Kisah Bani Israil

Ini adalah salah satu kisah dari banyak kisah Bani Israil yang diceritakan dalam Al Qur’an. Kisah Bani Israil yang meminta ganti minuman yang manis dan burung yang lezat yang bisa didapat dengan mudah dengan bawang putih, bawang merah, dan adas.

Ingat??
Jika lupa, coba buka mushafnya. Al Baqarah (2): 61.
Tidak bawa mushaf??
Coba buka hapenya. Klik Al Qur’an digitalnya.
Tidak ada aplikasinya??
Oke, saya ceritakan saja kisahnya. Asal setelah ini, jangan pernah lupa untuk membawa mushaf anda dimanapun anda berada.

Setelah melarikan diri dari kejaran Fir’aun dan meninggalkan Mesir, kaum Bani Israil terdampar di sebuah padang sahara yang gersang dengan terik sinar mentari yang panas membara. Pertolongan Allah pun datang. Allah turunkan manna (minuman sejenis madu) yang keluar dari sebuah mata air dengan derasnya dan salwa (makanan sejenis burung puyuh) untuk mereka. Allah pilihkan untuk mereka makanan dan minuman terbaik sebagai pengganti makanan dan minuman yang biasa mereka konsumsi di Mesir di bawah perbudakan Fir’aun.

Apa yang dilakukan Bani Israil dengan pemberian dari Allah tersebut??
Bersyukur??
Ayolah, kisah ini tak akan pernah saya tulis jika pada akhirnya mereka dengan eloknya mau bersyukur.

Sesuai dengan sifat mereka yang sombong dan keras kepala, Bani Israil pun kembali melakukan pembangkangan pada Allah dan nabi mereka, Musa ‘alaihi sallam, dengan menolak apa yang sudah Allah sudah sediakan dan meminta ganti dengan makanan yang dahulu biasa mereka makan.

Mereka berkata kepada Musa,
“Mintakan kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia megeluarkan apa yang ditumbuhkan bumi berupa sayur mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya.”

Nabi Musa pun heran dengan permintaan mereka dan bertanya,
“Apakah kalian akan mengganti sesuatu yang lebih baik dengan sesuatu yang lebih rendah?? Pergilah kalian ke sebuah kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu pinta..”

Apa yang terjadi pada mereka pada akhirnya??
Kehinaan, kenistaan, dan murka Allah subhanahu wa ta’ala atas mereka.
Akhir yang buruk untuk sebuah sikap yang buruk..

~0~

Dan, inilah penafsiran Ibnu ‘Athaillah tentang kisah tersebut.
Secara lahiriah, kisah tersebut dapat ditafsirkan sesuai kisah aslinya. Sebuah pertanyaan untuk Bani Israil,
“Kalian mau menggantikan minuman yang manis dan burung yang sangat lezat dan dengan mudah didapat dengan bawang putih, bawang merah, dan adas??”

Secara hakikat, manna dan salwa diibaratkan kehendak Allah yang baik. Bawang putih, bawang merah, dan kacang adas diibaratkan kehendak manusia yang lebih rendah. Jadi, jika pertanyaan sebelumnya disusun dengan menggunakan peribaratan dari Ibnu ‘Athaillah akan didapat sebuah pertanyaan untuk kita, manusia, yang bunyinya,
“Kalian mau menggantikan kehendak Allah yang lebih baik untuk diri kalian dengan sesuatu yang lebih rendah, yaitu apa yang kalian inginkan??”

Sayyid Quthb pun berpendapat hampir sama dengan Ibnu ‘Athaillah,
“Apakah kalian menginginkan kehinaan padahal Allah menginginkan kemuliaan untuk kalian??”

Paham??
Fahimtum??
Wakaru??
Ngerti??
Nangkep maksudnya??

Oke, mari kita perjelas lagi. Kali ini kita gabungkan antara penafsiran Ibnu ‘Athaillah dengan Sayyid Quthb.

Secara lahiriah
Allah sebenarnya mempunyai kehendak yang baik untuk Bani Israil dengan memberikan mereka kebebasan dari cengkeraman Fir’aun serta menghilangkan kehinaan dan kenistaan mereka sebagai seorang budak agar kelak mereka menjadi pewaris tanah suci.

Allah sebenarnya mempunyai kehendak yang baik untuk Bani Israil dengan memberikan makanan dan minuman yang sangat lezat untuk memuliakan dan kelak akan mengangkat derajat mereka.

Bani Israil sebenarnya hanya harus sedikit bersabar untuk membayar harga dari apa yang telah Allah berikan. Mereka hanya harus meninggalkan makanan dan minuman yang biasa mereka nikmati dan menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupan mereka yang baru. Bukankah tiap kali ada kenaikan level hidup pasti ada beberapa penyesuaian yang harus kita lakukan?? Seorang petani yang tiba-tiba diangkat menjadi seorang menteri tentu harus menyesuaikan dirinya dengan lingkungan barunya kan. Dan itu perlu usaha yang terkadang tidak mudah..

Sayangnya, Bani Israil tetaplah Bani Israil. Sampai kapan pun sikap mereka akan tetap sama. Padahal sebenarnya ada kemuliaan di ujung akhirnya…

Secara hakikat
Allah sebenarnya mempunyai kehendak yang baik untuk hambaNya dengan memberikan rencana-rencana terbaikNya untuk memuliakan dan kelak mengangkat derajat kita. Tapi, terkadang kita kurang bersabar untuk memahami maksudNya atau mungkin kita terlalu arogan sehingga memaksakan setiap keinginan kita kepadaNya. Mengumpat, mengeluhkan, mempertanyakan setiap kejadian yang tidak sesuai dengan rencana kehidupan kita. Atau, mengacuhkan petunjuk hidupNya..

Jadi, apakah kita ingin seperti Bani Israil??
Maukah kita menukar emas pemberianNya dengan debu pilihan kita??

Yang perlu diingat, tak semua kehendak baikNya dapat dilihat dengan jelas sejelas manna dan salwa. Terkadang kehendak baikNya datang dalam bentuk yang tak dapat kita lihat atau kita raba. Mungkin saja ia datang berupa rasa. Rasa lapang, damai, tentram. Atau bentuk lain yang terkadang perlu usaha lebih bagi kita untuk bisa memahaminya. Terkadang pemahaman kita akan kehendak baikNya tidak datang saat ini juga. Ia bisa datang beberapa jam atau beberapa hari atau beberapa tahun ke depan. Untuk itu, kita hanya harus terus mencarinya dengan yakin dan sabar.

Moga Allah lapangkan..

Wallahu’alam

Referensi:
1. Misteri Berserah kepada Allah, Ibnu ‘Athaillah al Sakandari
2. Fi Zhilalil Qur’an, Sayyid Quthb

Advertisements

4 comments on “Kisah Bani Israil

  1. Wakakak sifat alami manusia itu nggak pernah puas, itu yange membuat manusia ingin ini itu padahal belum tentu baik baginya. Ia berkeinginan hanya mengikuti sedikit penglihatannya dan merasa lebih baik jika ia mendapat apa yang dilihatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s