Iktikaf Bagi Wanita

Assalamua’alaikum wr wb,,,

Pengertian I’tikaf

Secara literal i’tikaf berarti “memenjarakan” sedangkan dalam terminologi syar’i i’tikaf dapat didefinisikan berdiam diri di dalam masjid untuk beribadah kepada Allah yang dilakukan oleh orang tertentu dengan tata cara tertentu.

Aisyah RA, istri Nabi mengatakan bahwa Nabi SAW selalu beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau. Setelah itu para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau. (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i dan Ahmad)
Hadis dari Imam Bukhari sudah terjamin keshahihannya. Yang berarti seorang wanita boleh untuk melakukan i’tikaf. Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah dimana tempat i’tikaf terbaik bagi seorang wanita?

Pendapat pertama, sahnya i’tikaf wanita dilakukan di masjid jami’

Pendukung pendapat ini adalah Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal.
Dalil
Menurut Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni, “Bagi kami dalil untuk memperkuat pendapat tersebut adalah firman Allah: wa antum aakifuna fil masaajidi.”. Dalam ayat ini yang dimaksud dengan masjid adalah tempat mendirikan shalat. Sedangkan tempat shalat di dalam rumah tidak bisa disebut masjid. Para istri Rasulullah juga meminta izin untuk beri’tikaf di dalam masjid dan Nabi SAW mengijinkannya. Kalau masjid itu bukan tempat i’tikaf bagi wanita, pasti Rasulullah akan melarangnya atau paling tidak bila ada tempat selain masjid yang paling baik bagi wanita untuk beri’tikaf maka pasti beliau akan menunjukkannya. Dibolehkannya wanita beri’tikaf di dalam masjid sebagaimana laki-laki bisa disamakan dengan bolehnya thawaf di Baitullah yang ketika itu laki-laki dan wanita diperlakukan sama.
Sayyid Sabiq, seorang ulama Mesir, dalam Fikih Sunnah mengungkapkan bahwa menurut mayoritas ulama tidak sah perempuan beri’tikaf di masjid (tempat shalat) yang berada di dalam rumah sebab tempat shalat di dalam rumah tidak bisa disebut masjid. Masih dalam bukunya, para ulama juga sepakat bahwa tempat shalat berada dalam rumah yang boleh dijual sedangkan masjid tidak boleh dijual. Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa para istri Nabi beri’tikaf di dalam masjid Nabawi.
Maliki, Syafi’i dan Hambali merujuk pada peristiwa ketika Abdullah bin Abbas ditanya tentang seorang perempuan yang bersumpah untuk beri’tikaf di mushala rumahnya. Abdullah bin Abbas lalu mengatakan, “Itu adalah bid’ah dan tindakan yang paling dibenci Allah adalah melakukan bid’ah. Tidak ada i’tikaf selain di masjid dimana sholat lima waktu dilaksanakan.”
Berdasar pandangan tersebut maka kamar atau mushala di rumah tidak bisa dianggap masjid dan jika i’tikaf di dalam kamar atau mushala di rumah diperbolehkan maka para istri Rasulullah seharusnya sudah melakukan meskipun cuma sekali.
Profesor bidang Tafsir Al-Qur’an Universitas Al-Azhar Kairo, Dr Abdul Fattah ‘Anshoor mengatakan “Boleh-boleh saja seorang perempuan beri’tikaf di masjid sepanjang tidak mengabaikan hak-hak keluarga, terutama suami dan anak-anak.”
Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk wanita yang ingin beri’tikaf di masjid adalah hendaknya mendapat ijin dari suami atau orang tua dan bila kondisi diamnya seorang wanita di masjid tidak terjamin keamanannya seperti keberadaannya disitu membahayakan dirinya atau akan menjadi tontonan maka lebih baik tidak usah beri’tikaf di masjid.

Pendapat kedua, memakruhkan wanita beri’tikaf di masjid jami’

Pendukung Imam Abu Hanifah, Maulana Muhammad Al-Kandahlawi, Al-Kubaisi.
Dalil
Dari Ibnu Umar Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian larang kaum wanita untuk pergi ke masjid dan rumah-rumah mereka labih baik bagi mereka.” (HR Abu Daud)
Menurut Al-Kubaisi hadis diatas menjelaskan tentang lebih baiknya bagi kaum wanita menjalankan shalat di rumah masing-masing. Begitu juga dengan i’tikaf.
Dari Abdullah Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda, “Shalatnya seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya dan shalatnya seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya.” (HR. Abu Daud)
Kelompok mahzab Abu Hanifah menyatakan makruhnya wanita beri’tikaf di dalam masjid. Menurut Al-Kandahlawi jika tidak ada mushola di dalam rumah hendaknya disediakan sebuah kamar di dalam rumah yang khusus untuk i’tikaf.
Hadis Aisyah RA yang menerangkan bahwa Nabi SAW memerintahkan untuk melepas kemah-kemah istrinya ketika mereka hendak beri’tikaf bersama beliau. (HR. Ibnu Khuzaimah: 2224)
-Dalam pendapat yang menguatkan diperbolehkannya wanita i’tikaf di masjid hadis ini ditafsirkan bahwa Nabi SAW memerintahkan untuk melepas kemah para istri beliau ketika mereka beri’tikaf bukanlah menunjukkan ketidaksukaan beliau apabila wanita turut beri’tikaf. Namun motif beliau memerintahkan hal tersebut adalah kekhawatiran jika para istri beliau saling cemburu dan berebut untuk melayani beliau. Oleh karena itu beliau dalam hadis tersebut beliau mengatakan, ‘Apakah kebaikan yang dikehendaki oleh mereka dengan melakukan tindakan ini?’ Akhirnya beliau baru beri’tikaf di bulan Syawal-
Hadis Aisyah RA, beliau mengatakan “Seandainya Rasulullah SAW mengetahui apa kondisi wanita saat ini tentu beliau akan melarang mereka (untuk keluar menuju masjid) sebagaimana Allah melarang wanita Bani Israil.” (HR. Bukhari dan Muslim)
-Dalam pendapat yang menguatkan diperbolehkannya i’tikaf bagi wanita ditafsirkan bahwa perkataan Aisyah yang menyatakan bahwa Nabi SAW akan melarang wanita untuk keluar ke masjid apabila mengetahui kondisi wanita saat ini, secara substansial bukanlah menunjukkan bahwa i’tikaf tidak disyariatkan bagi wanita tapi perkataan beliau tersebut menunjukkan akan larangan wanita untuk keluar masjid apabila dikhawatirkan terjadi fitnah-

Wallahu’alam..
Hanya menyadur dari berbagai sumber untuk memperjelas pemahaman. Mohon koreksi jika ada kesalahan dan tambahan…

http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/kaum-perempuan-lebih-baik-i-tikaf-di-masjid-atau-di-rumah.htm#.U8ipKUDm4el
http://ramadhan.republika.co.id/berita/ramadhan/shaum-ala-rasulullah-saw/12/08/10/m8j0i5-di-manakah-tempat-wanita-beriktikaf
http://www.voa-islam.com/read/konsultasi-agama/2010/08/31/9695/bolehkah-wanita-melaksanakan-itikaf/#sthash.qcrmzm0R.dpbs
http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/fiqih-ringkas-itikaf-1.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s