[Catatan Jalanan] Open Mind

Bayangkan kita naik motor di jalan raya. Beberapa meter ke depan kita akan masuk ke area padat mobil. Dalam posisi masih berada di luar area kemacetan, kita masih bisa menganalisa kondisi celah mana yang dapat kita masuki untuk bisa tetap melaju ke depan. Kita masih bisa melihat jelas jalur-jalur kecil, diantara banyaknya mobil, yang paling cepat mengantar kita melewati sekian banyak mobil.

Di tengah kita mengamati kondisi jalan, kita mungkin akan melihat beberapa motor lain yang sudah terjebak masuk dalam kerumunan padat mobil mengalami kesulitan untuk menerobos kemacetan. Pandangan dan geraknya sudah terbatas untuk menemukan jalur alternatif. Meskipun pada akhirnya pandangannya menemukan sebuah jalur alternatif, terkadang geraknya tidak memungkinkan untuk mencapainya.

Seperti ketika kita berada di hadapan beberapa terowongan dan belum memasukinya, kita masih bisa melihat dengan jelas kondisi dari setiap terowongan tersebut, melakukan perbandingan antara terowongan satu dengan yang lain. Berbeda ketika kita sudah memasukinya tanpa sempat menganalisanya. Sekali kita masuk ke dalamnya, pandangan sudah tertutup oleh tembok-tembok pembangun terowongan. Dan akhirnya apa yang kita tahu hanya sebatas apa yang ada dalam tembok-tembok pembatas tersebut. Sadar atau tidak sadar kita hanya berpikir, inilah satu-satunya jalan terbaik yang ada.

Yapp…ketika kita masih berada di luar sistem, bersifat netral, kita masih bisa bersikap obyektif menyikapi setiap kekuatan dan kelemahan sistem. Melihat dengan perspektif yang lebih luas, menganalisa hasil pengamatan dan akhirnya mampu menemukan sebuah alternatif terbaik.

Pernah melihat film PK??
Seorang alien yang datang ke bumi dan tidak dapat pulang karena kehilangan remote controlnya. Pencariannya akan remote controlnya yang hilang membawanya ke sebuah pencarian Tuhan karena ia diberitahu bahwa hanya Tuhan yang mampu mengembalikannya. Karena banyaknya agama yang ada, ia jalani semuanya satu persatu secara bersamaan. Hingga banyak pertanyaan terlontar karena agama yang satu dengan yang lain saling bertentangan. Si PK yang berada di kawasan netral bisa melihat celah-celah yang ia rasa salah. Celah yang tidak dapat dilihat oleh mereka yang sudah terjebak dogma golongan. (tonton sendiri filmnya ya, Islam yang dipertanyakan disini seperti biasa bukan ajaran Islam yang seharusnya. Lagi-lagi kesalahan persepsi).

Itu hanya sebuah ilustrasi, bukan ke masalah agamanya tapi lebih ke gambaran besarnya. Ketika kita sudah masuk ke dalam suatu golongan, mau tidak mau, sadar tidak sadar, kita akan terbawa ke pemikiran yang dibawa oleh golongan. Menganggap setiap apa yang dikatakan adalah sebuah kebenaran. Ketika tiap-tiap golongan sudah tertutup pemikirannya untuk mengetahui lebih jelas pemikiran golongan lain, ketika tiap-tiap golongan menganggap kebenaran ada di golongannya, ketika itulah perpecahan terjadi..
Ayolah, semua ada ilmunya kan…

Broaden your mind…
Ada banyak hal di luar sana ketika kita mau melihat lebih jauh, lebih luas. Serap input sebanyak-banyaknya, biarkan hati dan pikiran bekerja memprosesnya, dan temukan hasilnya.

Menyadur dari status wa babe dosen

“To get a good idea, get a lot of ideas”

..

Another random thought over the street..
#abaikan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s