Sebuah Jurnal Harian

“Menyerah, deh! Aku duduk dekat sekelompok teman sekolahku dan siap makan siang. Tak ada seorang pun, tak ada satu pun kawan bicara kepadaku. Jangankan bicara, senyum sedikit saja tidak! Ada apa, sih? Apa saat ini aku manusia yang tak dapat terlihat oleh mata?
Pernahkah kamu demikian? Seakan-akan tak terlihat mata. Lenyap.
PUARRR… terjadi uap? Tak ada yang mengenalmu. kalaupun kenal, mereka tak suka padamu! Wah, wah, wah… kasihan sekalee..Pernahkah? Saya amat sering merasa seperti itu.
Tapi dengarkan sekarang, aku tahu sesuatu yang baru. Tuhan mengenal dan mencintai kita sepenuhnya. Seutuhnya. Tak pernah kita tak kelihtan di hadapan Tuhan. Kenapa? Karena Dia dekat dengan kita. Bulan lalu aku heran, kenapa Dia kok selalu mau menangkan waktu bersamaku? Lalu aku mulai membaca buku pengharapan, maka timbulah ide di kepalaku. Tuhan mencintai kita karena Dialah yang menciptakan kita, dan Dia ingin selalu dengan kita. Untuk mengerti semua ini kita harus mulai dari awal. Dari awal-awalnya. Begitu kan seharusnya aku mengenal Tuhan. Hanya dengan membaca. Jadi mari mulai membaca bersama ku.”

๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚

Penulis: Ardi Seni
Anak berusia 10 tahun dan murid kelas 5 sebuah SD yang ada di Pulau Rote Ndao, pulau paling selatan Indonesia. Pulau yang baru 8 tahun menjadi kabupaten sendiri, yang masih penuh dengan segala keterbatasan dan tertatih memenuhi standar pembangunan sebuah kabupaten.

~Nia Setiyowati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s