Cinta Allah Ta’ala pada Seorang Hamba dan Suatu Kaum

Assalamu’alaikum Wr Wb..

Rasulullah SAW bersabda,
“Jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka.”
(Hadits shahih, riwayat At Tirmidzi)

Penjelasan Hadits

Ini adalah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani dan Tuyalisi dan juga Dhiya Al Maqdhisi dan yang lainnya. Yang ini juga diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Jami’nya dan dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Albani dalam Shahih Jami Ash Shaghiir.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allah,
Hadits yang agung ini menunjukkan tentang perkara yang penting sekali yaitu bahwa terjadinya ibtila’ atau musibah yang menimpa seorang hamba, ujian dari Allah yang menimpa seorang hamba itu adalah tanda bahwa Allah mencintai hamba tersebut. Bukan tanda Allah membencinya. Dan bukan seperti pemahaman sebagian orang bahwa ketika ada musibah, ada ujian, berarti Allah tidak suka kepadanya. Bahkan justru dengan ujian ini menunjukkan Allah mencintainya.

Ujian ini bisa berupa ujian kebaikan, bisa ujian kejelekan. Sebagaimana Allah berfirman dalam kitabNya,
“Dan akan Kami uji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai fitnah” (Al Anbiya’: 35)
Dan ujian kebaikan yaitu ketika Allah memberikan kebaikan-kebaikan kepada hamba untuk melihat apakah dia bersyukur sebagaimana Sulaiman, dia berkata
“Ini, seluruh nikmat ini adalah dari keutamaan dari pemberian Rabb-ku yang Dia mengujiku (agar Dia mengujiku) apakah aku bersyukur apakah aku kufur” (An Naml: 40)
Kemudian juga dengan kejelekan, dengan perkara-perkara yang tidak disukai seorang hamba, dengan musibah-musibah yang dia dengan ujian tersebut apakah dia bersabar atau dia berkeluh kesah. Apakah dia semakin dekat dengan Allah Ta’ala atau dia berkeluh kesah dan semakin jauh dari Allah.
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa yang sabar juga mendapatkan kesabaran dan barangsiapa yang dia berkeluh kesah maka dia mendapat keluh kesah tersebut”

Kaum mu’minin yang dirahmati Allah,
Maka seorang hamba diuji oleh Allah dengan musibah-musibah, dengan ujian-ujian agar Allah membersihkan dari dosa-dosa. Kemudian akan mengosongkan hati para hamba ini dari kesibukan dunia dan semakin dekat dengan Allah. Maka dengan ujian ini seseorang akan lebih sempurna di dalam penghambaannya kepada Allah Ta’ala.

Kaum mu’minin yang dirahmati Allah Ta’ala,
Ketika Allah memberikan ujian kepada seorang hamba, maka itu adalah tanda Allah mencintai hamba tersebut karena dengan ujian ini maka hamba tersebut akan mendapat keutamaan yang banyak. Ujian tersebut akan menjadi kafarah bagi dosa-dosanya karena tidak ada satupun manusia yang luput dari dosa. Karena kebiasaan manusia adalah dia melakukan kesalahan, melakukan dosa maka dengan adanya ujian-ujian ini maka Allah hendak memberikan keutamaan padanya dengan dibersihkan dari dosa-dosa.

Disebutkan oleh para ulama, hadits ini merupakan bisyarah ‘azhimah (berita gembira yang besar) bagi seorang mu’min karena seorang hamba tidak pernah luput dari rasa sakit, musibah, kesedihan, sehingga dengan adanya hadits ini menunjukkan bahwa pasti seorang hamba akan mendapat kaffarat (penghapus) dari dosa-dosanya karena dia pasti mengalami rasa sakit akibat musibah atau kesedihan yang dialaminya.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda,
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan pada dirinya, Allah memberikan musibah kepadanya.”
“Yaitu Allah mengujinya dengan musibah-musibah untuk mensucikannya dari dosa-dosa di dunia sehingga bertemu Allah dalam keadaan bersih dari dosa.”

Ini merupakan keutamaan yang agung dari Allah yang diberikan kepada setiap mu’min. Kemudian para ulama menjelaskan bahwa ketika seseorang bersabar atas musibah yang diberikan Allah kepadanya maka Allah memberikan pahala atas kesabarannya. Dan ketika dia bersabar ketika mendapat musibah maka dia akan mendapat 2 perkara yang agung, yaitu kafarah bagi dosa-dosanya dan pahala Allah atas kesabarannya.

Adapun ketika seseorang berkeluh kesah atau tidak sabar atas musibah tersebut maka dia berdosa kepada Allah Ta’ala. Terkadang dari musibah yang menimpanya, seseorang akan mendapat kafarat dari dosa-dosanya. Terkadang antara kafarat dan dosa yang ia dapat kadarnya sama. Kemudian dia menambah dosa dengan berkeluh kesah, sehingga seakan-akan dia tidak mendapatkan apa-apa.

Hadits yang agung ini menunjukkan kepada kita tentang keagungan dan keadilan Allah Ta’ala dan besarnya rahmat Allah Ta’ala kepada kita dengan memberi kesempatan kepada kita untuk menghapuskan dosa-dosa kita. Yang harus kita lakukan adalah bersabar dan berharap pahala dengan musibah tersebut, bahkan kita seharusnya bersyukur kepada Allah dengan adanya musibah-musibah tersebut sehingga terhapuslah dosa-dosa kita.

Kaum Mu’minin yang dirahmati Allah Ta’ala,
Semoga Allah selalu memberikan kebaikan kepada kita, memberikan keteguhan kepada kita dalam menjalani setiap ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala, dan semoga kita termasuk kaum yang mencintai Allah dan ditunjukkan kepada jalan yang lurus yang dicintai Allah Ta’ala.

Ustadz Arif Fathul Ulum Lc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s