Racun Kebaikan

“Jadi orang jangan baik-baik amatlah. Dunia itu kejam. Kita harus jadi orang yang egois.” kata si mbak tiba-tiba. Suasana perpus yang sunyi menjadikan suaranya terdengar seperti suara teriakan.
“Eh..” aku urung memasukkan charger laptop ke stop kontak. Berdiri tegak dan terbengong sejenak menatap wajah si mbak kemudian tertawa ngakak melihat wajah polosnya.
“Kenapa Mbak?? Udah terkena racun kebaikan ya??” jawabku sambil kembali menunduk memasukkan si charger.
Si mbak terdiam. Aku hanya tersenyum dan menghadirkan kembali cerita masa lalunya dalam ingatan. Cerita yang menjadi alasan kenapa ia berkata demikian.

Ada satu dua kejadian hidup yang mungkin pernah dialami seseorang yang mampu mengubah pandangan hidupnya. Seseorang yang dulu begitu baiknya, mungkin berubah menjadi sedikit skeptis terhadap kebaikan dirinya sendiri. Satu dua kejadian pahit menjadikannya berubah menjadi seseorang yang selalu waspada. Instingnya sudah berubah.

Kelakuan mereka yang suka memanfaatkan kebaikan orang lain berhasil mengubah cara pandang seseorang tentang sebuah kebaikan. Siapa yang salah?? Seseorang yang terlalu baik sehingga dengan mudah dimanfaatkan atau mereka yang memanfaatkan?? Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Karena mestinya seseorang harus melihat ke dalam dirinya dulu dan berusaha memahami kenapa pihak lain berbuat demikian.

Ustadz Syatori pernah mengatakan,
“Kenapa harus takut dimanfaatkan ketika kita berusaha menjadi orang baik?? Bukankah katanya kita ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain?? Berarti kita harus berterima kasih pada mereka yang sudah memanfaatkan kita kan. Tapi yo jangan lupa, mereka diingatkan. Kalau kita tak ingin menjadi sepah yang dibuang setelah habis manisnya, kenapa kita tak selalu menjadikan diri kita manis??”

Sebuah nasihat yang terus terngiang sedari pertama kali mendengar.

Expect nothing from the people. Hidup ini hanya urusan kita dengan Allah. Lakukan apa yang Ia inginkan, jauhi apa yang tak Ia sukai. Ia suka kebaikan, maka lakukan kebaikan. Masalah dimanfaatkan atau tidak, biarkan Dia yang mengadili. Siapa tahu keikhlasan kita melakukan kebaikan menyebabkan mereka yang berniat tidak baik diluruskan hatinya olehNya. Seperti kisah seorang lelaki yang memberi sedekah pada pencuri, pelacur, dan si bakhil. Bukankah semua yang kita miliki dalam hidup ini bukan asli milik kita. Materi, waktu, tenaga, akhirnya yang kita nikmati adalah yang benar-benar menjadi rezeki kita yang sudah ditentukan olehNya. Tak berkurang maupun bertambah. Selalu tepat…

Hidup memang banyak tempaan. Banyak hal yang mungkin tanpa disadari mengeroposkan lalu meruntuhkan keyakinan. Materialisme, kapitalisme membabi buta. Siapa peduli orang lain yang penting diri “bahagia” meski kebahagiaan itu hanya semu belaka. Maka, berpeganglah pada tali buhul yang kokoh…

~ Bye Rain. Thanks for coming and refresh my mind 🙂 ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s