Terkadang kita menulis tidak untuk dibaca. Hanya mengurangi dan mengurai isi kepala yang masih berserakan. Terlalu banyak input dan tak ada output hanya akan membuatnya tergenang, mengendap, dan kemudian hilang. Masih mending kalo bisa hilang, terlebih bahaya jika dia hanya mengganggu arus input yang lebih berguna masuk ke kepala.
Terkadang menulis itu tidak untuk dibaca. Sehingga ringan kita mengeluarkan kata. Tidak perlu menguatkan jiwa untuk memperbaiki setiap niat yang berkelok di awal, tengah, maupun akhir. Tidak perlu memperhatikan pembaca, apakah tulisannya akan mudah diterima dan masuk ke jiwa. Tidak perlu memakai hati untuk menulisnya karena memang tidak ada hati yang menjadi sasaran tulisan..
Terkadang menulis itu tidak untuk dibaca. Tapi harap hati-hati menuangkannya. Setiap kata yang terpatri dan tidak sengaja terbaca dapat membuat sebuah perubahan bagi yang tidak sengaja membaca. Baik banyak atau sedikit. Bersyukurlah jika yang tidak sengaja membaca hanya menganggapnya tulisan lalu dan melupakannya. Tapi waspada juga jika tulisanmu mempengaruhi jiwa dan pikiran mereka yang tidak sengaja membaca. Kebaikan atau keburukan yang didapat tergantung perubahan seperti apa yang dialami pembaca..
Terkadang menulis itu tidak untuk dibaca. Tapi semua kata dihitung oleh malaikatNya….

Maskam…
Masih menunggu hujan reda.,

Advertisements

4 comments on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s