Trust Him More

BJS 143, semester-semester awal, di sebuah kamar yang berbatasan langsung dengan ruang tamu.
Semua anak kos berkumpul. Nonbar nonstop dorama One Litre of Tears sedang berlangsung. Dorama yang menghebohkan warga sebuah kampus kecil dengan mahasiswa-mahasiswa usil berotak digital yang akhirnya membuat sebuah server berisi film-film bajakan yang harus terjaga kerahasiaannya dari dunia luar kampus karena bisa ditangkap pasal entah berapa dan tentang apa. Dorama yang berhasil membuat cowok-cowok yang kos dibelakang pun menangis. Dorama yang menceritakan perjuangan seorang gadis SMA yang bertahan dengan penyakit ALS-nya.

Posisiku pas di tengah, di depan layar kompie. Lainnya menyebar di sisi kiri dan kanan. Alih-alih menangis nonton film yang mengharu biru ini, aku malah jadi ditributor tisu yang memang cuma ada satu di kamar. Tiap kali ada adegan yang menyesakkan dada, pasti ada yang berteriak dengan suara parau,
“Tisuu..”
Akhirnya, jika si tisu sedang di sayap kiri, tangan kiri hanya merentang meminta si tisu dinaikkan di atas telapak tangan dan mentransfernya ke tangan kanan untuk seterusnya di teruskan ke sayap kanan. Vice versa.

Di pikiranku saat nonton film itu cuma satu, ini kan ada skenario yang sudah dibuat sama sutradaranya (meskipun based dari film ini memang mengambil dari kisah nyata) sambil membayangkan para pemain yang sedang casting film sambil tertawa ketika salah melakukan sebuah adegan. Logika lebih dominan daripada perasaaan. Akal bisa menaklukkan hati. Akhirnya, datar.

Cerita dimana-mana sama saja. Ada sutradara, skenario, dan pemain. Jikalau akal ini bisa lebih sangat dominan menguasai keadaan daripada hati yang sedang mengerdil, mungkin ketika menjalani kehidupan pun akan lebih stabil. Si akal tahu kalo hidup ini hanya cerita sementara. Semua sudah ada jalan skenarionya. Dan diatas itu semua, si akal pun tahu kalo Sang Sutradara itu sutradara terbaik diatas yang terbaik di alam semesta. Jikalau si akal dapat lebih meyakinkan hati yang merupakan pusat komando segala arah gerak kehidupan, mungkin kombinasi mereka berdua bisa jadi sangat menenangkan.

Ketika akal dengan segala logikanya dapat menguatkan hati yang sedang goyah, kita pun bisa menengadahkan wajah ke langit, mencoba mencari wajahNya dan berkata,
“It’s ok, ne…Lord”
Keyakinan itu pun menguat mengingat Ia pun mengangguk, tersenyum, dan menguatkan.

Kadang semuanya berkebalikan. Hati lah yang harus menaklukkan akal. Semua tergantung keadaan kan…

Untuk ketakutan-ketakutan yang tak pernah sirna, trust Him more and smile πŸ™‚

γ γ„γ˜γ‚‡γ†γΆγ€‚γ€‚
γ™γΉγ¦γŒγ€γ‚‚γ‚Šγ γ„γ˜γ‚‡γ†γΆγ γ‚γ†γ€‚γ€‚οΌΎοΌΎ

Advertisements

6 comments on “Trust Him More

  1. Di kosan kami dl juga suka nobar. Nobar sinetron, iklan ato apapun di tv.

    tapi krna isinya anak sastra dan fisip yg dibahas persis kaya di atas, sgla teknis di balik layar dan cengceremennya πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s