Mencintai Karena Allah (non-mahram version)

Assalamua’alaikum wr wb,,, πŸ˜€

Dulu di masa-masa masih menganggur saya pernah memposting tema ini dengan tema umum. Sekarang di masa-masa penuh tugas kampus akhirnya saya tulis lagi tema ini dengan lebih spesifik. Gara-gara tweet spontan di twitter mendapat pertanyaan dari si ance tercintah dan butuh jawaban panjang yang pastinya akan sangat tidak menyenangkan jika harus menulis terpotong-potong karena kapasitas jumlah kata yang terbatas..

Darimana kita mulai cerita ini??
Dari fenomena yang mungkin tidak terlalu banyak terjadi kalo di sekitar lingkungan saya. Entah di luar sana. Beberapa orang dengan enteng mengatakan “aku mencintaimu karena Allah”.
Bukankah memang seharusnya seperti itu? Semua orang beriman kan memang harus mencintai saudaranya yang seiman karena Allah? Yapp, betul. Semua muslim adalah saudara yang terikat karena Allah maka kita cinta pada saudara kita, baik laki-laki maupun perempuan, pun dasarnya adalah perintah Allah. Tapi itu untuk konteks yang luas (ukhuwah islamiah) dan bukan personel (person to person).
Fenomena yang dimaksud disini adalah seorang laki-laki mengatakan ini kepada perempuan atau sebaliknya tapi pada praktek selanjutnya adegan yang terjadi adalah timbul tindakan-tindakan yang malah tidak disukai oleh Allah. Contohnya…

~Tidak menjudge seseorang, just sample πŸ™‚ ~
Dialog ini terjadi antara seorang perempuan bukan dengan laki-laki tapi dengan teman perempuannya yang lain

x : “Dia bilangnya mencintaiku karena Allah kok…” (dengan mata berbinar-binar)
y : “Ooo gitu…” (angguk-angguk sambil senyum)

Dalam dialog sangat singkat tersebut tersurat ada seorang laik-laki yang mengatakan kepada x bahwa dia mencintainya karena Allah. Dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi antara x dan laki-laki tersebut ternyata jauh dari apa yang dicintai Allah. Komunikasi yang sangat intens bahkan sampai larut malam, berkhalwat untuk hal yang yang tidak penting. Bukankah hati sangat rapuh? Hanya dengan mendengar suara saja katanya sudah bisa membangkitkan debar di hati, apalagi kalo ini terjadi secara terus menerus? Bisa menjamin hati tetap terjaga? Hanya membayangkan bukan mahram saja sudah dimasukkan ke dalam kategori mendekati zina, satu hal yang sangat tidak disukai Allah.

Skenario lain, kalo ini terjadi pada perempuan dengan teman mayanya yaitu medsos.
“Ya Allah, aku mencintai si z karena Engkau” (tambah icon senyum di akhir kalimat)
Tapi ternyata dalam profilenya banyak foto dengan adegan yang tidak seharusnya terjadi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Kasus ini lebih berat dari kasus yang pertama. Bila berjabat tangan saja dilarang jika bisa menimbulkan syahwat apalagi sampai berangkulan dsb…

Bukankah ini menjadi paradoks? Kita mengaku mencintai seseorang karena Allah tapi cara kita mencintainya malah membuat Allah tidak ridha. Alasan kita mencintai seseorang adalah Allah, ini berarti tujuan tertingginya adalah Allah. Jika yang dituju adalah Allah maka apakah pantas jika kita melakukan suatu tindakan atas dasar kalimat tersebut yang malah membuat Allah murka?

Berarti kita gak boleh jatuh cinta dong sama yang bukan mahram? Kan Allah juga yang menyisipkan rasa cinta dalam hati?
Saya tidak mengatakan kalo kita tidak boleh jatuh cinta. Rasa cinta dibuat oleh Allah sebagai fitrah yang membedakan manusia dengan ciptaan Allah yang lain. Yang namanya fitrah itu tidak bisa dihilangkan tapi kita masih bisa mengaturnya. Bukankah orang yang kuat itu adalah orang yang dapat mengalahkan hawa nafsunya?? (cinta masuk ke hawa nafsu atau hawa nafsu itu bagian dari cinta atau kedua hal tersebut adalah 2 hal yang berbeda?? Kalo ada yang tahu jawabannya tolong saya dikasih tau πŸ™‚ )
Jika dasarnya adalah Allah, jika kita lebih mencintai Allah daripada apapun, kita tidak akan pernah melakukan suatu pembenaran atas sesuatu yang dibenci Allah. Kita tak akan pernah rela melihatNya murka dengan tindakan kita.
Hampir ketinggalan, ada satu fenomena lagi yang agak menarik. Beberapa orang mengatakan tidak akan mau pacaran tapi yang terjadi tetap berperilaku seperti orang yang berpacaran. Ini bukan masalah status tapi lebih ke tindakan.

Jadi bagaimana kalo kita jatuh cinta??
Hati itu ada ditangan Allah, minta saja padaNya. Minta hati yang bersih, hati yang tidak akan pernah menduakanNya. Minta Allah mengatur hati kita ke arah yang Dia ridhoi. Just ask everything to Him.
Kalo sudah siap nikah ya langsung nikah saja. Kalo belum siap ya disiapkan sambil banyak-banyak istigfar dan melakukan hal-hal positif seperti memikirkan pemecahan masalah di Indonesia yang buanyakk beut. Ato mau jadi relawan mengerjakan tugas-tugas saya yang bejibun banyaknya :mrgreen:

Jadi intinya, jika memang kita mencintai karena Allah ya cara yang dipakai cara yang dicintai Allah. Jangan jadikan kalimat tersebut sebagai pembenaran tindakan yang kita lakukan, seolah-olah sudah mengikuti cara yang Islami padahal….
Just my point of view, prinsip yang saya pakai selama ini. Silakan kalo ada pendapat yang lain. Minta tolong sertakan juga dalilnya jika memberi pendapat. CMIIW πŸ™‚

Ngambil quote dari profile picture whatsapp temen

“Perkara paling sweet adalah ketika dua orang saling rindu namun tidak berkomunikasi, tetapi keduanya saling mendoakan di dalam sujudnya masing-masing”

Jadikan ceritamu seperti cerita Fatimah dan Ali πŸ™‚

Finished..
Mari kembali berkutat dengan tugas besar….Yossh (,”)9

Advertisements

4 comments on “Mencintai Karena Allah (non-mahram version)

  1. sory dori mori, kalo replay twitterku, menjadi interupt tubes kuliamu yang bejibun..
    itu sekedar reaksi spontan, begitu membaca twitmu.he3.
    kata ‘karena’ itu kan berarti ‘sebab’. jadi saat seseorang mengatakan “Aku mencintaimu karena Allah”, menurut ku dia sedang mengatakan premis umum, atau kalimat yang mengandung kebenaran mutlak. karena Zat yang dapat menghadirkan cinta hanyalah Allah, begitu pula dengan benci. sedang aktifitas yang dilakoni, pasca dia berucap statement itu ya menurut ku itu aku kategorikan sebagai reaksi.
    dan reaksi itu sifatnya pilihan, bagi setiap individu.
    jika ‘cinta’ boleh di maknai sebagai ‘anugerah/nikmat’ maka sesungguhnya setiap individu boleh memilih menyikapinya dengan ‘kufur’ atau ‘bersyukur’.
    jalan kufur ya, tentunya dengan memilih jalur yang dimurkai Allah, dengan banyak contoh yang udah kamu jabarin itu mbak. opsi kedua, seseorang dapat memilih bersyukur, ya dengan melakukan hal yang sesuai koridor syar’iah.
    dan menurutku, kata2 ‘aku mencintai mu karena Allah’, bukan berarti sebuah kalimat yang dapat menakar tingkat keimanan seseorang. itu bukan kalimat syakral, itu sekedar kalimat yang menyatakan kebenaran umum. sedang kadar keimanannya dibuktikan dengan reaksi bagaimana dia menyikapi anugrah cinta yang dihadirkan padanya. he3.

    itu sekedar opini ku mbak,
    jadi gini, intinya aku hanya menangkap penyempitan makna. itu aja.
    sama halnya
    seperti orang yang sering kali menganggap berbeda, makna ‘akhwat’ dengan ‘wanita’,ataupun ‘ikhwan’ dengan ‘pria’.

    maaf ya mbak nurdin, jika banyak khilaf kata,

    • puanjang,,khas ance πŸ˜€
      nangkep broo….terima kasih ance, jadi punya sudut pandang lain πŸ˜€
      yapp tingkat keimanan hanya Allah yang tau..kita sendiri tidak tau apalagi orang lain…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s