Antara Filsafat dan Teknik

“Filsafat itu apa sih Mbak??” tanya si Feb setelah mendengar jurusan filsafat disebut
“Eh..apa ya. Filsafat itu menggali sesuatu lebih jauh. Hemm…gimana ya. Pokoknya dia itu menanyakan dalamnya sesuatu.” jawabku, seperti biasa, abstrak. Susah menjelaskan sesuatu secara lisan.
“Filsafat itu gini…” sambung si genius Zi yang duduk di sebelah kiri si Feb.
“1+1=2, ..”
“kenapa??” sahutku dan si Zi berbarengan
“Iyaa..benerrr Zi..’kenapa’. Filsafat itu sering pake kata ‘kenapa’. Gampangnya gitu aja kali ya..” kataku
“1+1=2 itu sudah tinggal terima aja kan kalo di kita. Soalnya kita dari kecil sudah dikasih tahu kalo 1+1 itu sama dengan 2. Coba kalo 1+1=3, kita sampe sekarang juga pasti jawabnya 3 kalo ditanya jawaban 1+1. Nah, kalo di filsafat 1+1 masih ditanya lagi. Kenapa jawabannya harus 2?? Bukan 3 atau 4?? Topi ini kenapa hitam?? Kalo kita mah tinggal pake-pake aja gak usah nanya kenapa harus warnanya hitam. Kalo anak filsafat, harus ada alasan kenapa topi ini dibuat berwarna hitam.” terang si Zi dengan logat khas padangnya
“Gini deh, kalo di teknik kan kita biasanya menyederhanakan sesuatu yang kompleks. Nah kalo di filsafat itu kebalikannya. Filsafat malah merumitkan sesuatu yang sebenarnya sederhana. Kalo filsafat berpikir secara konvergen (menyempit), teknik lebih ke arah berpikir secara divergen (meluas -simplification of generalization..??-).” lanjutnya
“Ahaa…bisa juga Zi..” sahutku. New insight…new insight..new insight..yess!!

~0~

Ternyata bisa ada kontradiksi juga, meskipun tidak begitu apple to apple jika dibandingkan. Selama ini saya berpikir bahwa filsafat adalah sebuah ilmu yang konsepnya dapat dipakai pada disiplin ilmu mana saja. Menggali hakikat dari segala sesuatu sehingga menjadi lebih jelas kebenarannya. Mempertanyakan hingga ke dasar sebab dari segala sesuatu, alasan-alasan logis yang mendasari sesuatu hingga sesuatu itu bisa ada.

Di teknik (industri), sebuah sistem yang kompleks di dunia nyata akan coba dibuat sebuah beberapa model yang sederhana untuk kemudian di lakukan trial sehingga didapat sebuah model dengan hasil yang mempunyai tingkat error paling kecil serta paling mendekati dunia nyata. Pola pikirnya meluas. Mencoba mencari beberapa alternatif model untuk kemudian dicari yang paling efektif dan efisien untuk diaplikasikan. Di filsafat, sebuah entitas yang sudah ada akan dipertanyakan sampai mendetail hingga didapatlah hakikat sebenarnya dari entitas tersebut. Pola pikirnya divergen. Menyempit ke dalam. Dan ini biasanya lebih ke arah sains. Contohnya ya seperti yang diterangkan si Zi.

Tapi, kalo dilihat lagi sebenarnya tidak dapat dilakukan dikotomi antara keduanya. Paradoks jawabannya si Zi antara teknik dan filsafat hanya untuk memudahkan penjelasan saja. Karena, tetap saja, konsep berpikir dari si filsafat itu digunakan juga untuk menyelidiki setiap alternatif-alternatif model yang didesain oleh si teknik. Menggunakan pertanyaan-pertanyaan logis untuk menguji dasar-dasar pembuatan sebuah model. Ketika pola konvergen sudah digunakan, maka langkah selanjutnya adalah menggunakan langkah-langkah divergen untuk mereduksi sekian banyak alternatif model yang ada.

Jadi,
Let’s think deeply and creatively to create a better society..

Sekian
Wassalam
“Adios Permios” kalo kata si soson

_cogito ergo sum_

Advertisements

2 comments on “Antara Filsafat dan Teknik

  1. Saya dari zaman kuliah tertarik sama filsafat. Tapi ya itu, nggak pernah punya guru untuk bertanya. Jadi ya nggak ngerti2 ha ha ha……..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s