Antara Puisi dan Matematika

Belum lama menulis asal tentang teknik dan sastra, dan malam ini tanpa sengaja samaaa sekaliii gegara scroll naik turun bang tweeto, nemu tweetnya pak Nukman yang ngeshare link artikel seorang matematikawan ITB. Belum ngoprek blognya, cuma liat sebuah judul “Catatan Kecil Tentang Burung”, klik, dan wew…ini sebuah hubungan antara matematika dan sastra. Dua hal yang saya suka dan seolah bertolak belakang serta berharap suatu hari dapat disatukan ๐Ÿ˜€

Secara garis besar, alam semesta itu pada dasarnya adalah struktur matematika. Khazanah matematika pada dasarnya adalah lumbung kata dan tata bahasa. Pembuktian matematis dapat berubah menjadi sepenggal cerita dengan segala jalinan plot dan subplotnya (Arsuka, 2015).

Intinya, matematika yang mendasari alam semesta dapat dideskripsikan dengan bahasa sastra ๐Ÿ˜€

“The essence of mathematics resides in its freedom” ~George Cantor

“Math is like water. It has a lot of difficult, of course, but its basic logic is very simple. Just as water flows from high to low over the shortest possible distance, figures can only flow in one direction. You just have to keep your eye on them for the route to reveal itself. That’s all it takes. You don’t have to to a thing. Just concentrate your attention and keep your eyes open, and the figures make everything clear to you. In this whole, wide world, the only thing that treats me so kindly is math.” ~Tengo

“What do I like about math? When I’ve got figures in front of me, it releases me. Kind of like, everything fits where it belongs.” ~Tengo

“Jika puisi meretas – dan dengan itu memperluas – cakrawala bahasa, matematika mengatasi matra ruang dan waktu, dan dengan itu merangkum semesta raya.” ~Nirwan Ahmad Arsuka

“Yang paling tak terpahamkan tentang alam semesta adalah semesta ternyata bisa dipahami.” ~Albert Einstein

“Manusia bisa memahami alam semesta karena keduanya sebenarnya satu; keduanya digerakkan oleh semangat yang juga menghidupkan puisi yaitu dorongan menggapai yang tak terbatas dengan bahan-bahan yang terbatas, dan dengan menghormati larangan yang telah melahirkan dan meremehkan larangan yang bukan darinya. Dorongan menggapai yang tak terbatas itu, menampakkan dirinya dalam berbagai bentuk, dan mereka bisa saling menerangi satu sama lain.” ~Nirwan Ahmad Arsuka

Yappari, alam semesta itu luar biasa. Mau dibuat menjadi kata-kata romantis atau logika matematis, itu terserah anda… ๐Ÿ™‚

Jadi, kenapa gak masuk astronomi dulu??
Karena takut sesak napas di luar angkasa Allah tahu saya tak kan mampu. Fisika yang ada di lapis dua saja keok, apalagi astronomi yang ada di lapis 3. Cukup matematika saja ><

Advertisements

9 comments on “Antara Puisi dan Matematika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s