Anak Hujan

Hujan masih belum lelah turun sedari pagi..
Dia sodokkan tombak kayu itu, mencoba mengenai sasaran. Tiap kali belum berhasil, ia coba lagi. Seorang lagi disampingnya, kedua tangannya menangkup keatas. Matanya awas menatap ujung tombak, raut mukanya serius. Ada seorang lagi, tapi entah apa yang dilakukannya. Pandanganku tertutup daun jendela.
Srakk…
Sebuah belimbing kuning berhasil ‘ditembak’. Mereka serentak bersorak.

Sebelumnya, suara langkah-langkah kecil itu terdengar memasuki pagar. Tak lama kemudian terdengar teriakan,
“Budhe, nyuwun belimbing’e nggih Budhe..”
Bersahutan, satu persatu meminta ijin si empunya belimbing. Sahutannya tidak akan berhenti, sampai mereka mendengar jawaban dari dalam,
“Yo, mundhuto”

“Matur nuwun Budheee. Ayo cahhh…”
Suara terima kasih mereka terseret udara karena mereka menjawab sambil berlari keluar. Memulai misi mereka. Mencari belimbing masak…

Belimbing kuning itu sudah ditangan mereka. Sambil tertawa mereka gerogoti setiap tangan buah itu. Itu pun tak bertahan lama, sejurus kemudian mereka lemparkan ke yang lain..
Iyapp…perang belimbing pun dimulai..

Sambil melempar mereka terus berjalan, menelusuri sepanjang sungai. Tertawa, mengaduh, sambil sesekali terdengar suara
“Byurr…”
Tak hanya perang belimbing, perang di sungai pun mereka jabani..
Alamakk..pengen… :mrgreen:

Aku kembali menghadap ke netbook. Mencecap sedikit aroma hujan. Tersenyum dan mulai menuliskan apa yang dilihat..
Ya ya ya…keceriaan anak-anak desa itu sederhana. Dan aku bersyukur pernah mengalaminya… 🙂

May Allah keeps their smiles…

Advertisements
By Isnaini Posted in Story

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s