Pembenaran

Mendung hitam tipis masih menggelayut di langit senja. Kita masih enggan beranjak dari bangku kayu depan toko ATK. Beristirahat sejenak melihat lalu lalang kendaraan di jalanan depan toko setelah lelah berputar-putar mencari tempat yang akhirnya tak kunjung ketemu juntrungannya.

“Berasa pengen balik lagi kuliah di Bandung ya..” aku memecah keheningan
“Aku nyesel Mbak kemarin gak belajar serius pas di Bandung.” sahutnya, junior semasa SMA juga junior semasa di Bandung
“Eh, kenapa??” tanyaku sambil memalingkan wajahku ke arahnya
“Kok kayaknya aku dulu terlalu banyak menghabiskan waktu untuk organisasi. Kuliahku keteteran. Sekarang susah mau belajar lagi.” jawabnya yang melanjutkan tingkat sarjana dan masternya di salah satu perguruan tinggi swasta dikota saat ini kita berada
“Kan, belajar bisa dimana aja..” kataku
“Iya Mbak, tapi kan kondisinya beda. Dulu masih ada lab yang bisa 24 jam ditanyai kalo ada kesulitan, masih ada senior-senior yang mau direpotin..” jawabnya panjang

Aku ingin mengatakan,
“Kan, asal ada niat pasti ada jalannya..”
Tapi aku urung melakukannya. Dia salah satu makhluk paling keras kepala yang pernah kukenal. Tak akan pernah selesai pembicaraan jika aku melanjutkan kalimatku. Toh jika aku berada di posisinya, aku juga akan membuat sejumlah pembenaran. Mengatakan kalimat itu padanya sesungguhnya aku mengatakannya untuk diriku sendiri. Aku kembali menatap jalanan. Membiarkan dia dengan sejumlah alasannya dan membiarkan otakku terhenti pada kata terakhir “pembenaran”.

Sudah berapa banyak pembenaran yang dibuat dalam hidup ini. Pembenaran yang tidak benar-benar benar hanya sebatas penutup kepengecutan. Pembenaran yang sudah menghilangkan banyak kesempatan bahkan ketika belum ada usaha untuk mencobanya sama sekali. Pembenaran yang membuat terhenti mundur bahkan ketika kaki belum melangkah maju.

Pembenaran yang tidak benar-benar benar hanya sebatas pembenar untuk meloloskan keinginan hawa nafsu semata. Pembenaran yang perlahan melewati batas sia-sia dan syubhat. Dan terkadang tanpa disadari, batas maksiat pun tertabrak. Pembenaran yang mengaburkan kebenaran….

Kali ini, untuk setiap langkah yang akan kau ambil, hati-hati. Bersihkan hatimu, jernihkan akalmu. Lihat baik-baik itu pembenaran atau kebenaran??

Semoga Allah bimbing selalu….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s