 1 tahun lalu di kereta api Argo Parahyangan dalam perjalanan malam menuju kota Jakarta, aku bertanya pada seorang saudara
“Mbak suka baca buku apa?”
Beliau berpikir sejenak lalu menjawab
“Tafsir Al Qur’an”
Aku tertegun dengan jawabannya. Memang sepanjang perjalanan beliau tak pernah berpisah dengan mushaf Al Qur’an. Dibacanya ayat demi ayat yang tertulis dalam mushaf-dan kadang dengan suara sedikit serak karena menahan air mata-meskipun beliau harus berdiri karena tidak mendapat tempat duduk.

Penyakit Kronis Umat

Menurut Dr. Majdi al-Hilali, dalam bukunya “Agar Al Qur’an Menjadi Teman”, beliau mengatakan bahwa penyakit kronis umat Islam saat ini adalah iman. Jika keimanan telah lumpuh maka yang akan terjadi adalah hawa nafsu akan menguasai mereka. Semakin dekat kepada hawa nafsu berarti semakin jauh dari Allah SWT. Semakin jauh dari Allah SWT berarti semakin jauh dari pertolongan-Nya dan semakin dekat dengan azab-Nya.

Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Abu Daud
“Bila kalian berjual beli barang mewah, senang beternak dan bercocok tanam, lalu kalian meninggalkan jihad maka Allah akan membuat kalian terpuruk dalam kehinaan. Dia tidak akan membebaskan kalian sebelum kalian kembali kepada agama kalian.”

Dan tidak ada terapi untuk mengatasi persoalan keimanan tersebut kecuali iman itu sendiri. Jika penyakit keimanan tersebut sudah terobati maka murka Allah akan menjadi ridho Allah.

“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS Ar Rum: 47)

Iman adalah sumber tenaga untuk melaksanakan berbagai tugas dan kewajiban. Iman adalah jantung umat Islam.
Lalu bagaimana untuk mengembalikan keimanan yang melemah? Al Qur’an adalah salah satu sumber keimanan. Al Qur’an adalah sumber energi yang mempengaruhi hati. Ia adalah kalam dari Tuhan Penguasa Alam.

Rawai’ Iqbal mengatakan dalam kitabnya al-Nadawi
‘Al Quran lebih dari sekedar kitab. Jika ia merasuk ke dalam hati, maka manusia akan berubah menjadi lebih baik. Dan bila manusia berubah maka dunia pun berubah.’

Mari kita lihat generasi awal Islam. Mereka adalah generasi yang sukses mengantar Islam menuju masa kegemilangan. Kunci mereka adalah Iman dan Ketuhanan. Rahasia di balik semua itu adalah Al Qur’an. Mereka memperlakukan Al Quran dengan tepat. Hati mereka menyambut baik.

Sayyid Quthub mengatakan dalam buku terakhirnya, Muqawwimat al-Thashawwur al-Islami
“..Mereka adalah generasi yang akrab dengan Al Quran, hidup dengan jalan Al Quran, menapaki substansi yang ditunjukkan oleh Al Quran. Al Quran meliputi segala sesuatu, menjadi sumber segala sesuatu, dan segala sesuatu terhubung dengannya, darinya segala sesuatu terbentuk. Di dalam itu semua kutemukan hakikat Ketuhanan menjelma menjadi sejumlah manusia. Kutemukan generasi rabbani yang selalu terhubung dengan Allah, hidup bersama Allah dan untuk Allah. Tidak ada dalam hati dan kehidupan mereka selain Allah..”

Suatu ketika Nabi pernah mengatakan kepada Hudzaifah bin al-Yaman tentang perpecahan dan sengketa dalam tubuh umat yang akan terjadi sepeninggal beliau. Hudzaifah berkata, “Apa yang harus kulakukan jika aku mendapati masa itu?” Tiga kali Hudzaifah berkata demikian. Tiga kali pula Nabi menjawab, “pelajari Al Quran dan amalkan. Kau akan mendapat jalan keluar.” (HR Abu Daud, al-Nasa’i, dan al-Hakim)

Maka, bukalah diri kita kepada Al Quran. Percaya dan yakinlah bahwa Al Quran adalah satu-satunya sumber petunjuk, iman, dan perubahan.

Imam Bukhari pernah mengatakan, “Tidak ada yang bisa mencicipi aroma Al Quran kecuali orang yang mempercayainya.”

“Orang-orang yang telah Kami beri Al-Kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya. Mereka mempercayainya.” (QS Al Baqarah: 121)

Dan inilah langkah awal yang bisa kita lakukan untuk mengambil manfaat dari Al Quran yaitu mempercayai dan meyakininya sebagai satu-satunya sumber petunjuk, penyembuhan, dan perubahan diri. dan ini hanya akan berhasil jika kita merenungi tujuan utama turunnya Al Quran, mencermati kejadian-kejadian yang berkaitan dengan pengaruh Al Quran.

Rasulullah, Sahabat, dan Al Quran

Di setiap perjumpaan antara hati dan Al Quran, iman akan bertambah, cahaya semakin benderang, semangat semakin menyala, dan dorongan untuk beristikamah di jalan Allah semakin kuat.

Rasulullah

Nabi selalu membaca Al Quran secara tenang, perlahan-lahan, dan penuh perenungan. Dengan cara itu hati akan terbuka menerima kilatan cahaya Al Quran, menyerap curahan iman dari mata airnya. lalu terciptalah pertautan sejati antara Al Quran dengan hati, masuklah ke lubuk hati sedikit demi sedikit, menghidupkan hati secara sempurna.

“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kau membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan.” (QS Al Isra: 106)

Nabi membaca satu surah secara perlahan. Setiap huruf di akhir ayat dibaca panjang, memberi jeda bagi akal untuk mencerna dan memahami, memberi ruang bagi hati untuk berdialog dan memetik manfaat dari Al Quran. Bila serangkaian ayat menyebut surga, beliau berdoa dan menampakkan wajah gembira. Bila menyebut neraka, beliau berdoa memohon perlindungan.
Nabi selalu menjaga agar selalu membaca Al Quran setiap hari. Betapapun sibuk, Rasulullah selalu menjadikan Al Quran sebagai prioritas utama. Beliau selalu menginginkan agar para sahabat tidak menyibukkan diri selain dengan Al Quran, sehingga Al Quran benar-benar dapat menunjukkan secara sempurna daya pengaruhnya terhadap hati, jiwa, akal dan selanjutnya bisa menyebabkan perubahan pada tingkah laku mereka.
Nabi tidak hanya menganjurkan para sahabat untuk membaca Al Quran tapi juga mengajarkan maknanya pada mereka. Arti istilah tadarus, yang saat ini identik dengan membaca Al Quran, menurut Al Ghazali sebenarnya adalah membaca, memahami, merenungkan, dan menguatkan pemahaman tentang sunatullah dalam diri kita dan alam semesta, berusaha mengetahui pesan, hukum, ganjaran dan hukuman, janji dan ancaman, serta segala hal yang menyangkut kebutuhan kaum muslimin. Nabi selalu memperingatkan para sahabat agar tidak mengubah kecenderungan mereka membaca Al quran dari mangambil manfaat hakiki Al Quran dengan hanya sekedar membaca untuk mendapat pahala. Nabi juga selalu mengingatkan sahabat untuk menciptakan kondisi yang kondusif agar bisa berkonsentrasi dan memudahkan pemahaman.

Sahabat

Al Quran telah menjadi denyut nadi dan jantung kehidupan para sahabat, menjadi bahan pokok kehidupan hati mereka, menjadi perhatian utama, melebihi kebutuhan terhadap kebutuhan fisik mereka. Lihatlah kaum muslimin ketika mereka berhasil membebaskan Makkah bersama Rasulullah. Mereka melakukan perjalanan panjang dan melelahkan dari Medinah, setelah itu apakah mereka beristirahat? Mereka langsung melaksanakan shalat di sekitar Kabah adn membaca Al Quran sebagai ungkapan rasa syukur.
Meskipun para sahabat sering membaca Al Quran tidak berarti mereka langsung menghapalnya. Setiap 10 ayat Al Quran yang mereka pelajari dari Rasulullah, para sahabat tidak akan melewatinya sebelum benar-benar memahami dan mengamalkannya.

Kata Abdullah ibn Umar,
“Kami adalah generasi awal umat ini. Seorang lelaki terbaik diantara kami bahkan tidak berani menghapal lebih dari satu surah Al Quran karena khawatir tidak mampu mengamalkannya. Berbeda dengan generasi akhir umat ini. Al Quran terasa ringan bagi mereka. Semua orang membacanya, tapi tidak mengamalkan isinya.”

Abu al-‘Aliyah berkata,
“Pelajarilah Al Quran per lima ayat. Kau akan lebih mudah menghapalkannya. Pertama kali Jibril mendatangi Rasulullah juga menyampaikan 5 ayat yang berurutan.”

Pesan sahabat tentang Al Quran

Al bin Abi Thalib, “Maukah kalian kuberi tahu, siapa sebenarnya orang yang betul-betuk mengerti agama? Dialah orang yang tidak membuat orang lain berputus asa mendapatkan rahmat Allah, tidak memberi kesempatan orang lain berbuat maksiat, tidak membuat orang lain merasa bebas dari pengawasan Allah, tidak meninggalkan Al Quran..ingatlah, tidak ada kebaikan apapun dalam ibadah yang dikerjakan tanpa ilmu. Tidak ada kebaikan apapun dalam ilmu yang dipelajari tanpa pemahaman. Dan tidak ada kebaikan apa pun dalam Al Quran yang dibaca tanpa perenungan.”

Abdullah Ibnu Mas’ud berpesan, “Al Quran diturunkan untuk diamalkan. pelajarilah ia sebagai bentuk pengamalan. Ada salah seorang diantara kalian yang membaca Al Quran dari awal sampai akhir tanpa melewatkan satu huruf pun. Tapi sungguh ia telah melewatkan pengamalannya.”

Khabab ibn al-Aratt berkata kepada salah seorang tetangganya, “Hei, kemarilah! Dekatkan dirimu kepada Allah semampumu. Dan kau tidak akan bisa mendekatkan diri kepadaNya kecuali dengan sesuatu yang paling dicintaiNya, yaitu Al Quran”

Beberapa Faktor Penyebab Kita Tidak Dapat Memetik Manfaat dari Al Quran

Faktor terbesar dari semua faktor adalah karena kita tidak percaya bahwa Al Quran mampu menyelesaikan semua masalah dan mengembalikan kita ke puncak kemuliaan. Dan diantara faktor-faktor yang menyebabkan lemahnya kepercayaan kita terhadap Al Quran antara lain

1. Citra yang Kita Warisi Tentang Al Quran
Ingat zaman kita kecil? Apa yang ada di benak kita tentang Al Quran?
Dapat digunakan untuk mengusir setan, bila ayat-ayatnya ditulis dan dicelupkan ke dalam air maka dapat digunakan untuk menyembuhkan orang sakit. Dari kecil kita lebih sering mendengar orang tua kita mendengarkan musik dari radio atau menonton televisi, dan Al Quran tertata dengan rapinya di pojok ruangan tanpa pernah disentuh. Melihat kelakukan orang tua seperti itu maka tak heran bahwa seorang anak akan berpikir bahwa Al Quran adalah sesuatu yang tidak terlalu penting. Dari kecil kita hanya diajari untuk membaca dan menghapal Al Quran tanpa harus memahami isinya!
Itulah beberapa kesalahan pencitraan tentang AL Quran sejak dini.

Umar Ubaid Hasanah berkata
“Kesan yang tertanam di benak kita pada masa kanak-kanak tentang Al Quran adalah bahwa ia hanya dibaca di sisi orang yang tengah meregang nyawa atau telah meninggal, ketika berziarah kubur, atau memohon berkah untuk kesembuhan orang yang sakit. Al Quran masuk hanya sampai ke mulut, tak sampai ke hati.”

2. Menjadi Rutinitas
Sudah menjadi watak manusia jika sesuatu telah terbiasa maka kita tidak lagi tergerak untuk mengkaji dan mengungkap rahasia-rahasianya.
Kita sedari kecil sudah terbiasa mendengar Al Quran dibaca secara tartil atau dilagukan. Karena terlalu sering didengar maka tak jarang kita jadi kurang memperhatikan makna yang terkandung di dalamnya.

3. Melupakan tujuan Al Quran Diturunkan
Tujuan utama diturunkan AL Quran adalah membimbing manusia dan memperbaiki keadaan mereka ke jalan yang diridhai Allah dan surgaNya. Maka Allah menurunkan Al Quran sebagai risalah yang ringkas namun dengan kandungan makna yang padat sehingga mudah dibaca dan dihapalkan. Karena itulah Al Quran harus dibaca secara cermat dan perlahan-lahan agar maknanya dapat dipahami baik oleh pembaca maupun pendengar.

“Al Quran kami turunkan secara berangsur-angsur agar kau membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan.” (QS Al Isra: 105)

Ketika tujuan diturunkannya Al Quran diturunkan telah dilupakan maka sesuatu yang seharusnya hanya dijadikan sebagai perantara (membaca dan menghapal) akan dipandang sebagai tujuan yang sebenarnya. Membaca dan menghapal memang penting tapi prioritas akhir adalah bagaimana agar ayat-ayat yang sudah kita baca dan kita hapal tersebut dapat kita amalkan.

Ibnu Taimiyah pernah berkata tentang tujuan turunnya Al Quran ini
“Tak samar lagi bagi orang yang berakal cerdas dan berhati jernih bahwa tujuan Al Quran diturunkan adalah untuk diamalkan. Siapa yang mengamalkan Al Quran dia pantas disebut ahli Al Quran. Orang yang membacanya dituntut untuk memahami maknanya. Sebab itulah Allah memerintahkan agar kita tidak tergesa-gesa sehingga pemahamannya memancar dari lubuk hati dan jejak-jejak keimanan akan muncul dalam perilaku.”

Ibn Al Qayyim mengatakan
“Ahli Al Quran adalah mereka yang mengetahui dan mengamalkan Al Quran meskipun mereka tidak menghapal ayat atau surahnya. Orang yang hapal Al QUran tapi tidak memahami dan mengamalkan isinya sama sekali tidak punya hak untuk disebut ahli Al Quran meskipun mampu mencanangkan huruf-hurufnya sekuat memancangkan anak panah.”

Hasan Al Bashri berkata
“Kalian membuat tingkatan-tingkatan membaca Al Quran. Kalian menempuh tingkatan-tingkatan itu dalam waktu semalam. Padahal orang-orang sebelum kalian memandang Al Quran sebagai surat dari Tuhan. Mereka merenungi isinya pada malam hari lalu mereka melaksanakannya pada siang hari.”

4. Sibuk Dengan Ilmu Lain
Rasulullah sangat mengharapkan para sahabatnya tidak disibukkan oleh ilmu lain selain Al Quran agar pesan-pesan Al Quran dapat diamalkan secara sempurna. Seiring berjalannya waktu sejak kematian Rasulullah SAW dan menyebarnya Islam ke berbagai daerah maka terjadilah persentuhan dengan berbagai budaya dan ilmu dari berbagai bangsa.
Filsafat dan logika Yunani, mitologi dan pemikiran Persia, cerita-cerita Israiliyat Yahudi dan teologi Nasrani, serta hal-hal lain hasil peradaban dan budaya dunia, semua meresap ke berbagai produk keilmuan sehingga Al Quran tidak menjadi satu-satunya rujukan tunggal dalam kehidupan. Itulah yang membedakan generasi kita dengan generasi sahabat. Bukan berarti kita tidak boleh mempelajari ilmu-ilmu lain hanya saja upaya untuk memetik manfaat dari Al Quran harus kita tempatkan di urutan teratas, lalu beranjak ke sunnah, dan baru ke ilmu-ilmu yang lain yang memberi manfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat.

5. Tak Mempengaruhi Perilaku
Diantara yang membuat melemahnya kepercayaan terhadap Al Quran adalah kenyataan bahwa tingkah laku seseorang yang dikenal dekat dengan Al Quran bertentangan atau tidak mencerminkan nilai-nilai Al Quran sama sekali. Jika kita mengatakan pada masyarakat bahwa kita harus memetik manfaat dari Al Quran sedangkan akhlak kita jauh dari Al Quran, otomatis ajakan kita tidak akan menyentuh jiwa mereka.

6. Terbujuk Rayuan Setan
Pernah mengalami hal-hal seperti ini ketika hendak membaca atau pada saat membaca Al Quran:
Teringat hal-hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan, membuat kita bingung, tenggelam memikirkannya, sehingga tak jadi membacanya, atau terkadang kita terserang rasa kantuk ketika membacanya.
Yang pertama dilakukan setan adalah membujuk kita untuk tidak membacanya atau membuat kita menunda untuk membacanya atau menyibukkan dengan pekerjaan lain. Jika tidak berhasil setan akan membuat kita mengantuk dan lelah untuk membacanya, atau mendorong kita untuk membacanya karena nafsu mendapatkan pahala tanpa merenungkan maknanya, atau membuat lidah kita sulit membaca ayat-ayat, atau mengingatkan mereka tentang urusan-urusan sehingga segera mengurungkan membacanya.

Ibn Hubairah berkata
“Diantara tipu daya setan adalah menjauhkan orang dari kemauan merenungi Al Quran. Setan tahu, petunjuk kebenaran Al Quran diraih dengan cara merenunginya.”

Imam Al Ghazali berkata
“Di antara cara setan menjadikan orang-orang tidak mempedulikan kandungan Al Quran adalah membuat mereka menekuni secara berlebih tata cara baca Al Quran. Setan selalu membisikkan bahwa mereka salah membaca huruf-huruf. Jika sudah begitu bagaimana mereka punya waktu untuk mengungkap kandungan makna Al Quran? Setan akan tertawa bahagia.”

Masih perkataan Al Ghazali
“Jika merenungi petunjuk Nabi tentang membaca Al Quran, bagaimana beliau tidak menyalahkan model-model bacan para sahabat, kita akan tahu, perhatian berlebihan terhadap cara membaca huruf Al Quran bukan termasuk hal yang pernah dicontohkan beliau.”

Ibn Al Qayyim mengatakan
“Setan menyeret pembaca Al Quran dengan sekawanan kuda sampai pembaca itu lupa pada tujuan pokok Al Quran: untuk direnungkan, dipahami, dan diketahui kehendak Allah terhadap Al Quran. Setan akan menghalangi pembaca untuk memahami tujuan Al Quran sehingga tidak dapat memetik manfaat secara maksimal darinya. Itulah sebabnya kita diperintahkan untuk memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika hendak membaca Al Quran.”

Menautkan Hati dengan Kitab Suci

Kunci utama adalah KEYAKINAN

Imam Bukhari mengatakan
“Hanya orang yang mempercayai Al Quran saja yang dapat merasakan kenikmatannya.”

Untuk mendapatkannya setidaknya ada 3 hal inti yang harus kita lakukan

1. Membulatkan tekad

Abu al Hasan menyatakan
“Di antara syarat pokok dapat memetik manfaat dari Al Quran adalah memiliki kemauan. Jika tidak bagaimana Al Quran bisa memberi pengaruh? Di antara sunnah Allah adalah bahwa Dia tidak akan memberi kecuali adanya kemauan dan doa. BagiNya kedua hal itu sangat penting..Rasa gelisah yang tak berkesudahan, rasa tak pernah puas, semangat untuk memperbaiki diri dan berubah, tak bosan-bosan mencari cara, semua itu adalah langkah awal menuju kebahagiaan.”

2. Tulus Berdoa agar Diberi Kemudahan

Hanya Allah yang berkuasa membuka hati kita. Maka memohonlah kepadaNya agar hati kita terjalin erat dengan Al Quran.

“Barangsiapa berserah diri maka ia benar-benar telah menempuh jalan yang lurus” (QS Al Jin: 14)

Ibn Rajab mengatakan
“Pertolongan Allah tergantung pada kemauan hamba dalam mendapatkannya. Siapa yang benar-benar menginginkan kebaikan niscaya Allah akan membantu mendapatkannya.”

3. Menciptakan Kedekatan dengan Al Quran
Perbanyaklah membaca secara tartil, dengan suara indah, dan disertai pemahaman. Kita tidak akan pernah memetik manfaat apapun dari Al Quran selama kita tidak membacanya, tidak berusaha mendapatkan petunjuk untuk kehidupan hari ini dan esok sebagaimana yang dilakukan generasi Muslim dahulu.

Secara teknik ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjalin hubungan yang erat dengan Al Quran

1. Berdoa dengan sungguh-sungguh agar Allah membuka hati kita untuk menerima cahaya Al Quran, agar Ia memberi kita kemampuan merenungi kalamNya, dan dilakukan sebelum membaca Al Quran.

2. Banyak membaca Al Quran, menghabiskan waktu bersamaNya, dan sebisa mungkin tidak menyela dengan aktivitas lain agar tidak kehilangan suasana. Dilakukan di tempat yang tenang, jauh dari kebisingan agar bisa memfokuskan diri, jangan lupa berwudlu dan bersiwak sebelum membacanya.

3. Membaca menggunakan mushaf, dengan suara yang bisa didengar (tidak berisik) dan secara tartil.

4. Membaca secara tenang dan melibatkan emosi.

5. Memahami maksud secara umum
Ini mengharapkan kita fokus dan tidak berarti kita harus berhenti di setiap ayat untuk memahami maksudnya. Cukup pemahaman secara umum saja, dari situ dalam waktu yang tak lama, secara bertahap, perasaan kita akan tergerak, dan kita akan terikat dengan Al Quran secara emosional, Insya Allah.

6. Menganggap Al Quran diturunkan kepada kita. Seolah kita yang diajak berdialog, berbicara, dan diminta menjawab pertanyaan serta diminta mengamini ayat-ayat yang mengandung doa.

7. Mengulang-ulang ayat yang berkesan di hati agar cahaya di hati semakin terang dan iman kuat.

Allah selalu mengetahui seberapa besar usaha kita untuk mendekat kepadaNya dan Dia adalah sebaik-baik pembalas usaha.
Tulisan ini dibuat tidak untuk mengecilkan arti dari membaca dan menghapal tapi agar kita meneruskan langkah kita untuk memahami dan mengamalkan ayat-ayat Al Quran.

~Pengaruh terbesar Al Quran adalah terbentuknya tingkah laku yang lurus serta bersatunya kata dan perbuatan. Jika ini tidak dijumpai maka hati seseorang tidak terpaut dengan Kitab Suci.~

Referensi
Agar Al Quran Menjadi Teman, karangan Dr. Majdi al-Hilali, penerbit ZAMAN

Advertisements

4 comments on “Agar Al Quran Menjadi Teman

  1. Apakah belajar memaha mi harus berurutan mem bacanya, berawal dari Surat 1,2,3 dan seterusnya ? Bolehkah di ambil bab bab yg penting saja?

    • dari yang pernah saya dengar, gak perlu harus urut. Misal ingin memahami tentang akidah, maka ambil ayat2 akidah dan baca tafsirnya..begitu yang saya tahu,,
      wallahu’alam..

  2. Mohon petunjuk metode memahami Al Qur’an yang bisa langsung dengan jalan pintas, tanpa semua dibacanya, agar setelah paham, bisa langsung diajarkan dan diamalkan stiap perbuatan

    • wah, saya juga masih perlu banyak petunjuk, belum bisa ngasih petunjuk,,hehe

      biasanya pun kalo baca tafsir saya cuma cuplik yang ingin saya ketahui saja. jadi gak urut dari awal atau akhir surah. kalo jalan pintas saya juga kurang tahu..hehe
      karena terkadang penjelasan sebuah ayat pun bisa berjam2 dikaji.
      sedikit2-paham-amalkan-ajarkan 🙂

      wallahu’alam..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s