Q.S. Al Baqarah: 269 [Al-Hikmah]

“Allah telah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang berakallah yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah.” (QS Al Baqarah [2]:269]

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu mengaitkan hikmah dengan benarnya pemikiran, perkataan, dan perbuatan (Tafsir Tanwir al-Miqbas). Sedangkan Sayyid Quthb rahimahullah (Tafsir Fi-Zhilalil Qur’an) menafsirkan bahwa mereka yang dianugerahi hikmah adalah mereka yang diberi anugerah sikap moderat, tidak berbuat keji, dan tidak melampaui batas. Diberi anugerah pemahaman tentang sebab akibat sehingga tidak akan salah dalam menilai berbagai persoalan. Diberi anugerah penglihatan yang tajam sehingga bisa menuntun ke arah yang benar, baik dalam bertindak maupun berbuat.

Masih menurut Sayyid Quthb rahimahullah, hikmah ini diberikan Allah kepada siapa yang dikehendakiNya dari kalangan hamba-hambaNya. Terserah Allah mau diberikan kepada siapa. Di waktu yang sama, Al Qur’an menetapkan hakikat yang lain. Yaitu, siapa yang menginginkan petunjuk dan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkannya, maka Allah akan membantunya.

“Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan Kami), benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [29:69]

Ayat ini bersifat menentramkan hati mereka yang berusaha mendapatkan petunjuk Allah. Mereka yakin bahwa Allah mendukung usaha mereka dan akan memberinya hikmah, yang dengan hikmah itu mereka akan mendapatkan karunia yang banyak.

Ustadz Dian Nafi’ hafidzahullah, dalam tulisannya berjudul Mengajarkan Berimajinasi, mengaitkan hikmah dengan imajinasi. Menurut beliau, al hikmah itu kebijaksanaan berdasarkan tuntunan Ilahi. Muatannya termasuk kecakapan membuat konsep riil yang memandu hidup bermartabat berdasarkan petunjuk agama.

Modalnya adalah pengamatan, pemikiran, penghayatan, dan pengamalan yang disadari. Manusia dewasa butuh konsep. Sebaiknya konsep itu ia gali sendiri, tidak meniru-niru. Untuk menggali konsep, dibutuhkan kecakapan berimajinasi, yaitu menggambar kehidupan di dalam pikiran kemudian menjalaninya sebagai kenyataan yang bermartabat. Kecakapan berimajinasi menjadikan orang tidak bergantung pada banyak instruksi. Prakarsa dibiasakan tumbuh dari dalam diri.

Memanfaatkan hikmah untuk kemanfaatan yang lebih luas. Bisakah??
Karena sosial lebih utama daripada individual..

Wallahu a’lam bi showwab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s