Kebenaran Relatif, Adakah??

Ustad Hanan Attaki pernah berkata,

“Jika terlalu banyak sumber informasi mengatakan banyak hal yang bertentangan satu sama lain, maka kembalikan semua ke Al Qur’an dan sunnah.”

Itu beliau katakan ketika sedang membahas sebuah peristiwa besar akhir zaman. Ketika semua mempertanyakan kenapa kita harus membela Palestine?? Bukankah itu hanya pertentangan masalah batas wilayah negara antara mereka dan yahudi?? Itu tingkatan makro. Bagaimana jika kasusnya tingkat mikro?? Bisakah konsep tersebut diterapkan?? Bisa..tentu saja sangat bisa.

Satu pihak mengeluarkan sebuah pernyataan. Satu lagi mengeluarkan pernyataan yang berbeda. Keduanya merasa tindakan masing-masing itu benar. Hanya dua hal yang bertentangan saja sudah membingungkan. Bukankah dimana-mana kebenaran hanya ada satu?? Orang luar, seperti biasa, akan ikut berpendapat. Menambah kericuhan. Pro dan kontra, itu biasa.

Masing-masing memiliki dasar sendiri-sendiri. Mengira bahwa tak ada yang salah dengan pendapat mereka. Lagi-lagi, adakah dua kebenaran untuk satu hal?? Ketika semua mendasarkan pada perspektif masing-masing tanpa mendasarkan pada sebuah pegangan mutlak, seorang dengan yang lain akan mempunyai sebuah pandangan yang berlainan. Yang dikhawatirkan adalah ketika yang menjadi landasan pendapat tak lagi murni untuk kebenaran, tapi sudah tercemar banyak hal; kepentingan, nafsu, ego. Ketika kebenaran relatif dapat menjadi dasar, bagaimana jika seorang koruptor berpendapat menurut perspektifnya bahwa yang ia lakukan menurutnya adalah baik?? Ia tak akan pernah salah karena secara relatif, berdasarkan perspektifnya, ia merasa benar. Bisakah diterima alasannya??

Seseorang pernah berpendapat yang intinya,
“Bukanlah kebenaran ketika satu orang memandang dari satu sisi, dan seorang yang lain dari sisi yang lain. Kebenaran adalah gabungan dari keseluruhannya.”

Perspektif-perspektif itu akan menjadi sebuah perspektif kebenaran yang utuh jika satu persatu perspektif itu digabungkan menjadi satu. Terkadang sebelum digabungkan, ada beberapa perpektif yang perlu dilihat lagi kebenarannya, adakah yang perlu dipotong dan dihilangkan karena mungkin di dalamnya ada sebuah bagian yang berisi kotoran hawa nafsu semata.

“More than the sum of its part“, salah satu dasar dari system thinking. Melihat dan menganalisis sesuatu tidak hanya per bagiannya tapi secara keseluruhan. Dengan melihat gambaran besar, big picture, dari sebuah hal. Ibarat beberapa orang buta yang belum pernah melihat gajah sebelumnya, lalu disuruh memegang gajah dari beberapa bagian. Gambaran mereka ketika ditanya bentuk sebuah gajah akan berbeda satu sama lain karena yang mereka tahu hanya bagian yang mereka pegang saja. Dan tentu saja, tak ada dari mereka yang benar menerjemahkan bentuk gajah yang sesungguhnya. Mungkin ia akan benar ketika diberi pertanyaan, apakah gajah itu mempunyai telinga yang lebar?? Yang memegang telinga akan mengatakan ya. Tapi tetap, itu bukanlah bentuk gajah yang sesungguhnya dan mungkin saja mereka yang memegang bagian lain dari gajah akan menyalahkannya.

Benarlah pendapat salah seorang kawan,

Pada tema-tema yang jarang dan sulit dipahami oleh kebanyakan orang, pembaca latah akan menelan salah satu pendapat, sementara pembaca kritis akan lanjut mengkaji sembari masih terus terombang-ambing dalam kebingungan.

Baguslah jika yang terombang-ambing kebingungan itu sabar dan telaten mau mencari satu titik kebenaran yang mutlak benarnya. Bagaimana jika dalam kebingungannya akhirnya ia hanya mencampakkannya ke tempat sampah. Sebodo amat, wasting time. Masih banyak hal-hal lain yang lebih bermanfaat yang bisa dipikirkan dan dilakukan daripada berkutat di wilayah abu-abu yang entah kapan akan ketemu putih atau hitamnya. Menjadi makhluk yang skeptis kemudian apatis akan sesuatu.

Pola sejarah itu akan terus berulang. Jika lah kita mau melihat dan memahami sejarah peradaban Islam, permasalahan yang ada sekarang pun sebenarnya sama dengan yang ada pada zaman Rasulullah, sahabat, tabi’in, maupun tabi’ut tabi’in. Perbedaannya lagi-lagi hanya pada pelakunya. Landasan kebenaran mutlak, Al Qur’an, benar-benar dipegang teguh. Kepercayaan yang kuat antara pemimpin dan yang dipimpin karena ukhuwah yang benar-benar berdasarkan Illah. Kebiasaan itsar yang sungguh luar biasa. Ketika setiap diri mau menilik pada dirinya sendiri, apakah yang ia kerjakan sesuai dengan pegangan kebenaran mutlak ataukah menyimpang darinya, dan menyingkirkan egonya demi sebuah kebenaran, semua abu-abu yang membingungkan dan memecah belah persatuan itu mungkin akan hilang.

#PrayHardForThisUmmah

~A very random thought over day by day and you can’t hold it anymore…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s