Childhood

Anak kecil itu hanya bisa memandang dari balik kaca jendela ketika hujan deras datang. Ibunya tak akan mengijinkannya keluar dan bermain hujan. Sesekali ia bermain dengan si embun dan si kaca. Menuliskan kata-kata kemudian menghapusnya. Begitu saja berulang-ulang sampai ia bosan dan mulai masuk ke dalam kamar, mengambil sepotong dua potong kertas dan melipatnya menjadi sebentuk kapal. Dibawanya ke teras rumah dan ditaruhlah diatas aliran air yang mengalir deras dari utara ke selatan. Tak lupa ia bawa sebuah lidi panjang untuk berjaga-jaga jika si kapal terdampar menyentuh tanah. Menyodoknya agar kembali berlayar. Tak lama abangnya datang, menemani (atau merecoki).

Begitu hujan mereda, kedua anak itu bersorak. Berganti bermain dengan tanah pasir basah di depan rumah. Membuat dam-dam yang memaksa aliran air berganti arah mengikuti keinginan si arsitek bendungan. Mana peduli lagi dengan kaki, tangan, baju yang belepotan tanah basah.

Pagi hari setelah semalam hujan deras, gedung tua sebelah rumah akan dibanjiri kumpulan laron yang keluar dari sarang mencari kehangatan mentari. And yesss…lagi-lagi kedua anak itu akan bersorak riang. Meminta pada ibunya sekantung plastik kecil bening dan membawa sebuah gelas lengkap dengan tutupnya. Secepat kilat kaki-kaki kecil itu melangkah melewati titian kolam dan hupp..sedikit tenaga untuk menaiki pagar kecil pembatas rumah mereka dengan gedung tua, bergabung dengan beberapa anak yang sudah terlebih dahulu menangkapi laron-laron ringkih tak berdaya.

Dimulailah perburuan mereka, terkadang hanya mengorek-orek sarang si laron, terkadang menjumput sayap si laron yang sedang asyik merambat sepanjang tembok gedung, terkadang berlari mengejar si laron yang terbang. Tak peduli apakah hari itu hari libur atau hari dimana mereka masih harus mandi pagi dan berangkat ke sekolah.

Namanya perburuan pasti ada persaingan. Anak-anak itu berlomba mendapatkan laron terbanyak. Bodohnya, setiap kali ada yang menemukan sarang laron bukannya duduk diam dan mulai mengambil laron-laron yang keluar sarang, dia akan berteriak keras,
“Hoi cah, ono sarang neng kene..”
-______-

Kedua anak itu masih disana, sampai ibunya memanggilnya keras dari belakang rumah. Menyuruh mereka pulang, mandi, dan berangkat sekolah. Satu panggilan, tak akan mempan..

Pulang sekolah, alih-alih lewat jalan raya yang tidak becek, anak kecil itu dan teman-teman seperjalanannya akan memilih jalur shorchut. Melewati tanah lempung basah dan mampir sebentar ke sungai yang alirannya sedang deras-derasnya. Dicopotlah sepatu-sepatu mereka yang sudah parah ternodai lempung basah. Kali ini yang diburu adalah keong-keong kecil yang melayang-layang di permukaan sungai, entah apa namanya. Konon katanya jika keong-keong itu dikubur di tanah esok harinya akan jadi buku, pensil, dan barang-barang lain. Allahu Rabb, dimana nyambungnya

Sampai di rumah, apalagi yang didapat selain dampratan si emak melihat anaknya pulang dengan sepatu basah belepotan tanah (yah, meskipun sudah dicoba dicuci di sungai tetep ajalah kelihatan kotornya). Apalah yang bisa dilakukan si anak selain nyengir dan masuk ke dalam rumah. Bersiap mengeringkan sepatunya di perapian. Besok, sepatu satu-satunya itu masih harus dipakai menemaninya ke sekolah, tempat dimulainya segala asa…

Aku yang melihat kembali semua kejadian itu tersenyum dan bertanya heran pagi ini, ketika lari pagi, mendapati laron-laron memenuhi jalanan dan tak ada seorang anak pun terlihat,
“Hei, sudah berubahkah masa?? Atau ini hanya sedikit perbedaan anak kecil kota dan desa??”

“In all this world there is nothing so beautiful as a happy child.” – L. Frank B

~ Morning after heavy rain and I miss that time

Advertisements

4 comments on “Childhood

    • namane nyuluh yo Mas. di tempatku nyuluh ki dipake buat istilah nyari kodok je..
      iyapp..sama Mas, dipake buat umpan mancing juga. multifungsi, dibuat rempeyek juga bisa, kadang cuma buat makan ayam :mrgreen:

      • Eh aku juga lupa sih mba, apa istilahnya. Antara nyuluh apa nelung… intinya berburu laron lah hehe. Tapi, aku ngga doyan kl dikonsumsi, pernah biduran gara2 makan itu… 😀

  1. Nah, nelung itu apa lagi..haha
    Gak doyan juga, pernah bikin sekali gegara penasaran banyak yang udah nyoba makan dan hasilnya, not good.. :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s