Tanpa Musik

Just Saving For Myself 🙂

Ibnul Qayyim, seorang ulama besar menceritakan kondisi pecandu musik pada kita. Salah satu tanda munafik adalah sedikit berdzikir pada Allah, malas saat mendirikan sholat, juga sholat dengan mematuk. Lalu Ibnul Qayyim melanjutkan, inilah sifat orang yang menggandrungi musik, kecuali hanya sedikit.

Untuk haramnya musik, sudah jelas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Akan ada kaum dari umat ini yang menghalalkan khamr, zina, sutera, dan musik.” (H.R Bukhari)
Hadits ini adalah riwayat Bukhari. Statusnya shahih (??). Inilah dalil qat’hi (tegas, jelas) tentang haramnya musik. Mereka yang bilang tidak ada dalil qat’hi tentang larangan musik barangkali belum membaca hadits ini. Ingat, dalam hadits itu, musik disejajarkan dengan hal-hal haram lainnya. Zina, sutera, khamr.

Kita sayang pada badan kita, maka kita tidak memakan racun yang bisa membunuh kita. Sementara bahaya musik adalah bahaya bagi hati kita, sesuatu yang menentukan keselamatan kita di dunia dan akhirat. Jika hati kita sehat dan baik, maka tubuh kita pun baik. Hati bagaikan raja bagi anggota badan.

Sementara musik merusak hati, menumbuhkan kemunafikan dalam dirinya, yaitu malas sholat, sedikit berdzikir, dan sholat dengan cepat. Sifat inilah yang banyak ditemukan pada mereka yang menggandrungi musik dan nyanyian. Seperti penjelasan Ibnul Qayyim.

Musik adalah qur’annya setan, maka tidak akan bisa berada bersama Qur’an di hati seseorang. Penjelasannya, seseorang yang hatinya terisi dengan Al Qur’an tidak mungkin bisa menggandrungi musik. Orang yang hatinya terisi Al Qur’an dan kebenaran, dia menangis ketika mendengar bacaan Al Qur’an. Sebaliknya, mereka yang menggandrungi musik, tidak akan bisa merasakan nikmat sholat dan Al Qur’an. Orang yang hatinya cinta musik, dia mencintai yang dibenci Allah. Sementara dia menampakkan diri sebagai orang sholeh. Menampakkan keshalehan, menampakkan cinta Allah dan semangat mengejar akhirat, tapi hatinya cinta musik. Ini adalah sebuah bentuk kemunafikan. Demikian penjelasan Ibnul Qayyim.

Mari kita periksa diri kita, apakah kita sudah terjangkit tanda-tanda munafik??
Bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk membuat telingan berpuasa dari musik. Jika kita ingin membersihkan jiwa dengan Al Qur’an, jangan kotori lagi jiwa ini dengan musik. Bagaimana dengan musik religi yang semakin marak di bulan ramadhan??
Musik religi adalah menyanyikan syair-syair hikmah sambil diiringi musik. Syair yang berisi nasihat. Tapi bunyi musik adalah haram, seperti hadits Nabi diatas. Maka ini mencampurkan kebenaran dan kebatilan.
Apakah hikmah-hikmah dari Al Qur’an sudah kita pelajari semua sehingga kita perlu mencari hikmah dari lainnya??
Apakah tidak ada hikmah di selain lagu religi sehingga kita memaksa diri untuk mendengarnya??
Ketika kita mendengar lagu religi, kita menikmati syair yang isinya hikmah, tapi ada yang haram disitu.

Mari kita periksa diri kita, apa yang kita cari ketika mendengar lagu religi??
Menikmati musik atau mencari hikmah??
Apakah Al Qur’an tidak lagi mengandung hikmah hingga kita mencari hikmah di lagu religi??
Al Qur’an itu berisi petunjuk dari Allah, menuju jalan terang benderang tanpa ada keraguan di dalamnya. Juga kitab-kitab hadits, apakah sabda Nabi sudah tidak lagi mengandung hikmah??

Mereka yang mencari hikmah pada selain Al Qur’an maka tidak mencari hikmah di Al Qur’an. Tidak akan suka Al Qur’an. Hatinya sudah terpaut pada selain Al Qur’an, maka tidak gemar lagi pada Al Qur’an. Padahal Al Qur’an adalah petunjuk.
Apa yang terjadi jika kita sudah tidak gemar pada petunjuk??
Apa yang terjadi jika kita sudah tidak gemar hidayah??
Dimanakah adanya hidayah Allah??
Apakah pada lagu religi??
Atau pada Al Qur’an dan sabda Nabi??
Bulan ramadhan adalah bulan Al Qur’an. Saatnya kita menyerap hikmah Al Qur’an.

Ustadz Syarif Baraja hafidzahullah

***

Record: 2 months lalu keok……
Recount: itsu??

Advertisements

2 comments on “Tanpa Musik

  1. Wah ternyata musik itu haram bagi muslim ha ha ha….. Tapi kok banyak penikmat musik di indonesia ya? Susahnya klo udah dilakukan banyak orang jadi terlihat baik2 saja dan menganggapnya sesuatu yang wajar. Efek sosial proof.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s