Catatan Kecil Pengajar Muda

“Namun, itulah Amina. Tidak berapa lama setelah menjadi “tersangka”, dia kembali berdiri dengan tatapan lurus dan tersenyum lebar, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Baginya, dunia laksana cawan bahagia yang berisi penuh dengan air suka. Setiap saat ketika dia haus atau kelelahan, dia hanya tinggal menuangkan air tersebut dan meminumnya.” ~Gatot Suarman

“..Aku ingin anak-anakku bisa menerbangkan pesawatnya hingga ke bulan. Pesawat mimpi yang membawa mereka menyentuh hari depan yang baik. Tidak masalah pesawat itu hanya dari robekan kertas buku mereka. Kertas tempat melakukan kesalahan dalam menulis yang akhirnya mereka robek. Namun, robekan itu menjadi bentuk pesawat yang mereka terbangkan menyentuh atap sekolah, lalu jatuh lagi dan mereka terbangkan lagi. Suatu hari aku percaya pesawat mimpi mereka akan terbang sempurna, bahkan melewati angkasa menyentuh bulan.” ~Gatot Suarman

“Buku tak pernah memukul, ia menyapa dan mengajak anak-anak bertualang di dalamnya, menari-nari dengan imajinasinya, dan menjanjikan lebih banyak rahasia jika mereka mau main bersama lagi.” ~Beryl Masdiary

“Damai itu tak terbeli, ketika mengedarkan pandangan setelah berdoa, merangkul mereka untuk belajar mengaji. Ah..betapa hal-hal terbaik di dunia ini justru tak berbiaya..” ~Beryl Masdiary

“Teringat saat aku berusia sembilan tahun, aku bisa tertawa pada banyak hal. Bahkan untuk hal paling sederhana sekalipun. Teman sekelas yang terjatuh, orang dewasa yang aneh, semua membuatku tertawa. Aku teringat akan teman-temanku yang juga mudah sekali tertawa. Kami tertawa bersama-sama. Tidak berhenti, meski orang dewasa memandang kami aneh. Usia sembilan tahun sangatlah menyenangkan. Lalu seiring usiaku yang bertambah, entah sejak kapan, hal-hal sederhana tak lagi membuatku tertawa. Orang dewasa seusiaku hanya akan tertawa pada hal yang mereka anggap intelek. Mereka mulai menyukai hal-hal rumit dan melupakan hal-hal sederhana. Semakin rumit, artinya semakin intelek. Aku pun akhirnya juga demikian..” ~R. Cahya Wulandari

“..jawaban yang kudapat, bukanlah hal-hal intelek yang rumit dan disukai kebanyakan orang dewasa. Sebaliknya, perjalanan ribuan kilometer dari tempat asalku, justru mempertemukanku dengan esensi hidup itu sendiri: kesederhanaan.” ~R. Cahya Wulandari

“..sekarang pun aku tetap dapat tertawa bahagia pada banyak hal, seperti saat usiaku masih sembilan tahun. Yang harus kulakukan bukanlah memutar waktu dan berjalan mundur kembali menjadi bocah. Namun, aku harus memecah jarak antara aku dengan dunia nyata.” ~R. Cahya Wulandari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s