Kisah dari Palestina

Ini cerita taraweh hari kedua. Cerita yang harusnya dituliskan berbulan-bulan yang lalu. Imam kali ini dari Palestina, Syaikh Ahmad al-Badawi. Selepas sholat, ada tabligh akbar dari beliau. Tabligh akbar seputar kondisi Palestina saat ini. Bagaimana kondisi Palestina yang terkepung dari darat, laut, dan udara serta hanya ada satu pintu darat di perbatasan dengan Mesir, perbatasan Rafah yang dibuka hanya beberapa bulan sekali dan jumlah yang bisa melewatinya pun terbatas.

Yang masih saya ingat adalah pertanyaan-pertanyaan dari jama’ah dan jawaban yang beliau sampaikan.

Pertanyaan pertama,
“Syaikh, bagaimana perasaan warga Palestina mengenai Arab Saudi yang tidak memberikan bantuan untuk warga Palestina?? Dibanding Indonesia dan Malaysia, mereka bukannya lebih dekat dengan Palestina (dari segi jarak geografis)?? Apa alasan mereka tidak mau memberikan bantuan pada warga Palestina??”


Jawaban beliau,

Kami tidak peduli apakah mereka (Arab Saudi) memberikan bantuan atau tidak. Itu urusan mereka dengan Allah. Pada akhirnya hisab di akhirat dilakukan secara individu, antara diri kita sendiri dengan Allah. Pertanyaan akan didatangkan pada masing-masing diri kita,
“Apa yang sudah kau lakukan untuk saudaramu??”
Yang kita tahu sekarang, saudara-saudara kami di Indonesia dan Malaysia datang memberikan bantuan kepada kami. Dan itu sudah cukup. Jangan terlalu mempermasalahkan mereka yang tidak turut membantu. Hasbunallah wa nikmal wakiil..

Pertanyaan kedua,
“Syaikh, mendengar penjelasan Syaikh mengenai kondisi Palestina yang diserang dari segala penjuru tersebut, jika saya menjadi warga Palestina maka saya akan meminta bantuan berupa tentara-tentara atau tank-tank untuk mengatasi blokade Israel. Bahan pangan dan kesehatan memang kebutuhan pokok juga, tapi bukankah akar masalah sebenarnya adalah penyerangan yang dilakukan oleh Israel tersebut?? Jika bantuan hanya berupa bahan pangan dan kesehatan, bukankah hal tersebut dapat diibaratkan kita mengepel lantai rumah sementara kita sendiri lupa untuk memperbaiki atap yang bocor?? Dan dari rakyat Palestina sendiri bagaimana upaya untuk mengatasi akar masalah tersebut?? Bantuan apa yang bisa kita berikan untuk warga Palestina??

Jawaban beliau,
Masalah militer sudah menjadi hubungan diplomatis antara dua negara. Bisa-bisa jika kita mengirim tank-tank ke Palestina akan terjadi perang dunia ketiga (tambahan dari penerjemah-ada benarnya juga). Jangan meremehkan bantuan meskipun hanya sedikit. Kita selama 52 hari ditahan, Israel tidak selangkah pun mampu memasuki Gaza. Ada bantuan dari Allah (ma’unah) dari kejadian-kejadian tersebut. Tenang saja, di Gaza itu ada tentara-tentara yang terkuat di dunia dengan izin Allah. Gaza yang sangat kecil itu, dengan persenjataan yang sangat minim mampu menundukkan Israel. Sampai saat ini, ada tawanan-tawanan perang Israel yang berada di Gaza. Kami tidak menginginkan tentara-tentara atau tank-tank atau bahan-bahan peledak, kita hanya ingin agar saudara-saudara muslim di Indonesia mendoakan secara ikhlas untuk warga Palestina. Juga menyebarkan informasi bahwa saudara-saudara Gaza membutuhkan bantuan-bantuan dari saudara-saudaranya di Indonesia. Serta jika ada kelebihan rezeki bisa disalurkan kepada warga Palestina.

Pertanyaan ketiga,
“Kenapa fatah dan hamas tidak bisa akur?? Kalo akur pasti bisa memerdekakan Palestina. Seperti Indonesia yang mempunyai banyak organisasi pada zaman penjajahan dulu tapi akhirnya bisa bersatu untuk mengusir para penjajah.”

Jawaban beliau,
Jadi, anda sebenarnya belum tahu ada apa di balik kedua kelompok Ini. Kedua kelompok ini berbeda dalam hal ideologi sedangkan warga palestina sendiri sebenarnya sangat solid persatuannya. Hamas menyerukan jihad fi sabilillah melawan Yahudi, Fatah meskipun kelompok pejuang juga tapi ternyata di balik itu ada persekongkolan dengan kaum Yahudi. Maka dari itu keduanya tidak bisa akur.

Pertanyaan keempat,
“Bagaimana wanita-wanita Palestina di tengah kondisi yang seperti itu masih mampu mendidik anak-anak mereka mampu menghapal Al Qur’an dan mempunyai semangat jihad yang begitu tinggi??”

Jawaban beliau,
Pertama, palestina adalah tanah yang diberkahi dan diberkahi pula penduduk di dalamnya. Karena keberkahan itulah maka para wanita Palestina mampu mendidik anak mereka menjadi pejuang agamaNya. Kedua, para wanita Palestina sadar bahwa mereka dalam kondisi yang tidak aman dan mereka menerima kenyataan tersebut.
“Iya, kondisi kami berat. Tapi kami tidak boleh menjadi lemah. Suami kami berjuang diluar sana, bertempur langsung menghadapi para zionis. Dan sinilah jihad kami, dengan mendidik anak-anak kami sebaik mungkin agar suatu saat bisa berjuang mempertahankan tanah air mereka”. Ketiga,…saya lupa :mrgreen: (kethok kepala)..

Nurul Ashri
Deresan

Palestine, they teach life..
Ketika iman sedang turun, cobalah merefleksi kembali kisah-kisah perjuangan mereka. Lihat wajah-wajah mereka. Wajah-wajah bersih yang ikhlas menggadaikan hidup mereka untuk RabbNya..


“Para wali Allah adalah mereka yang apabila dipandang maka akan mengingatkan mereka (yang melihatnya) pada Allah”

(Hadits hasan riwayat Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Kabiir dan Al Hakim)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s