[Catatan Jalanan] End~

DONE….!!

Cuma menyerahkan buku ke Forum Batik pastilah tak butuh waktu lama. Salam, kulo nuwun, ketemu si Bapak, kasihkeun, terima kasih, pamit. Simpel. Lalu lanjut dolan keliling Solo, salah…nyari titipan si Emak..
Tapi, bayangan tak selalu sama dengan kenyataan. Sudah ada 2 orang anak manusia yang duduk bersama si Bapak di teras depan. Apatah daya, ikutlah saya nimbrung bersama mereka. Satu mahasiswa dari universitas swasta di J-Town yang ingin membuat surat pengantar mencari data di kampung batik dan satunya lagi saudaranya si mahasiswa.

Pembicaraan si Bapak yang awalnya berkisar seputar aturan main untuk melakukan penelitian di daerah kekuasaan beliau berkembang menjadi percakapan mengasyikkan seputar Kampung Batik Laweyan. Dari sejarah, kiprah, sampai secuil kisah Haji Samanhudi yang merintis berdirinya Sarikat Islam. Hingga tiba saat beliau mengatakan bahwa ada beberapa Doktor dan seorang Profesor yang melakukan penelitian tentang kampung batik ini dan, seperti biasa, saya keceplosan bertanya meski si Bapak belum hendak menghentikan ceritanya. Padahal sebelumnya saya adalah pendengar yang baik. Sangat baik malah. Meski sesekali menimpali…

“Itu, hasil penelitian dari beliau-beliau diterapkan di sini gak Pak??” pertanyaan dari dulu yang selalu saya tanyakan dimanapun saya ketemu orang yang membicarakan tentang riset..
Si Bapak terdiam sesaat, setengah senyum yang..ehmm..entahlah..saya sedang malas menemukan istilah yang tepat..
“Ya, harusnya diaplikasikan tapi nyatanya ya belum ada yang dipakai..” jawab beliau
“Hemm…”

Kembali teringat jawaban dari pertanyaan serupa yang saya tanyakan pada 3 dosen pembicara di sebuah seminar pengenalan riset dosen, satu yang saya ingat jelas karena pada dasarnya inti jawaban beliau-beliau hampir sama,
“Peneliti itu jalan sunyi…”
Sambil menjabarkan beberapa proyek yang sudah menerapkan hasil penelitian yang dilakukan universitas. Tak banyak memang, mungkin, penelitian-penelitian yang berhasil diaplikasikan dibanding seabrek hasil penelitian mahasiswa yang tertata rapi di perpustakaan.

“Penelitian di kampus itu gak se-idealis yang kita bayangkan Mbak..” kata salah seorang kawan yang sudah mengajar di sebuah universitas swasta di Y-Town
Dan, yah…karena saya tak tahu terlalu mendalam tentang hubungan hasil penelitian dengan kontribusi di lapangan..saya tak berani menyimpulkan tapi sepertinya memang masih ada gap lebar antara keduanya. Bila dilihat dari banyaknya mahasiswa dari berbagai tingkatan yang mengerjakan penelitian dengan aplikasinya di masyarakat. Termasuk skripsi dan tesis saya…tentunya..pheww

-xxx-

Satu scene lagi yang tak akan terlupa ketika menjadi musafir pencari data adalah ketika mewawancarai si Bapak salah satu bakpia terkenal di Y-Town. Bukannya mendapat data yang dicari saya malah mendengar banyak hal dari si Bapak yang menyebut dirinya sebagai seorang ‘kuli seni’. Pengetahuan beliau luas, sebagian besar yang beliau ceritakan saya belum pernah dengar sebelumnya.

“Bapak suka baca ya Pak??” tanyaku
“Gak, saya gak suka baca. Saya cuma suka ngobrol sama orang-orang yang sering lewat depan sini. Dari mereka-mereka saya dapat banyak informasi..” jawab beliau

Saya cuma manggut-manggut. Satu skill yang butuh kerja keras tingkat dewa untuk bisa melakukannya. Mengoreksi informasi dari orang-orang sekitar sampai bisa mendapat hasil untuk dianalisis dan diambil kesimpulan…Dan sepertinya, saya terlalu malas untuk mempelajarinya…fyuhh~
((dasar plegma…))
Tapi, Noted Sir… (^^)\

-xxx-

Perpustakaan jurusan, H-sekian sebelum lebaran
“Aku gak tahu apa tapi pasti semua ada hikmahnya..” sahutnya lirih
Aku berhenti melihat lempi dan menengok ke arahnya, seorang kawan yang duduk pas di sebelahku. Aku tertegun sejenak melihatnya yang masih sibuk melihat layar lempi miliknya.
“Haik..” aku menjawab singkat sambil kembali memandang layar lempiku sendiri sambil tersenyum
“Aku gak tau Mbak. Dari dulu aku gak pernah berurusan dengan koding sampai sedemikian kompleks. Biasanya ya hanya seputar yang diberikan di kelas. Tapi kok sekarang aku harus ngoding kayak ginian ya..” lanjutnya
Aku menghentikan aktivitasku dan membalikkan badan ke arahnya.
“Ya…aku juga gak ngerti kenapa orang introvert, pemalu, dan pendiam seperti ini bisa dapat jatah ngetok-ngetok perusahaan orang dan menginvestigasi data-data privasi produk mereka. Mau tukeran..??” sahutku yang beribu kali lebih memilih ngoding daripada harus meminta-minta.
Ia hanya tertawa…

Dan diakhir perjalanan, mari menanyakannya lagi,
“Sudah tahu hikmahnya??”
Jika ditanya hikmah besarnya, jawabannya belom tahu..tapi banyak pelajaran-pelajaran yang didapat selama berkutat di jalanan. Beberapa sudah dituliskan, beberapa tersimpan erat di pikiran, beberapa masih tertutup kabut. Mungkin ada saat hikmah yang lebih besar akan tersingkap..
Yah, setidaknya saya yang dulunya pemalu jadi tambah tak tahu malu karena seringnya mengemis data, kan. Ato, mungkin bisa jadi modal besar untuk mendaftar jadi sopir gojek berhubung saya sudah mengoprek sebagian jalanan Solo-Yogya mencari alamat sekian banyak perusahaan dari yang besar sampai yang kecil-kecil nyempil di tengah bukit sana…saa..who knows..
But, it’s interesting. Mengumpulkan info perusahaan, menyaringnya, membuat urutan dan jumlah yang akan didatangi per hari berharap agar didapat rute sependek mungkin meski seringkali hasilnya tak sesuai harapan, mengepalkan tangan setiap pagi menjelang, berusaha menaklukkan ketakutan, melangkah keluar membersamai matahari yang untungnya selalu bersinar terang, menerima setiap penolakan dengan senyuman meski terasa sangat menyesakkan, dan tertawa riang setiap kali mendapat data yang diinginkan :mrgreen:
Meski, to tell the truth, selalu meminta itu menyakitkan. Lebih baik dimintai seribu kali dibanding harus meminta…

-xxx-

Ketika melakukan obrolan dengan si Bapak hari ini, saya kembali menyadari satu hal…
Yaaa, damn it’s true…!!

I love research, hontou.. n___n

-FIN-

Dan, dengan ini dinyatakan bahwa Catatan Jalanan telah berakhir (ketok palu). Next, Catatan Ramadhan,,, lalu sambung dengan Catatan Pengangguran…

Special thanks to Megu-chan dan si Mbak Ipar dengan kata-kata motivasinya yang menggelegar selama tertatih menjadi musafir jalanan… (^^)b

Diawali dari Masjid Malioboro dan diakhiri di Masjid Al Khirman
Laweyan..

~ Dan bersyukurlah, hanya tersisa satu tugas yang paling berat, menyiksa batin, dan memeras otak. Yang dibayangkan seindah apapun tak akan bisa selesai sampai ramadhan datang…selamat menangis darah kau Nak -___-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s