Cerita Sore dari Bekasi

Aku melihatnya setiap kali keluar tol bekasi barat sepulang kerja. Seorang bapak berbadan besar ‘ngesot’ di jalan dengan jarak beberapa meter dari pintu keluar tol. Letak yang sangat strategis untuk meminta-minta. Trafik yang padat terutama di sore hari dengan ‘konsumen’ rata-rata mobil mewah yang menandakan kebutuhan primer mereka sudah cukup tercukupi akan dengan ringan melemparkan koin receh mereka ke dalam botol air mineral kosong yang dipegang si bapak.
Tapi cerita sore kali itu berbeda..

“Liat tu, bapak-bapak yang biasa ndlosor di jalan sekarang lagi jalan tegap banget.” kata babe, sebutan sopir bus jemputan kantor.
Reflek aku yang duduk pas di belakang babe ngeliat ke depan.
“Waa..iya Be” pernyataan spontan keluar dari mulutku

Bapak itu, yang biasa menyeret-nyeret kakinya di aspal jalan, menyebrang jalan dengan tegapnya….

Cerita sepulang kerja ini lain lagi. Sama-sama terjadi di sore hari pada hari yang berbeda dengan selang waktu tidak terlalu lama dengan cerita pertama.

“Mbak..!!”, suara ibu-ibu terdengar di belakangku pas ketika aku berbelok ke dalam gang.

Entah kenapa spontan aku menoleh. Dan memang pandangan ibu itu mengarah padaku. Seorang ibu berdandan lumayan sopan dan rapi dengan membawa serta anak gadisnya yang kira-kira seumuran anak kelas 4-5 SD.

“Bisa minta tolong Mbak..”, lanjut ibu itu.
“Eh..ya Bu”, aku yang masih bengong spontan jadi agak terkejut

Si ibu maju mendekat sambil menggandeng tangan anak perempuannya. Dan mulailah ibu itu menceritakan kisahnya yang ujung ceritanya adalah meminjam uang. Tidak tanggung-tanggung ibu ini menyebutkan nilai nominal rupiahnya. Dia juga menanyakan nomor kontak sambil berjanji akan menghubungi jika nanti akan mengembalikan uang. Aku menyerahkan uang sambil sekilas melihat anak perempuannya. Apa yang ada di pikiran anak kecil berwajah polos ini? Melihat bahkan tidak sadar menjadi bagian dari skenario penipuan yang dilakukan oleh (ibu)nya.
Teng tong..time flies dan tidak pernah ada nomor asing yang keluar dari layar ponsel…yappari. Kembali teringat dengan anak perempuan kecil berwajah polos…

Berapa banyak rupiah yang bisa didapat dari melakukan ‘kerja paksa’ (tentunya mereka tidak akan melakukannya jika bukan karena terpaksa atau memang sudah jadi profesi abadi?) seperti cerita-cerita diatas? Bisa mencapai jutaan rupiah mungkin dalam satu bulan, melebihi gaji seorang buruh pabrik yang bekerja sungguh-sungguh 8 jam sehari, seperti yang sering diberitakan media-media massa. Tapi bisakah hasil yang didapat dari kerja penipuan menutupi kebutuhan-kebutuhan hidupnya? Jangan salah mengartikan kebutuhan hidup hanya sebatas materi. Bukankah rasa tenang dan aman juga termasuk kebutuhan hidup? Apakah mereka bisa mendapatkannya? Rasa aman dan tenang? Keberkahan??
Mereka hanya belum tahu….
dan bukankah tugas bagi yang sudah tahu untuk memberi tahu mereka yang belum tahu…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s