Engineer for The Kids

“Dugem” lagi setelah 3 minggu off karena banyak hal. Sampai pada bagian materi. Si Mbak mulai menanyai kami satu persatu tentang alasan kenapa pada lebih memilih bekerja daripada menjadi ibu rumah tangga. Kelompok “dugem” ini memang semuanya bekerja dan sudah mempunyai keluarga. Kecuali aku, seorang pengangguran yang bingung mau kemana, dan si Mbak, pemimpin kelompok yang juga seorang full time Mom.

Jika diringkas, maka jawaban Mbak-Mbak yang semuanya bekerja ini adalah sebagai berikut:
~ Untuk mendapatkan penghasilan agar tidak merepotkan suami
~ Karena ada saudara yang masih harus dibiayai
~ Karena bekerja adalah ibadah
~ Ingin mengaplikasikan ilmu yang dipunya untuk kebaikan banyak orang (kebanyakan berprofesi sebagai guru TK/SD IT)

“Yang habis lulus kuliah gimana rencananya??” kata si Mbak padaku
“Menuhin kontrak harus kerja 3 tahun setelah itu jadi ibu rumah tangga Mbak. Tapi gak tahu kalo besok rencananya berubah lagi.” jawabku

Sontak semuanya bersorak,
“Yee..akhirnya Mbak Ari dapat pengikut”

“Eh Mbak, tapi masih bisa berubah ya Mbak..” sahutku yang sedang blank akut karena menahan rasa badan yang tak karuan karena lagi lagi down lagi
“Tapi 3 tahun kontrak kerja ini gak ada aturan gak boleh nikah kan??” lanjut beliau
“Gak Mbak..” sahutku sambil ngebayangin 3 tahun gak boleh nikah. Kapan punya anaknya??

Selesai semua menjawab, si Mbak membuka sebuah video,
“Monggo dilihat. Semoga ada sedikit pencerahan..” kata beliau

Selesai menonton, si Mbak kembali bercerita alasan beliau memberi materi ini sambil menangis. Ya, beliau menangis ketika menyampaikannya. Tangisan ketiga setelah sebelumnya beliau menangis ketika mendengar cerita tentang seorang istri yang berprofesi sebagai seorang guru SD/TK IT. Sampai suatu saat, suaminya menyuruhnya berhenti bekerja. Jika dihitung-hitung pakai logika, gaji seorang guru SD/TK IT itu kecil, sangat kecil. Bukan bermaksud mengecilkan profesi guru SD/TK IT. Ini sebuah profesi yang mulia. Mengajari anak-anak belajar Al Qur’an dan Islam itu sebuah kebermanfaatan yang banyak. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an?? Tapi, adil kah jika ternyata di rumah ada anak sendiri yang sudah sepatutnya dididik langsung dari tangan pertama ibunya malah dititipkan ke neneknya atau ke tempat penitipan anak?? Apakah hanya untuk sebuah gaji yang sedemikian kecil kita malah menelantarkan anak sendiri yang harganya tak kan tergantikan dengan apapun?? Jika alasannya untuk sebuah kebermanfaatan dengan mengaplikasikan ilmu yang dimiliki untuk kebaikan umat, bukankah di rumah pun ada anak kita yang menanti uluran tangan kita untuk mengajarinya semua ilmu yang kita punya??

New insight for me..sebuah perbandingan kebermanfaatan..

Tangisan kedua si Mbak?? ketika beliau menceritakan kisah tersebut ke suaminya. Sampai putranya yang terakhir bertanya,
“Ummi kenapa menangis??”

Hikss..si Mbak. Andai bisa memahami perasaanmu lebih dalam Mbak..mungkin aku bisa lebih mengerti dan tak kebingungan lagi..

“Wanita bekerja, sunnah pun tidak”
Itu sebuah pernyataan yang kudapat akhir-akhir ini ketika mengikuti sebuah kajian. Siapa yang menyampaikan?? Jangan tanya, lupa (ketok kepala). Hukum wanita bekerja itu mubah. Sedang mendidik anak dan mengurus rumah itu wajib. Rumusnya, wajib harus lebih didahulukan daripada sunnah apalagi mubah.

“..Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka…” potongan HR Bukhari 893 dan Muslim 1829

“Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu..” [33:33]

Ruang publik itu tempatnya laki-laki. Biarkan laki-laki yang bertarung disana. Wanita, Allah menyuruhnya tinggal di rumah. Allah sudah mendesain semuanya. Pencipta selalu lebih tahu mana yang terbaik untuk ciptaanNya. Jika mau membedahnya lebih dalam, pasti akan terlihat hikmah apa saja yang ada dalam perintah tersebut.

Apakah itu berarti saya menafikan kebolehan seorang wanita bekerja??
Tidakkk….
Semua punya alasan masing-masing dengan kondisi masing-masing. Saya pun sekarang masih terbayang-bayang dengan cita-cita setinggi langit untuk menjadi seorang peneliti. Ikut seminar dan mempresentasikan hasil penelitian dari satu negara ke negara yang lain. Berbincang dengan mereka yang punya ketertarikan di bidang yang sama. Melihat lebih dekat masalah-masalah yang ada di dunia dan memikirkan bagaimana solusinya. To be a researcher. A good researcher. #DayDreamingAkut

Itulah kenapa saya masih menambah kalimat,
“Kalo besok rencananya tidak berubah..”
Karena bagaimanapun juga, keraguan-keraguan itu masih ada. Cita-cita itu masih ada. Lagipula, ini bukan sebuah keputusan yang bisa diambil sepihak. Ada partner hidup yang punya otoritas penuh untuk mengambil sebuah keputusan. Jika pun Allah memberi seorang yang paham dan berkata, “Yes, sok mangga di rumah aja” maka rencana lolos. Jika Allah memberi seorang yang berkata lain, berarti rencana hanya tinggal rencana. Halangan terakhir, orang tua. Ibu yang selalu menggantungkan harapan tertingginya pada anak terakhirnya yang paling bodoh sedunia…

Time walked, people changed. Semakin banyak yang kau tahu, semakin dalam pemahamanmu, semakin pusing kepalamu karena semakin kuat kau harus bertarung melawan hawa nafsu..

Ada banyak yang harus dipikirkan dan kembali direncanakan. Melihat daftar wishlist yang tertempel di tembok pun sekarang hanya terbengong. Wishlist yang dibuat ketika masih single bahagia dan mempunyai impian tentang banyak hal. Sayangnya, hidup itu bukan untuk diri sendiri. Akan ada suami yang harus dilayani dan anak yang harus di didik.

Dan, perjalanan pulang pun menyimpan beribu pertanyaan..

Jadi, embuhlah…
Ayo belajar bikin bento buat bekal sekolah si kiddos!! Obsesi dari zaman baheula yang tak kunjung dieksekusi…fyuhh~

Advertisements

2 comments on “Engineer for The Kids

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s