Tidak Harus 40 Tahun

“Artikel yang tentang doa berbuka puasa tidak usah di pakai saja. Semua doa itu baik. Masih banyak yang awam disini. Takutnya malah bikin mereka bingung.” pesan beliau, bapak di kantor yang bertugas sebagai editor mading dkm.
“Gak harus liqo kok. Insya Allah disini juga masih banyak sarana menimba ilmu. Insya allah semangat beliau untuk mengaji juga tinggi.” kata beliau, seorang teman berumur setahun lebih tua dariku.
Kejadian-kejadian 2 tahun tersebut sangat membekas sampai sekarang di hati dan ingatan. Pesan-pesan yang pendek yang mampu membuat hati ini tersentak. Be flexible…

Mempunyai bapak yang fanatik dengan salah satu ormas Islam di negeri ini, mempunyai seorang guru yang dilahirkan dari kalangan ormas Islam yang satu lagi, mengaji di harakah yang berbeda lagi, dan selama kuliah di Yogya banyak berguru pada manhaj yang lain lagi. Bentrokan pemahaman pun terjadi. Di rumah, sudah biasa si babe dengan penuh emosi membahas si ormas satunya. Di grup wa, sesekali si buya share ‘kejelekan’ pesaingnya. Pas ‘dugem’ sesi membahas news jadinya terkesan menjelek-jelekan pemerintah. Menarik memang bisa mengetahui banyak pendapat dari masing-masing kelompok. Mencoba mendalaminya satu persatu (kalo sempat, kalo gak yo lanjut sama prinsip yang sekarang dipake 😀 ) dan melakukan ibroh (ibroh sering dipahami sebagai hikmah, tapi sesungguhnya arti sebenarnya adalah ‘menyeberangi’, menyeberang berarti berpindah dari satu bagian ke bagian yang lain sehingga dapat diartikan berpindah ke arah yang terbaik ~ Az Zumar:18) hanya ketika sudah saling menyinggung satu sama lain rasanya perih. Hei, we are one, Muslim..

Ustadz Abdullah Sholeh al Hadrami ketika membahas kitab An Nubat fil Adabi Tholabil ‘Ilmi tentang adab menuntut ilmu menjelaskan salah satu yang perlu diperhatikan ketika memilih seorang guru diantaranya adalah sudah berumur 40 tahun lebih. Kenapa?? Karena pada usia tersebut seseorang dianggap sudah lebih bijaksana, lebih berwibawa, lebih banyak ilmu dan pengalamanan. Dalam menyikapi perbedaan mereka lebih tenang karena mereka tahu bahwa di balik setiap perbedaan ada ilmu yang mendasarinya.

“Semua itu ada ilmunya” jawab Abi Syatori ketika ada sebuah pertanyaan dari jama’ah,
“Ustadz, di dekat rumah saya ada masjid yang setelah azan langsung sholawat-an. Bagaimana cara mengubah kebiasaan tersebut??”
Beliau melanjutkan,
“Jadi kenapa bisa ada sholawat-an setelah azan, itu karena pada zaman dulu belum ada speaker sehingga ketika azan hanya di perdengarkan sekali saja maka ada kemungkinan ada beberapa orang yang tidak mendengarnya. Maka sebagai pertanda bahwa saat itu telah masuk waktu sholat, setelah azan biasanya pada sholawat-an biar mereka yang belum mendengar suara azan jadi tahu bahwa saat itu telah masuk waktu sholat. Untuk mengubahnya, ya kita harus mempunyai masuk ke manajemen masjid dan mengubah kebiasaan tersebut. Sedikit demi sedikit tentunya.”

Mari, belajar lebih bijak. Ini bukan soal umur, hanya sudut pandang. Yang berumur lebih dari 40 tahun pun nyatanya belum sepenuhnya bisa berlaku ‘bijak’. Yang berumur muda pun tidak semua menurutkan ego dan emosinya. Mungkin saat ini ilmu kita belum bisa mencapai alasan di balik sesuatu, tapi dengan berbekal ‘semua ada pondasi ilmunya’ setidaknya kita bisa menahan diri dan melihat lebih dalam dan tenang tentang sebuah persoalan. There’s a reason behind everything..

*Pray hard for this ummah*

~Hanya ingin ikut meramaikan muktamar ormas 1 vs muktamar ormas 2~
Sleee…~ :mrgreen:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s