Ukhuwah

Assalamu’alaikum Wr Wb..

Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak sempurna iman salah seorang diantara kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri”
(Hadits Shahih, riwayat Bukhari dan Muslim)

Penjelasan Hadits

Sahabat sekalian…
Persaudaraan (ukhuwah) memiliki posisi sangat mulia dalam Islam.
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”
(Al Hujurat: 10)

Rasulullah SAW bahkan sampai menggunakan diksi,
“Laa yu’minu..”
yang secara harfiah artinya adalah ‘tidak beriman’
Tentu saja yang beliau maksud bukan itu. Sebab dalam hadits lain yang semakna beliau SAW bersabda,
“Laa yablughul ‘abdu haqiqatal…”
‘Tidaklah seorang hamba mencapai hakikat iman..’
[HR Ahmad]

Sehingga menjadi jelas bahwa yang dinegasikan bukan keimanan namun kesempurnaan iman.

Sahabat sekalian..
Persaudaraan hakiki adalah persaudaraan yang murni dari debu kedengkian, noda kekikiran, dan kotornya egoisme. Seorang mukmin yang sempurna keimanannya mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.
Tidak ada lagi kedengkian, kekikiran, dan egoisme jika cintanya seseorang sudah mencapai taraf ini. Ketika dirinya sukses, ia juga ingin saudaranya sukses seperti dirinya, bahkan ia juga senang jika saudaranya lebih sukses lagi. Itu karena ia pun senang jika dirinya lebih sukses dari pencapaiannya saat itu. Jika ia ditimpa musibah, ia sangat ingin agar jangan ada seorangpun saudaranya yang tertimpa musibah yang sama. Saat berdoa pun ia tidak lupa mendoakan bagi saudara-saudaranya.

Abdullah ibn Abbas, pakar tafsir dari kalangan sahabat radiallahu’anhu pernah mengatakan,
“Setiap kali aku mendapat tambahan pemahaman tentang ayat Al Qur’an, aku sangat ingin semua orang pun mendapatkan tambahan pemahaman tersebut.”
Atha bin Abi Rabah, seorang tabi’in yang juga muridnya Ibnu Abbas pun mewarisi sifat mulia ini. Ia pernah menjual seekor keledai kepada seseorang. Orang tersebut bertanya,
“Menurutmu apakah keledai ini bagus untukku?”
Atha menjawab,
“Kalau keledai itu tidak bagus untukmu, tidak mungkin aku menjualnya kepadamu.”

Demikian Allah SWT menguji keimanan kita. Hari ini betapa banyak mukmin yang menyerang mukmin lainnya, merusak nama baiknya, merampas haknya, dan seterusnya. Semoga kita diberi kemudahan membersihkan hati ini dari perangai buruk serta menjadikan saudara-saudara kita laksana cerminan diri kita yang kita cintai sebagaimana kita mencintai diri kita.

“Barangsiapa ingin dibebaskan dari neraka dan dimasukkan ke surga, hendaklah ia meninggal dunia dalam keadaan beriman dan memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan.” [HR Muslim]

Wallahu’alam..

Ustadz Fajri Hafidzahullah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s