Adab-Adab Penuntut Ilmu

Assalamu’alaikum Wr Wb

Dengan berkembangnya teknologi saat ini, menuntut ilmu juga bisa dilakukan tanpa harus bertatap muka antara guru dan murid tetapi bisa dengan media online. Insya Allah tidak mengurangi keutamaan menuntut ilmu. Seorang penuntut ilmu selain mengetahui dan memahami akan keutamaan menuntut ilmu, hendaknya dia juga memiliki perhatian besar terhadap permasalahan adab-adab penuntut ilmu.

Diantara adab-adab penuntut ilmu adalah:

Ikhlas
Seorang penuntut ilmu dalam mencari ilmu hendaknya punya perhatian besar terhadap keikhlasan niat dan tujuannya dalam mencari ilmu, yaitu hanya untuk Allah Ta’ala. Karena menuntut ilmu adalah ibadah dan ibadah tidak akan diterima kecuali jika ditujukan hanya untuk Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan mereka tidaklah diperintahkan melainkan hanya untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan amalan mereka.”
[Al Bayinnah: 5]

Di dalam shahihain disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan memperoleh pahala sesuai dengan apa yang dia niatkan.”
Nabi SAW juga bersabda dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,
“Sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk wajah dan harta kalian, namun yang Dia lihat adalah hati dan amalan kalian.”

Oleh karena itu, seseorang yang punya cita-cita yang tinggi dalam mencari dan memperoleh ilmu, hendaknya punya perhatian yang besar terhadap keikhlasan niat. Karena niat yang ikhlas merupakan sebab akan barakahnya ilmu dan amal. Sebagaimana perkataan sebagian salaf,
“Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niatnya dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil karena niatnya pula.”
Maka setiap orang yang telah diberi taufiq oleh Allah untuk bisa berjalan diatas jalan ilmu hendaknya waspada terhadap niat yang rusak dan selalu berusaha untuk menjadikan niatnya dalam menuntut ilmu hanya mengharapkan keridhaan Allah dan wajah Allah Ta’ala.

Bersungguh-Sungguh Dalam Menuntut Ilmu
Sesungguhnya seorang hamba butuh kepada kesungguhan dan semangat untuk memperoleh ilmu. Dia paksa jiwanya untuk jauh dari sifat lemah dan malas. Oleh karena itu Nabi kita yang mulia, Muhammad SAW berlindung kepada Allah dari sifat lemah dan malas. Karena malas akan menyebabkan terhalanginya seseorang dari mendapatkan kebaikan yang banyak. Dan sebaliknya dengan kesungguhan akan diperoleh keutamaan yang banyak.
Sebagaimana perkataan yang ada dalam suatu syai’r,
“Bagian besar dan berharga dari mendapatkan ilmu tidak akan diraih kecuali dengan kesungguhan.”
Adapun sifat malas dan lemah hanya akan menghalangi seseorang dari mendapatkan ilmu. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu hendaknya mengerahkan segala upaya memaksa jiwanya dalam meraih ilmu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh jalan di jalan Kami niscaya Kami akan tunjukkan kepadanya jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” [Al Ankabut: 69]

Meminta Pertolongan Kepada Allah Ta’ala
Ini adalah diantara perkara penting yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu, bahkan perkara ini adalah dasar yang harus ada pada seorang penuntut ilmu, yaitu beristi’anah atau meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala untuk bisa meraih ilmu.
Firman Allah Ta’ala,
“Dan katakanlah (wahai Nabi Muhammad), ya Rabb, tambahkanlah ilmu kepadaku.” [Thaaha: 11]
Telah kita ketahui juga bahwa Nabi kita, Muhammad SAW, setiap hari selesai shalat subuh berdo’a kepada Allah,
“Ya Allah sesungguhnya saya minta kepada Engkau ilmu yang bermanfaat, rizqi yang baik, dan amalan yang diterima.”
Maka seorang penuntut ilmu hendaknya selalu beristi’anah kepada Allah, meminta pertolongan dan taufiq kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman,
“Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmatNya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah memberishkan siapa yang dikehendakiNya.” [An Nur: 21]
Dalam ayat lain, Dia juga berfirman,
“Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” [Al Hujurat: 7]

Mengamalkan Ilmu
Seorang penuntut ilmu harus punya perhatian serius terhadap perkara mengamalkan ilmu. Karena tujuan dari menuntut ilmu adalah untuk diamalkan. Ali Ra berkata,
“Ilmu akan mengajak pemiliknya untuk beramal, jika dia penuhi ajakan tersebut ilmunya akan tetap ada, namun jika tidak maka ilmunya akan hilang.”
Oleh sebab itu, seorang penuntut ilmu harus benar-benar berusaha mengamalkan ilmunya. Adapun jika yang dilakukan hanya mengumpulkan ilmu namun berpaling dari beramal, maka ilmunya akan mencelakakannya. Sebagaimana sabda Nabi SAW,
“Al Qur’an bisa menjadi penolong bagimu atau justru bisa mencelakakanmu.”
Menjadi penolongmu jika engkau mengamalkannya dan mencelakakanmu jika engkau tidak mengamalkannya.

Berhias dengan akhlak mulia
Seorang penuntut ilmu hendaknya menghiasi dirinya dengan akhlaq mulia seperti lemah lembut, tenang, santun, dan sabar. Karena sifat-sifat tersebut termasuk akhlaq mulia. Para ulama telah menulis banyak kitab tentang adab seorang penuntut ilmu.

Mendakwahkan Ilmu
Jika seorang penuntut ilmu mendapatkan taufiq untuk bisa mengambil manfaat dari ilmunya, hendaknya dia juga bersemangat untuk menyampaikan ilmu dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala,
“Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Al Ashr: 1-3]
Di dalam ayat yang mulia ini, Allah Ta’ala bersumpah bahwa manusia semuanya mengalami kerugian, tidak ada seorang pun yang selamat dari kerugian kecuali orang yang beriman, berilmu, mengamalkan ilmunya, mendakwahkannya kepada orang lain serta bersabar atas gangguan yang menimpanya.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa kedudukan ilmu dan beramal dengannya itu bertingkat-tingkat. Sebagaimana dinukil oleh Adz Dzahabi Ra di Siyaru A’laamin Nubalaa dari Muhammad bin An Nadhr, dia berkata.
“Ilmu yang pertama kali adalah mendengar dan diam, kemudian menghapal, mengamalkan, lalu menyebarkannya.”
Orang yang mengajarkan ilmu akan memperoleh pahala yang besar, karena setiap kali ada orang yang mengambil faedah dari ilmu yang dia sebarkan dan dakwahkan akan dicatat baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengamalkan dakwah tersebut. Sebagaimana sabda Nabi SAW,
“Barangsiapa yang menyeru kepada petunjuk maka baginya pahala sebagaimana pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun juga.”
Maka setiap kali ada orang yang mengambil manfaat dari ilmunya maka akan dicatat pahala baginya. Tidak diragukan bahwa ini menunjukkan akan keutamaan mengajarkan ilmu dan memberi manfaat kepada manusia. Nabi SAW bersabda,
“Allah memberikan petunjuk kepada satu orang disebabkan karena kamu, maka hal itu lebih baik daripada unta merah (harta yang paling mahal).”

Kita meminta kepada Allah, Rabby arsy yang agung, kita meminta dengan menyebut nama-namanya yang indah dan sifat-sifatnya yang tinggi agar dianugerahkan kita semua ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Menunjuki kita kepada jalanNya yang lurus, memperbaiki semua keadaan kita dan tidak membiarkan kita bersandar pada diri sendiri meskipun hanya sesaat.

Ust Abu Izza

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s