Shadaqah Tidaklah Mengurangi Harta

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu..

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidaklah sedekah mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambahkan sifat pemaaf pada diri seorang hamba melainkan menjadikannya terhormat, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan meninggikan (derajat)nya.”
(Hadits shahih riwayat Muslim, Ahmad, dan Ibnu Majah)

IMG-20160128-WA0014

Penjelasan Hadits
“..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [2:216]

Meski ayat diatas bercerita tentang jihad berperang di jalan Allah, namun cakupan maknanya lebih luas dari sekedar perang yang dibenci oleh nafsu karena merenggut nyawa dan kehidupan seseorang, begitu pula yang terjadi dengan bersedekah, memberikan maaf, dan bersikap tawadhu’.

Harta yang disedekahkan tidaklah mengurangi harta yang dimiliki oleh seseorang karena pada hakikatnya ia sedang melakukan suatu ibadah yang mulia nan penuh faidah bagi dirinya kelak di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” [2:216]

Dan, perhatikan kerugian yang dialami oleh seseorang yang menyia-nyiakan amalan yang mulia ini dalam firman Allah Ta’ala,
“Dan belanjakan sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata, ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholih?'” [63:10]

Begitu pula dengan memberi maaf. Tidak sedikit yang memandangnya sebagai suatu tanda kelemahan diri seseorang. Namun, itu semua hanyalah bisikan setan karena Allah menganjurkan untuk memberikan maaf kepada siapapun yang melakukan kesalahan. Allah Ta’ala berfirman,
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.”
[3:159]

Dengan memberi maaf, maka akan tampaklah kemuliaan jiwa seseorang karena dia lebih mengedepankan hukum Allah dan RasulNya ketimbang hawa nafsunya yang berhasrat membalas.

Hal yang sama juga terjadi pada sikap tawadhu’. Suatu sikap mulia yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam. Sikap ini merupakan sikap pertengahan antara sombong dan menghinakan diri. Seseorang yang bersikap tawadhu’, maka ia akan menjauh dari nafsu untuk menjadi yang terdepan atau membanggakan harta dan kedudukan agar mendapat pujian serta kehormatan lebih dari orang lain. Ia berusaha menyembunyikan hal-hal yang berpotensi memunculkan sifat sombong dalam dirinya dari penglihatan manusia. Seperti harta, kedudukan, dsb. Oleh karenanya, pantas bila Allah mengangkat kedudukan disisiNya.

Semoga Allah memberikan taufik pada kita agar bisa bersedekah, memberikan maaf, dan bersikap tawadhu’.

Ustadz Ridwan Arifin Lc hafidzahullah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s