Nikmat Iman

Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib radhiallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Orang yang telah meridhoi Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabinya, sungguh ia telah merasakan nikmat iman.” (Syarah shahih muslim: 2/2)

***

Hadits itu menunjukkan bahwa orang yang berada di luar ketentuan itu berarti tidak pernah merasakan manisnya iman, karena iman hanya rupa tanpa nyawa. Lahir tanpa hakikat.

Hadits itu pun menunjukkan bahwa hati yang bersih dari penyakit lalai dan nafsu akan menikmati lezatnya pelbagai hakikat, selayaknya tubuh yang menikmati lezatnya makanan.

Ridho Allah sebagai Tuhannya
Hanya orang yang rela Allah sebagai Tuhannya-lah yang bisa merasakan nikmatnya iman. Sebab, ketika ia ridho, ia pasrah kepada-Nya, mematuhi ketetapanNya, serta menyerahkan kendali kepadaNya, tidak ikut mengatur dan memilih, serta selalu menerima aturan dan pilihan terbaikNya. Ketika itulah, ia merasakan nikmatnya hidup dan lezatnya kepasrahan.

Ketika ia ridho Allah sebagai Tuhannya, ia pun mendapatkan ridho Allah. Allah berfirman,
“Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepadaNya.” [5:119, 9:100, 58:22, 98:8]

Apabila ia telah ridho kepada Allah, Allah akan memberinya nikmat keridhoan agar ia mengetahui karunia dan anugerahNya untuknya.

Berkat pemahaman, ridho kepada Allah terwujud
Hanya melalui cahaya, pemahaman akan terwujud
Hanya melalui kedekatan, cahayamu akan memancar
Dan hanya berkat pertolongan, kedekatan akan tersingkap

Ketika hamba mendapatkan pertolongan, ia mendapatkan pemberian dan khazanah karuniaNya. Hatinya bersih dari segala penyakit berkat karunia dan cahaya Allah. Dengan begitu, ia memiliki daya tangkap yang sehat sehingga bisa merasakan lezat dan nikmat iman.

Jika saja hatinya sakit karena melalaikan Allah, tentu ia tidak akan merasakannya. Sama halnya, orang yang demam akan merasakan gula itu pahit. Apabila penyakit hatinya telah lenyap, ia bisa merasakan segala sesuatu seperti aslinya. Ia dapat merasakan nikmatnya iman, lezatnya ketaatan, serta pahitnya pembangkangan. Karena tahu bahwa iman itu manis, ia menyenanginya, menyadari karunia Allah di dalamnya, serta mencari berbagai cara untuk menjaganya. Selain itu, ia dapat merasakan lezatnya ketaatan, terus memeliharanya, dan menyaksikan karunia Allah kepadanya.

Di sisi lain, karena tahu bahwa kekufuran dan pengingkaran itu pahit, ia tidak menyukainya dan selalu berusaha menjauhinya. Keadaan itu mendorongnya untuk meninggalkan dosa dan berpaling darinya.

Kendati demikian, tidak setiap yang melihat akan meninggalkan (kufur dan ingkar) dan tidak setiap yang meninggalkan akan berpaling. Ia bisa bersikap seperti itu karena cahaya bashirah menunjukkan kepadanya bahwa membangkang dan melalaikan Allah adalah racun yang paling membinasakan hati. Jauhilah penentangan dan kekufuran sebagaimana kau menghindari makanan beracun.

Ridho Islam Sebagai Agamanya
Menunjukkan bahwa ia ridho terhadap sesuatu yang diridhoi dan dipilih oleh Allah. Jika telah meridhoi Islam sebagai agamanya, maka ia harus mengerjakan segala perintah, meninggalkan segala larangan, dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Ia tidak suka melihat seorang yang mulhid (orang yang tidak percaya kewujudan Tuhan) memasukkan sesuatu dari luar ajaran Islam. Serta merta ia akan menyanggahnya dan menjelaskan kepadanya ajaran yang benar.

Ridho Muhammad sebagai Nabinya
Ia harus setia kepadanya, meniru sikapnya, dan berakhlak dengan akhlaknya. Termasuk di antara akhlak Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah menetapi sikap zuhud di dunia, keluar dari tarikan dunia, menjauhi kejahatan, memaafkan orang yang menjahatinya, dan lain-lain. Selain itu, ia harus meniru tingkah laku Nabi, baik ucapan, perbuatan, mengambil dan meninggalkan, cinta, benci, serta lahir dan batinnya.

Siapa yang ridho kepada Allah, ia pasrah kepadaNya
Siapa yang ridho kepada Islam, ia akan mengamalkannya
Siapa yang ridho kepada Muhammad, pasti ia mengikutinya

Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Menetapi salah satunya, berarti harus menetapi semuanya, sebab tidak mungkin ia meridhoi Allah sebagai Tuhannya, namun ia tidak ridho Islam sebagai agamanya, namun tidak ridho Muhammad sebagai nabinya. Keterkaitan antara ketiganya begitu jelas.

.:Ibnu ‘Athaillah al Sakandari:.

Advertisements

2 comments on “Nikmat Iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s