Apa Alat Ukur Keberhasilannya??

Aku pernah menanyakannya, pada temanku yang ku percaya sudah paham luar dalam tentang kegiatan ini.
“Apa alat ukur keberhasilannya?? Darimana kita bisa tahu kalo program ini sukses menyentuh tujuan dasarnya?? Sudahkah ada yang berusaha menelitinya?? Bagaimana statistiknya??”

Jawabannya tak terlalu memuaskan,
“Agak susah juga sih untuk tahu sukses atau tidaknya. Karena ini tak hanya berhubungan dengan anak-anaknya saja tapi juga kondisi orang tuanya..”

Terlalu banyak euforia. Itu yang kurasa. Subyektif memang. Pembicaraan di grup terlalu berfokus pada hal-hal yang tak terlalu menyentuh substansi awalnya.

“Bikin konsep opening dan closing yang simpel aja. Gak perlu susah-susah. Saya, tiap kali acara selesai, secara sembarangan mencoba menanyai adek-adeknya. Dan yang paling membuat mereka berkesan biasanya adalah closingnya. Padahal inti kegiatan ini ada bagian materinya. Bagaimana yang disampaikan itu bisa benar-benar menginspirasi adek-adek tersebut. Sedikit dari mereka yang benar-benar ingat apa yang disampaikan inspi di kelas. Saya hanya ingin mengembalikan kegiatan ini ke tujuannya semula.” pendapat si mas videografer di tengah ramenya pembahasan menentukan acara opening dan closing yang tiada habisnya.

That’s the point.

Jadilah, pas sedang bercakap-cakap seusai beliau kugeret buat mengambil video bapak kepala sekolah, kutanyakan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang kuajukan pada temanku di awal.

“Belum ada sih. Tapi saya tiap kali survei pendahuluan untuk menentukan sekolah mana yang akan dipilih biasanya sekalian tanya ke adek-adeknya tentang cita-cita mereka. Dan kebanyakan jawabannya hampir sama. Seputar pekerjaan orang tua mereka. Tidak masalah sebenarnya kalo mereka memang mau menjadi seperti orang tua mereka. Toh semua cita-cita itu bagus. Tapi yang jadi masalah, kok ya jawabannya monoton banget. Jangan-jangan karena memang mereka tak terlalu banyak tahu tentang jenis pekerjaan. Nah, setelah acara selesai saya tanyai mereka lagi. Dan jawabannya lumayan jadi lebih beragam.” jawab si Mas videografer.

Post-test pre-test design. Metode yang dipakai si Mas. Meski aku pun tak tahu apakah si Mas nya tahu tentang metode penelitian yang satu ini. Tapi, jempol lah Mas..

“Belum ada ya Mas yang ngitung berapa banyak penurunan anak putus sekolah atau mungkin kenaikan anak-anak kelas 6 yang mau lanjut masuk ke SMP. Program ini sudah dari 2010 kan ya??” tanyaku lagi

“Iya Mbak. Dari 2010..” jawabnya singkat.

***

Terlalu banyak seremoni. Usaha yang dikeluarkan besar. Sangat besar. Karena itu, aku hanya ingin tahu hasilnya. Efektif dan efisienkah??
Bagus, tujuannya sudah bagus. Tapi tetap saja, yang melakukannya adalah manusia. Sistem paling kompleks sedunia. Apalagi untuk sebuah kegiatan yang sudah sangat menyebar. Berbagai macam manusia dengan berbagai pola pandang dan tujuan yang tentu berbeda-beda. Hanya untuk plesir?? atau eksis?? atau murni untuk masa depan mereka??
Penyakit skeptis keluar tiba-tiba..

Jadi, adakah yang mau menjadikan ini sebagai bahan penelitian?? :mrgreen:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s