‘Kasihan ya..’

Assalamua’alaikum wr wb,,, 😀

“Kasihan ya si A tidak keterima bekerja di perusahaan X, padahal…”
“Kasihan ya si B tidak jadi menikah dengan si C, padahal…”
“Kasihan ya si D kena PHK,,,”
dan masih banyak lagi kata-kata yang menggunakan kata ‘kasihan’ terlontar dari ucapan pihak ketiga ketika melihat orang lain yang ‘terpuruk’.

“Ehm,,kasihan ya, aku rasa mereka hebat karena masih bisa bertahan dalam kondisi seperti itu..”
Biasanya itu yang keluar dari mulutku jika ada kawanku yang menceritakan kawan kita yang lain.
Saya hanya membayangkan jika kejadian-kejadian yang menimpa mereka terjadi pada saya. Apakah saya mampu menanggungnya? Maka saya katakan mereka hebat…

Saya tidak akan mengatakan kasihan pada mereka. Semua yang terjadi pada mereka sudah digariskan oleh Allah. Mau tidak mau, itulah yang pasti akan terjadi. Saya hanya akan melihat pada sikap mereka dalam menghadapi kejadian yang menimpa mereka. Setelah itu baru saya akan mengatakan ‘kasihan ya,,,’ jika sikap mereka bertentangan dengan apa yang dikehendaki oleh Sang Sutradara, jika sikap mereka malah membuat mereka jauh dari Sang Pemberi Pertolongan. Jika mereka hanya lari dari masalah.
Dan saya akan katakan ‘hebat’ pada mereka yang tetap berada di koridor jalanNya atau mungkin malah melesat jauh semakin mendekatiNya. Tetap bisa bersabar dan bersyukur dalam kondisi mereka saat ‘terpuruk’. Bisa lolos dari satu ujian hidup untuk menuju ke ujian yang lebih ‘hebat’ lagi.
Apakah dengan tidak mengatakan kata ‘kasihan’ berarti kita tidak peduli dengan saudara kita yang sedang ditimpa kesusahan?
Saya rasa itu tidak selamanya berhubungan. Rasa peduli bisa kita lakukan dengan membantu saudara kita semampu dan semaksimal kita. Dengan hanya mengucapkan kata ‘kasihan’ tidak akan bisa menyelesaikan masalah jika tidak diimbangi dengan usaha untuk menolong saudara kita. Mendengarkan, memberikan saran, melakukan suatu tindakan itu lebih berguna daripada hanya sekedar kasihan.
Dan pada saatnya nanti mereka pasti akan menemukan hikmah yang begitu indah ketika mereka sudah berhasil mengatasi dengan baik masalah mereka. Pada saat-saat ‘gelap’ memang akan sangat sulit menemukan ‘cahaya’ hikmah. Maka minta pada Sang Pemilik Cahaya, Allah SWT.

Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (QS Al Baqarah: 269)

Maka akan sangat saya acungi jempol bagi mereka yang sedang dalam dalam masalah dan pada akhirnya bisa mengevaluasi lagi seluruh tindakan jiwa dan raganya, melihat lagi ke akar masalahnya, merancang tindakan selanjutnya, dan menemukan hikmah tersembunyi dari Allah SWT yang membuatnya tersungkur bersujud syukur kepadaNya.

~This is just my point of view~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s