Symptom 2

Terkadang ingin mencuri ilmu medis punya si Emak. Agar tak perlu lagi bertanya tiap kali ada gejala aneh menyerang. Mendiagnosis sendiri dan memutuskan level keparahan serta menentukan langkah selanjutnya. Agar tak perlu lagi melihat ekspresi kekhawatiran di wajahnya.

Beliau sudah stand by disana. Bersandar di kulkas. Menghadangku yang baru saja bebersih setelah pulang.
“Dek, Ibu mau bicara sebentar” ujarnya serius
“Sidang..sidang..sidang” batinku sambil melirik banyak obat yang beliau letakkan di atas kulkas
Aku hanya tersenyum nyengir sambil mendekat.
Tepat.
Ceramah panjang kali lebar adalah luas ditambah tinggi jadi volume pun keluar. Sudah lama rasanya tidak disidang seperti kali ini. Menjelaskan diagnosis penyakit yang, apesnya, sama dengan diagnosis adek kos…glekk.
Apatah yang bisa dilakukan selain tersenyum semanis mungkin. Berharap dari ekspresi tersebut bisa keluar kata-kata,
“Hei, ayolah Bu. Anakmu baik-baik saja..”
Sayangnya, senyuman itu tak mempan. Wajahnya masih saja menyimpan seribu kekhawatiran. Ekspresi wajah yang tak pernah kuinginkan terlihat di wajahnya…

“Ini obatnya, habiskan…” sahutnya keras sambil menunjuk tiga obat di atas kulkas
glekkk..yappari..
Padahal selama ini beliau tak pernah memaksa minum obat karena tahu aku tak pernah mau mengkonsumsinya.
Sekarang, apatah yang bisa dilakukan selain mengangguk dengan senyuman yang tak hilang meski hati remuk redam melihat ekspresi kecemasan si emak yang kurasa berlebihan.
Sighh…It’s ok if I am hurt, but they don’t..!!

Sehari setelahnya,
“Minta tolong tensi sebentar ya Dek. Ibu tadi malam jam 2 bangun denger kamu batuk. Dan gak bisa tidur lagi..” kata beliau
Degg…so, it’s because of me..??
Sighh…it’s ok if I am hurt, but they don’t..!!

Dan kurasa, aku harus menjawab ulang pertanyaan ini,
“Is a lie alright??” said Kitamura Ko to Tsukishima Aoba

Dulu, aku masih tak mengerti mengapa mereka harus menyembunyikan semuanya dengan alasan,
“Biar kamu gak kepikiran..”
Just tell the truth, is it that hard??

Now, I think I understand.
“Is a lie alright??”
“Yes, it can be done.”

Kurasa kau bisa melakukannya. Membungkusnya dengan rapi. Pretending that everything is okey and give the best smile in front of them. Seperti mereka yang selalu membungkus rapi setiap masalah mereka. Dan ini semua demi kebaikan.. (??)
Entahlah…
Yang kutahu orang tua bisa seribu kali lebih cemas jika terjadi sesuatu pada anaknya melebihi anaknya yang terkadang tak begitu peduli dengan dirinya sendiri. Lebih baik menyimpan semua masalah sendirian (salah, sharing-lah denganNya..) daripada harus membuat mereka khawatir. Yang akhirnya membuatmu tambah khawatir. Lingkaran setan yang tak berujung…

Kata durhaka hanya disematkan untuk anak pada orang tua karena fitrahnya orang tua memang selalu menyayangi anaknya. Tapi, sampai mana batas kasih sayang itu?? sampai batas mana kekhawatiran mereka pada anak-anaknya??
Kurasa kau tak kan bisa menjawabnya selama posisimu masih sebagai anak…

May Allah put barakah in their life….always.

~ketika warga rumah keok semua maka mari bertepuk tangan and say “horee” -____-

Advertisements

2 comments on “Symptom 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s