Semangat Tahfidz

Assalamu’alaikum Wr Wb..

Al Qur’an yang sebenarnya tersimpan di Lauh Mahfudz (Al Buruj: 22). Al Qur’an yang ada di Lauh Mahfudz terssebut bisa dibilang adalah master data seluruh kejadian di semesta. Hanya sebagian kecil dari yang ada di Lauh Mahfudz yang diturunkan kepada manusia untuk mengolah bumi. Di bumi, Al Qur’an yang hakiki tersimpan di hati orang-orang mukmin (yang sudah dihapal). Kitab Al Qur’an berbeda dengan Al Qur’an. Jadi hati-hati bagi yang memberikan mahar berupa Al Qur’an karena itu berarti ia harus memberikan Al Qur’an yang tersimpan dalam hatinya (hapalan Al Qur’annya) bukan hanya sekedar kitab Al Qur’an.

Saat sahabat mengikuti perang Uhud, dalam perang uhud tersebut terbagi menjadi 2 kelompok:
Pertama, Orang yang hanya berpikir tentang Allah.
Kelompok ini fokus pikirannya hanya pada Allah. Tidak peduli seberapa pun lelahnya mereka dalam persiapan perang uhud mereka tidak peduli.
Kedua, Orang yang hanya berpikir tentang dirinya saja.
Nanti kalau saya kalah bagaimana dengan anak istri, nanti kalau saya menang dapat apa..

Kedua kelompok tersebut jika dianalogikan dengan berjihad untuk tahfidz bisa menjadi seperti ini:
Pertama, Berjuang dalam kantuk
Kelompok ini tetap bertahan menghapal Al Qur’an meskipun rasa kantuk menyerang. Pun jika mereka terkalahkan dengan kantuk mereka setidaknya mereka sudah berusaha maksimal untuk fokus menghapal.
Kedua, Menghapal dalam kondisi ahammathum anfusuhum (mencemaskan diri mereka sendiri, cek Ali Imran 154)
Kelompok ini menghapal tapi masih tidak yakin bisa fokus sepenuhnya menghapal karena masih memikirkan sinerginya dengan yang lain, misalnya dengan kuliahnya. Masih terbersit di dalam hatinya berbagai pertanyaan seperti, kalau saya menghapal gini bagaimana kuliah bisa beres, nanti kerja apa, dapat duitnya darimana..

Seharusnya yang menjadi fokus kita dalam menghapal adalah Allah SWT. Ahammathum Allah, Ahammathum al akhirah, Ahammathum rasulullah. Karena Allah akan memuliakan para penghapal Qur’an, karena Rasulullah menyuruh kita menghapal Al Qur’an, karena Rasulullah sangat mengapresiasi para sahabatnya yang menghapal Al Qur’an. Masih ingat cerita seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin karena beliau hapal surah Al Baqarah? Atau cerita para sahabat yang syahid yang dikuburkan terlebih dahulu adalah yang paling banyak hapalannya?

Yang diapresiasi di sini sebenarnya bukan banyaknya hapalan yang dipunyai tapi lebih ke proses sampai orang itu mampu membaca Al Qur’an tanpa melihat teks. Tiada seseorang mampu untuk bisa melafadzkan suatu surah tanpa membaca teks kecuali orang tersebut sudah membaca surah tersebut ratusan kali. Orang membaca Al Fatihah ratusan kali itu biasa, tapi ratusan kali membaca juz 9 itu masih jarang. Hanya orang yang kuat jiwanya pada Allah yang rela membaca Al Qur’an ratusan kali.

Tidak mungkin Allah akan menyia-nyiakan hambaNya yang sibuk dengan Al Qur’an. Biarlah segala kesulitan dalam menghapal menjadi jalan kemudahan ketika di akhirah. Orang yang menjadi keluarga Allah di bumi ini tidak perlu risau dengan dunia.

Ust. Abdul Aziz Ar Rauf
Darush Shalihat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s