Parents

Rumah, 2 hari sebelum awal ramadhan 1436 H
“Masih sakit Bu? Apa saya balik yogya besok aja?” kataku pada Ibu
“Gak papa. Udah agak baikan kok. Nanti dikasih obat sama istirahat juga sembuh. Balik ke Yogya aja. Masih banyak kerjaan kan disana.” ujar beliau

Yogya, awal ramadhan 1436 H
Biasanya Ibu akan sms tiap kali ada acara atau event atau apapun itu.

Rumah, 5 ramadhan 1436 H
Salam, masuk ke dalam rumah.
“Sudah pulang Dek..” sambut Bapak tersenyum sambil mengulurkan tangan
Aku hanya tersenyum, menangkap tangan beliau dan mengangguk mengiyakan. Ibu kulihat masih tertidur di kamarnya.
“Ibu masih sakit og Dek..” lanjut beliau
“Eh..” aku hanya tertegun sebentar dan masuk ke kamar
Sore harinya, barulah Ibu bercerita banyak. Bagaimana beliau sampai harus dirujuk ke rumah sakit, bagaimana tekanan darah beliau begitu tingginya, bagaimana rumah sudah tiga hari tidak disapu, bagaimana cucian kering sudah beberapa hari tidak disetrika, bagaimana selama itu Bapak yang masak, bagaimana sms ku kepada beliau yang membalas adalah Bapak.
Allahu Rabb..
Aku tercekat. Sebegitu hectic nya dan tidak ada satu pun yang mengabari. Padahal jarak rumah-yogya hanya 1,5 jam. Sekali lagi mereka mampu dengan rapi menutupi..

Hampir sama dengan kejadian bertahun-tahun yang lalu. Saat masih di Bandung.
“Ibu kemarin habis operasi Dek” cerita Bapak saat aku pulang mudik
“Eh, kenapa Pak??” terperanjat kaget
Mulailah Bapak bercerita panjang lebar.
“Kenapa gak ngasih kabar Pak??” tanyaku
“Gak papa. Daripada ganggu kamu disana..” jawab beliau
Allahu Rabbi..

Entah, apa yang ada di pikiran orang tua. Seorang anak tak akan pernah bisa merasakan betapa tingginya kasih sayang orang tua mereka padanya. Sampai ia mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi orang tua. Ketika kasih sayang orang tua sebesar jalan, kasih sayang anak hanya sebesar galah..

“Sensei, tolong jangan katakan penyakit saya yang sebenarnya pada anak saya. Sebentar lagi ia akan menempuh ujian masuk universitas.” ujar seorang Ibu penderita kanker
Kedua dokter muda itu hanya tertegun. Bingung..
Kondisi sang Ibu sudah cukup parah. Salah seorang dokter akhirnya mengatakan kondisi sebenarnya pada anaknya.
“Aku sudah tahu sejak lama kalo Ibu hanya berbohong dengan penyakitnya. Mengatakan bahwa ia hanya sakit usus buntu biasa. Bodoh, dia selalu tidak pernah berhasil ketika berbohong.” sahut si anak sambil meneruskan belajarnya
“Jadi, kenapa kau diam saja??” tanya si dokter
“Ibu sudah berusaha sebaik mungkin menutupi kebohongannya. Dia benar-benar tidak ingin aku tahu. Apalagi hal terbaik yang bisa kulakukan selain pura-pura percaya pada ceritanya. Aku akan membuatnya bangga dengan masuk ke universitas terbaik sehingga ia bisa kembali membualkannya pada para pelanggannya.” jawabnya sambil memainkan pensil di jari tangannya
Dokter tersebut hanya terdiam.
A nice answer..

Ketika kita sakit, mungkin orang tua kita merasa lebih sakit lebih daripada yang kita rasakan. Ketika kita bahagia, mungkin rasa syukur mereka lebih besar daripada rasa syukur yang kita ucapkan. Ketika kita hanya mendoakan mereka sambil mengangkat tangan, mungkin mereka selalu mendoakan mereka di selingi isak tangis di setiap sujud malam mereka..
Semakin tua, semakin lemah…
Dan, tegakah kau meninggalkannya??

Malam takbiran
Masih di kursi yang sama dengan pintu yang selalu sedikit terbuka..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s