Wajibnya Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu..

Dari Abu Said radhiallahu’anhu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia ubah dengan tangannya, jika belum mampu maka dengan lisannya, jika belum mampu juga maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”
(Hadits shahih riwayat Muslim, Ahmad, dan Ashabussunan)

IMG-20160128-WA0006

Penjelasan Hadits
Hadits ini menunjukkan wajibnya amar ma’ruf nahi mungkar karena dalilnya dengan lafaz perintah (fal yughoyyiruhu) dan hukumnya adalah fardlu kifayah.

Hadits ini sekaligus menunjukkan tingkatan dalam nahi mungkar yang paling tinggi adalah dengan tangan terutama bagi orang-orang yang memiliki kekuasaan dalam syari’at atas orang lain maka hukumnya menjadi fardlu ‘ain.
Seperti seorang ayah atas anaknya sebagaimana dalam hadits,
“…Dan pukullah mereka (anak-anak kalian) jika meninggalkan sholat ketika mereka berumur 10 tahun..” (H.R. Abu Dawud 495, dihasankan oleh syaikh Al-Albani).
Sebagaimana suami atas istrinya. Seperti yang Allah firmankan,
“..Dan pukullah mereka (istri-istri kalian, bila tidak berhenti dari kemungkaran dengan nasihat).” [An Nisa:34].
Sebagaimana ulil amri atas rakyatnya, sebagaimana dalam dalil penerapan hukum hudud (hukum-hukum yang ditentukan oleh Allah dalam Al Qur’an dan hadits).

Orang-orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar hendaknya berilmu tentang apa yang ia perintahkan dan apa yang ia larangkan. Apabila tentang perkara yang sudah jelas dalam syari’at seperti sholat, mabuk, puasa, zina, mencuri, dan sebagainya, maka tiap muslim dapat melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan lisannya. Namun, apabila berkaitan dengan perkara-perkara yang lebih mendetail dalam syari’at seperti riba dan macam-macamnya dan contoh mu’amalah ribawi, hal-hal yang berkaitan dengan jihad serta perkara mendetail lainnya, maka amar ma’ruf nahi mungkar dalam hal ini hanya boleh dilakukan oleh para ulama dan para ustadz.

(Maka ubahlah dengan hatinya..) yaitu membenci kemungkaran tersebut dan tidak meridloinya dan ini adalah fardlu ‘ain bagi setiap muslim untuk membenci setiap kemungkaran yang terjadi di sekitarnya walaupun hal itu sudah dianggap oleh kaum muslimin di sekitarnya, seperti tabarruj, sumpah palsu, korupsi, dan lainnya.

Hadits ini tidak kontradiksi dengan ayat,
“..hendaklah kalian jaga diri kalian masing-masing, orang-orang yang sesat tidak akan memudlaratkan kalian bila kalian telah mendapatkan petunjuk..” [Al Maidah:105]

Maksudnya adalah, jika kalian telah melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang serta beramar ma’ruf nahi mungkar, maka kalian tidak akan dikenai sangsi atas kesesatan yang dilakukan orang-orang yang sesat dan kesalahan orang-orang yang salah.

Ustadz Varian Lc hafidzahullah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s