Peranmu, Surgamu

Peran Muslimah
Berapa jumlah perempuan disebut dalam Al qur’an? Semua tercakup dari Nabi Adam sampai akhir zaman ternyata hanya 20 yang disebut secara dzahir. Dari 20 tersebut, tenyata Allah hanya menyebut 1 nama saja, yakni Maryam. 19 lainnya tak disebutkan.
Mengapa??
Karena akhlaqnya paling sempurna dan bisa jadi hanya Maryam yang terbebas dari aib. Ini bukan berarti yang lain tidak mulia, namun Allah jaga aib mereka.

Perempuan dalam Al Qur’an
Belum Menikah
Maryam, Ratu Balqis, 2 perempuan yang bertemu Nabi Musa, saudara perempuan Nabi Musa.
Sudah Menikah
Hawa, istri Nabi Nuh, istri Nabi Luth, Sarah, Hajar, Zulaikha, Asiyah, Istri Imran, Istri Zakaria, Hafsah, Aisyah, Zainab, istri Abu Lahab, Khaulah binti Tsa’labah.
Ibu
Hawa, Sarah, ibunda Musa, istri Imran, istri Zakaria, Maryam.

Seringkali kita berpikir bahwa kita bisa mendapatkan surga karena mendidik anak. Bagaimana kalau kita belum punya anak??
Hipotesis ini tidak selalu tepat. Lihat perbandingannya: dalam Al Qur’an yang terbanyak dibahas adalah peran istri (54%), lalu peran ibu (27%), dan peran muslimah (19%). Peran istri menempati porsi paling besar dalam peran perempuan yang disebutkan Allah dalam Al Qur’an. Maka kita tersadar kembali akan hadits ini,

“Lihatlah dimana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ahmad)

Kita berjuang keras untuk menjadi ibu terbaik bagi anak-anak. Namun simak hadits ini,

“..dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita.”
Para sahabat pun bertanya,
“Wahai Rasulullah, mengapa (demikian)?”
Beliau menjawab,
“Karena kekufuran mereka”
Kemudian mereka bertanya lagi,
“Apakah mereka kufur kepada Allah?”
Beliau menjawab,
“Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata,
‘Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu.'”
(HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Meski kita sering kesal pada suami tapi ingat-ingat bahwa ini semua untuk keridhoan Allah. Wanita surga tidak berpikir siapa yang salah. Ia hanya berkata seperti dalam hadits berikut,

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,
“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?”
Mereka menjawab,
“Tentu saja wahai Rasulullah”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
“Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata,
‘Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridho.'”
(HR. Thabrani dalam Al Ausath dan Ash Shagir. Lihat Asd Shahihah)

Seberat apapun, setiap peran yang ditetapkan Allah adalah untuk kebaikan kita Tidak ringan, tetapi ada kebaikan jangka panjang yang Allah berikan.

Sebagai seorang ibu, jika anak-anak melawan pada kita, tidak menurut, dan sebagainya, jangan berpikir ‘anak ini harus diapakan??’, tapi
~ Tanyakan dulu pada diri sendiri, apakah sudah melakukan yang diperintahkan pada anak atau belum? Misal kita bingung bagaimana agar anak mau menghafal Al Qur’an maka sebelumnya cek dulu diri sendiri, apakah kita juga sudah menghafal Al Qur’an??
~ Cek bagaimana ketaatan kita pada suami
~ Periksa bagaimana sholatmu?? bagaimana doamu??

Kesuksesan mendidik anak bukan karena teori parenting, tips-tips mendidik anak, dan sebagainya. Tapi karena ridho Allah. Jadi yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana membuat Allah ridho?? Karena jika Allah ridho, Dia akan memberikan segala yang kita inginkan. Kerangka taat dan menunaikan kewajiban/kebaikan pada suami adalah untuk mendapatkan ridho Allah. Apakah setelahnya suami makin sayang dan cinta, itu hanyalah bonusnya.

Standar Perempuan Shalihah
Standar perempuan shalihah itu seperti yang tersebut dalam Al Qur’an. Penuhi inventory kepala kita dengan profil-profil dan kisah-kisah istri shalihah.
Kisah 2 perempuan yang bertemu Nabi Musa adalah kisah tentang perempuan pekerja. Mereka bekerja karena menggantikan ayahnya yang sedang sakit. Seorang wanita harus mempunyai alasan untuk bekerja. Dan jika bekerja, tidak ikhtilah (misal, dinas luar dengan rekan lawan jenis)
Ratu Balqis, pemimpin negeri Saba’, meninggalkan kesombongan dan mudah menerima kebenaran.
Ibunda Musa, rela berkorban untuk keselamatan anaknya (Nabi Musa).
Saudara perempuan Musa, yang mengikuti peti Nabi Musa yang dihanyutkan di sungai Nil, menggambarkan sosok perempuan yang pintar, mampu bernegoisasi, dan amanah.
Hawa, berkhianat karena membujuk suaminya untuk memakan buah khuldi. Namun Hawa masuk surga karena ia bertaubat. Hati-hati dengan bisik-bisik kita pada suami karena bisa sangat mempengaruhinya.
Istri Nuh, tidak percaya pada suaminya saat ia membuat perahu dan menjelek-jelekkan suaminya di depan anak-anaknya. Beware!
Istri Luth, melanggar amanah suami. Beware!
Sarah, wanita yang sangat berharap punya anak. Jika ada keinginan dalam diri kita untuk tidak memiliki anak (lagi), jangan-jangan ada yang bermasalah dengan fitrah kita.
Hajar, ibu menyusui, tidak tahu mau kemana saat bersama Nabi Ibrahim, ditinggal sendirian entah dimana, dan sebagainya, namun tidak banyak bertanya. Jangan jadi ibu-ibu rempong. Nabi Ibrahim hanya menjawab singkat-singkat saat Hajar bertanya. Sebagai manusia biasa, mungkin Ibrahim mau menjelaskan, tapi beliau sendiri tidak tahu apa jawabannya. Para suami seringkali semakin bingung dengan pertanyaan-pertanyaan kita. Yang dilakukan Khadijah saat Nabi bingung adalah menenangkannya, membawanya ke tempat tidur, dan menyelimutinya. Bukan membordirnya dengan pertanyaan-pertanyaan. Hajar berlari bolak-balik antara Shofa-Marwah pada posisi yang masih bisa mengawasi bayi Ismail. Hikmahnya adalah jika ibu bekerja, pastikan pandangan mata tetap dapat terjaga pada anak-anak kita. 10 tahun pertama adalah fase sangat penting dalam menumbuhkan tauhid anak.
Zulaikha, terpesona kerupawanan Nabi Yusuf dan menggodanya. Jangan merasa aman dari fitnah selingkuh. Tetap jaga diri dan mohon perlindungan Allah.
Asiyah, istri Fir’aun. Kita tidak menanggung dosa suami namun suami bertanggung jawab atas kita. Maka permudahlah, permudahlah suami kita. Jika suami kita zalim, kita tetap bisa masuk surga. Tapi mungkin suami terganjal masuk surga karena kita.
Istri Zakaria, istri mandul yang dapat memiliki anak dengan seijin Allah.
Aisyah, difitnah lalu minta ijin pada Nabi untuk pulang ke rumah orang tuanya. Saat mendapat fitnah, kita jangan terburu-terburu mengklarifikasi karena bisa saja isunya menjadi bola panas. Tenangkan diri dulu.
Istri Abu Lahab, mengompori suami dalam kejahatan. Dukunglah suami dalam kebaikan bukan dalam kejahatan.
Zainab, bercerai karena suami tidak mampu menaikkan dirinya dan istri tidak mampu menurunkan dirinya, padahal keduanya adalah orang yang sholeh. Sebuah kisah tentang pernikahan yang tidak bisa dipaksakan karena sudah diusahakan untuk setara tapi tetap sulit sekali. Tinggikan suami di hadapan anak-anak, jangan pernah menjelek-jelekkan.
Istri Imran, banyak berdoa selama mengandung agar dikaruniai anak yang sholeh dan menazarkan untuk Allah.

Menarik, rupanya dari semua perempuan yang disebutkan dalam Al Qur’an, tidak ada tentang wanita yang sangat menginginkan punya suami. Tidak ada keyakinan bahwa letak kebahagiaan adalah dengan memiliki suami. Simak kisah Maryam, Balqis, dll. Mereka tetap bahagia meski tidak berpendamping.

Jangan habiskan waktu berlebihan untuk pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. memasak sampai 5 jam, menyeterika terlalu perfect, dan sebagainya. Karena kita punya kewajiban belajar dan berkarya (tilawah, baca kitab, baca buku, dll). Permudah pekerjaan, didik anak-anak untuk mandiri. Tidak usah iri dengan suami. Berbuat saja yang Lillah, yang terbaik untuk Allah. Buatlah suami merasa tentram.

Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih sayang.. (QS 30:21)

Kita tidak akan ditanya tentang berapa uang kita untuk membantu suami, tapi ditanya tentang rumah suami kita.
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga da akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya, dan WANITA adalah penangyung jawab terhadap RUMAH SUAMINYA dan akan dimintai pertanggungjawabannya serta pembantu adalah penanggung jawab atas harta benda majikannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Perhatikan prioritas dalam menjalankan peran kita:
~ Ilmu vs Amal
~ Wajib vs Sunnah
~ Kualitas vs Kualitas

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS 4:9)

Ustadzah Poppy Yuditya
Kuliah Akademi Orangtua Parenting Nabawiyah
Diresume oleh Indra Fathiana

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s