Menanamkan Cinta Al Qur’an pada Anak

Ini adalah salah satu kajian yang notesnya di fb selalu saya baca berulang-ulang. Kajian yang membuat saya tertegun dan terpana ketika pemateri membagi bait-bait ilmu yang beliau punya.

***

Kalimat kunci dalam kajian kali ini adalah
SIAP DENGAN HARGANYA..

Need Analysis
Dalam sebuah konferensi internasional negara-negara muslim sedunia, Indonesia selalu terlihat yang paling ‘rendah hati’. Ketika duta negara lain tampil dengan doktor-doktornya maka Indonesia cukup dengan sarjananya. Ketika duta negara lain bisa menguasai sampai 4 bahasa, Indonesia cukup dengan bahasa inggris yang kadang masih tersendat. Sudah banyak wanita-wanita dari negara Islam lain yang bahkan bisa menjadi spesialis bukan hanya di satu bidang tapi beberapa bidang, farmasi dan syariah misalnya.
Kualitas sumber daya manusia Islam masih rendah. Seorang bapak-bapak di sebuah organisasi internasional merasa kesusahan mencari sumber daya manusia Islam yang mumpuni untuk menduduki sebuah posisi penting dalam organisasi sehingga harus terus menerus menurunkan kualifikasinya. Padahal, masih banyak diperlukan individu-individu Islam yang berkualitas untuk menduduki pos-pos penting yang masih kosong pada “organisasi-organisasi yang berwenang mengatur hajat hidup orang banyak”.

Research Question
Bagaimana mencetak generasi-generasi Islam yang tangguh??

Metode Benchmarking
Yusuf Qardawi, masa kecilnya dihabiskan dengan Al Qur’an sehingga tidak heran jika beliau sudah menjadi hafidz pada umur 10 tahun. Dibalik itu ada ibunya yang selalu mendampinginya.

Hasan al Banna, belajar agama pada ayahnya sendiri. Tapi selama belajar ibunya selalu mendorong dan menemaninya.

Syekh Musawi (??, gak terlalu denger namanya), seorang musafir, mengatakan kalau beliau tidak pernah bermain ketika masih kecil. Sejak usia 3 tahun beliau sudah diantar ke syekh-syekh oleh kedua orang tuanya untuk belajar ilmu-ilmu Qur’an, hadist, dsb. Beliau masuk sekolah dalam kondisi sudah menguasai semua pelajaran yang diajarkan disana. Sebenarnya ayahnya melarang beliau bersekolah karena ayahnya beranggapan tidak ada ilmu baru yang bisa beliau dapat di sekolah. Agar mendapatkan ijin untuk tetap bersekolah beliau harus menyetor ilmu baru kepada ayahnya setiap libur sekolah. Sehingga yang beliau lakukan sepanjang bersekolah adalah berusaha mencari dan menemukan apa yang belum beliau ketahui.

Imam Syafi’i, hanya hidup berdua dengan ibunya yang miskin. Demi mendapat pendidikan yang bagus untuk anaknya maka sang ibu rela mengadakan Rihlah Ilmiah dari Palestina menuju ke tanah asal nasab mereka Mekkah. Perjalanan panjang hanya dengan mengandalkan kedua kaki. Saking miskinnya Imam Syafi’i menggunakan pelepah kurma dan tulang untuk menulis ilmu yang diperolehnya. Putra Imam Syafi’i hapal Al Qur’an pada umur 6 tahun. Dari cerita Imam Syafi’i bisa dilihat bahwa fasilitas berada di urutan nomor 3 setelah Iman dan Azzam. Bukankah ketika imam dan azzam sudah kuat selalu ditemukan cara untuk mencapai tujuan??
Masih ingat cerita ayah ibu Imam Syafi’i? Terbayang betapa wara’ nya beliau berdua. Betapa sangat hati-hati menjaga makanan yang masuk ke tubuh.

Rabi’ah Ar-Ra’yi, guru Imam Malik, ditinggal berjihad ayahnya sejak dalam kandungan. Ketika pulang setelah 27 tahun berjihad, anaknya sudah menjadi seorang ulama. Hasil didikan ibunya seorang diri. (Ceritanya agak lucu, cari sendiri kisahnya. Semua ada harganya kan :mrgreen: )

Imam Bukhari, awalnya buta. Berkat rahmat Allah dan doa ibunya, Imam Bukhari kembali bisa melihat dan mulailah beliau melakukan rihlah ilmiah dengan ditemani ibunya. Satu wasiat ayahnya sebelum meninggal, “aku belum pernah memakan harta haram”. Lagi-lagi soal wara’, kehati-hatian.

Cermati sirah-sirah ulama-ulama terdahulu. Satu kesamaan yang ada pada mereka adalah Hapal Al Qur’an pada usia belia. Inilah tangga pertama sebelum mempelajari ilmu lainnya. Orang tua mereka sudah mempersiapkan diri mereka untuk menjadi orang tua seorang ulama.

Kesimpulan
Kita ingin mempunyai anak seperti apa?
– Cari profilnya
– Perhatikan apa yang dilakukan orang tua ulama-ulama besar ini
– Siapkan diri
semua ada harganya, kan… 🙂

Contoh: ibu-ibu yang ingin anaknya menjadi hafidz/hafidzah
Di Indonesia sudah banyak orang tua yang memiliki anak-anak hafidz-hafidzah. Cermati apa yang mereka lakukan terhadap anak-anak mereka.

Sedikit kisah:
Dikisahkan ada seorang Ibu mempunyai seorang anak perempuan. Beliau gonta-ganti memasukkan anaknya dari satu sekolah ke sekolah yang lain karena di sekolah-sekolah yang dimasuki terlalu banyak ikhtilah akhirnya sang ibu berinisiatif menyuruh anaknya melakukan hapalan Qur’an sampai rela pergi ke Madinah (atau mesir?? lupa..ketok kepala) dengan segala kesulitannya untuk mencari sanad dari syaikhah di Madinah.

Beberapa notes:
Gak punya gak bisa ngasih..
Jika kita tidak mempunyai ilmu yang bisa kita berikan untuk anak kita bagaimana kita bisa membimbing mereka?
Kumpulkan ilmu sebanyak-banyaknya. Ilmu psikologi, ilmu kesehatan, ilmu gizi, ilmu motivasi, ilmu agama, dll.
Filing dan rancang sendiri kurikulum untuk anak-anak.
Minimal ilmu Al Qur’an yang harus dimiliki adalah membaca sesuai tajwid. Tidak lucu jika anak sudah di masukkan sekolah menghapal Al Qur’an ketika anak pulang dan kita disuruh menyimak hapalannya ternyata kita tidak mengetahui benar-salahnya bacaan anak kita. 10 muwashofat tarbiyah jangan lupa untuk dikuasai juga.
Wara’, jauhi sesuatu yang haram dan abu-abu masuk ketubuh kita dan keluarga kita sekecil apapun..

Pertanyaan
Pendidikan akhwat di Indonesia masih rendah. Bagaimana agar bisa tetap melanjutkan pendidikan sekaligus mendidik anak??

“Kewajiban lebih banyak daripada waktu yang tersedia”

– Minta pada Allah
– Ambil sebabnya
– Pantaskan diri dulu
– Buat list apa saja yang wajib kita kuasai?
– Untuk siapa kita melakukan ini? untuk Islam? untuk negara?
– Apa yang ingin disumbangkan? ingin menyumbang anak?
– Dalami apa yang ingin kita berikan..
– Jika kita ingin agar anak kita kelak bisa menjadi anak yang bermanfaat, dalami ilmu-ilmu untuk mencapainya.

Semua ada harganya kan…Mahal pula 🙂
Siapa yang ingin derajatnya tinggi, kurangi waktu tidur…

“Butuh waktu 20 tahun untuk menyiapkan diri menjadi seorang Ibu”

makin berat…makin semangat…makin kuat.. n____n

Wallahu’alam

Dr. Sarmini Al Hafidzah, dosen Universitas LIPIA Jakarta. Menyelesaikan program Doktoral di Sudan, Pendiri Markas Qur’an dan bahasa Arab Utrujah Jakarta, Pengasuh pesantren tahfidz anak-anak dari usia SD sampai mahasiswa, pencetus metode cepat bagi anak, pembicara dan trainer di berbagai daerah.

***

Didedikasikan untuk ibu atau calon ibu yang ingin ‘menadzarkan’ anak-anak mereka untukNya. Seperti Imran dan istrinya yang menadzarkan anak mereka, Maryam, untuk Allah 🙂

Advertisements

2 comments on “Menanamkan Cinta Al Qur’an pada Anak

  1. Subhanallah, betapa bahagianya bila kita mempunyai anak-anak yang soleh, penghafal al-quran. semoga saya kelak bisa mengarahkan anak-anakku untuk mencintai al-quran. Aamin.
    makasih inspirasinya mbak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s