[Muwashofat Tarbiyah-9] Pribadi yang Bermanfaat (Nafi’un Lighoirihi)

Assalamu’alaikum Wr Wb..

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia” (HR Thabrani)

Siapa yang memberi manfaat secara utuh maka akan menerima manfaat secara utuh. Balasan terbaik akan datang dari Allah berupa sebuah karunia yang mahal dari Allah yaitu utuhnya jiwa manusia. Jiwa manusia yang utuh adalah jiwa yang sudah terbebas dari kesenangan duniawi.

Kita lihat sebentar siapa sebenarnya jiwa. Jiwa adalah zat hidup yang Allah tiupkan ke tubuh manusia. Jiwa ditiupkan ketika kandungan berusia 3 bulan. Sebelum ditiupkan ke tubuh manusia, jiwa adalah penghuni akhirat yang sudah hidup di zaman azali. Jiwa diberi kesempatan sementara untuk tinggal di dunia. Ketika meninggal, jiwa akan pulang ke akhirat dan badan akan kembali ke tanah. Allah telah berpesan berulang kali kepada jiwa ketika dimasukkan ke tubuh manusia untuk tidak tertipu dengan kesenangan dunia.

Seorang Ibu berpesan kepada anaknya yang akan menuntut ilmu ke Amerika dalam jangka waktu yang lama
“Nak, kamu adalah orang Indonesia. Tak peduli seberapa lama kau berada di negeri orang tetaplah menjadi orang Indonesia. Jangan terpengaruh dengan segala adat istiadat negeri lain. Pulanglah sebagai orang Indonesia..”

Seperti jiwa yang pada akhirnya akan kembali pulang ke negeri akhirat.

Jiwa yang asalnya dari akhirat hanya akan senang dengan kesenangan akhirat. Dia tidak menginginkan kesenangan duniawi. Kesenangan duniawi hanya dinikmati oleh badan. Jiwa yang seutuhnya jiwa tidak akan pernah bisa tenang sampai dia menjadikan tubuh tempat dia bersemayam menjadi tubuh yang anfa’uhum linnas (bermanfaat bagi orang lain).

Jadi yang bisa kita lakukan untuk menjaga keutuhan jiwa adalah menjadi pribadi yang bermanfaat. Anfa’ (manfaat) yang tak terbatas kepada yang lain akan membuat hidup ini manis semanis gula. Terkadang kita terjebak dengan ungkapan “habis manis sepah dibuang” ketika kita merasa hanya “dimanfaatkan” oleh orang lain. Betulkah kita hanya “dimanfaatkan” orang lain? Bukankah memang tujuan kita memberi manfaat kepada orang lain? Jadi memang tepat kalau kita dimanfaatkan oleh orang lain kan..?

Seseorang yang jiwanya utuh maka akan utuh juga keyakinannya kepada Allah. Tak ada balasan yang ia inginkan selain dari Allah dan ia pun yakin Allah akan membalas sekecil apapun perbuatan baik yang ia lakukan. Tak akan pernah ia permasalahkan pendapat orang lain tentang tindakannya. Adapun jika kita tidak ingin menjadi seperti seseorang yang “habis manis sepah dibuang” maka jadilah orang yang selalu “manis”. Yang kemanfaatannya tidak pernah kadaluarsa..

Belajar dari Ustadz Tebu

Marilah kita belajar sedikit dari ustadz tebu dengan filosofinya karena tebu telah memberi pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana agar hidup kita bisa bermanfaat untuk orang lain.

Pertama,
Tebu memilih untuk tumbuh dan berkembang dalam alam keprihatinan yang sangat mendalam. Jika ingin menjadi pribadi yang bermanfaat maka kita harus mampu ber-riyadah, terus melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat. Seseorang ketika sudah merasakan susah maka akan mudah menolong orang lain. Orang-orang yang prihatin biasanya akan mampu untuk memberikan manisnya kepada yang lain.

Kedua,
Pohon tebu tidak pernah berharap hidup dalam gemilang fasilitas yang melimpah. Tebu tidak seperti padi yang harus dibuatkan lahan khusus agar bisa mendatangkan hasil. Tancapkan batang tebu dimanapun dan dia akan mampu bertahan hidup.

Ketiga,
Pohon tebu adalah pohon yang menyederhanakan fisiknya namun ia berjuang sangat keras untuk memiliki isi yang jauh di atas penampilannya. Cukuplah seseorang mengenal bahwa ia adalah tebu.

Keempat,
Tebu teruji tahan uji menghadapi berbagai ujian yang dia jumpai dalam hidupnya. Ketika dibabat ia akan menampilkan tunasnya untuk tumbuh kembali. Lahan tebu yang sudah dipanen biasanya akan dibakar tapi tak berapa lama akan muncul tunas-tunas tebu yang baru. Masih ada harapan untuk terus bertumbuh.

Kelima,
Tebu mengajari kita agar melakukan infa’ (pemberian) secara kreatif dan inovatif. Tebu tidak mengeluarkan buah tapi menyimpan manfaatnya di keseluruhan batangnya. Jeli dalam melihat segala sesuatu untuk diubah menjadi sebuah kemanfaatan.

Andai kita ingin belajar banyak tentang hakikat anfa’ maka bergurulah kepada tebu. Dia rela dirinya diperas dan meneteskan satu demi satu pati hasil perjungan selama hidupnya setelah itu ia tidak peduli dimana dia akan ditempatkan.

Wallahu’alam..

Ust. Syatori
Masjid Mardliyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s