Exceed The Limit

“Sepertinya saya sudah melakukan usaha yang terbaik tapi kenapa hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan??”
“Apa benar sudah melakukan usaha terbaik? Jika ada yang salah dengan hasilnya, pasti ada yang perlu dikoreksi dengan prosesnya..”

Tanya jawab antara pendengar dengan penceramah dalam beberapa kajian dan entah kenapa melekat di pikiran. Mungkin karena melihat ada sedikit hubungan dengan sesuatu yang sedang saya pikirkan saat ini. Mengenai limit usaha kita. Sering kita mengatakan,
“Sepertinya saya tidak bisa meneruskannya, ini sudah melampaui limit kemampuan saya..”

Sebenarnya apa patokan kita dalam menentukan batas tersebut??
Dalam kondisi seperti apa kita bisa berkata??
“Oke, I am done. Mentok, ini sudah limit kemampuan saya..”
Dan kemudian berhenti berusaha..
Bagaimana kita bisa tahu limit kita??
Bagaimana membedakan bahwa perkataan limit itu keluar karena memang itu sudah benar limit maksimal kita atau hanya “excuse” dari diri kita yang mungkin karena terlalu gelap melihat solusi sehingga memutuskan berhenti??

Pernyataan seorang ustazah ini selalu terngiang,
“Kenapa harus takut sakit? Toh sakit juga yang ngasih Allah.”
Sakit, salah satu kekhawatiran yang mungkin kita takuti ketika berusaha melebihi ambang batas limit. Tapi terkadang kita lupa yang memberi sakit itu Allah dan mungkin hanya Dia yang tahu batas limit kita sebenarnya.

Logika kata itu lebih rumit daripada logika angka..
Dalam suatu angka yang pasti saja masih terdapat banyak ketidakpastian, apalagi dalam sebuah definisi subyektif..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s