[Catatan Ramadhan 1437H] Inspiring Sista (3)

Aku membaca statusnya di media sosial kemarin malam. Sebuah media sosial yang jarang sekali kubuka. Hanya kugunakan untuk men-save artikel yang ingin kubaca lagi di masa depan atau artikel yang aku ingin mereka, yang gemar berselancar disana, membacanya. Statusnya masih sama dari dulu, inspiring. Saudara sekelas dan se- se- lainnya semasa di Bandung. Dekat,,iya, bisa dibilang. Beliaulah yang sudah mengajarkan banyak hal padaku yang masih jahil tingkat tinggi…semoga allah balas setiap kebaikannya..

Semester pertama. Masa-masa pengenalan. Kita berkumpul bersama di kos seorang kawan di daerah Sukabirus. Ketika yang lain sedang asyik-asyiknya cekikikan tetiba terdengar suara tilawah dari tangga di luar kamar. Kita terhenti sejenak dan melihat beliau sedang khusyuk membaca mushafnya di barisan tangga entah keberapa. Aku yang masih belum terlalu terbiasa melihat orang membaca mushaf di mana saja hanya tertegun melihatnya. Lalu, kembali berhura-hura dengan mereka. Membiarkan beliau dengan mushafnya. Juga ketika kita sedang pusing-pusing semi panik karena akan ujian statistik, beliau dengan tenang duduk di kursi dan membaca mushafnya menunggu bel masuk berbunyi. Lagi-lagi aku hanya terheran-heran melihat sikap beliau.

Beliau, seorang wanita dengan wajah yang tenang dan menyejukkan. Tak hanya wajahnya, setiap kata yang beliau keluarkan terasa bagai oase dalam kegersangan hati. Senyum itu seperti hal yang wajib bagi beliau. Bahkan kawan yang berbeda keyakinan pun sampai terheran-heran dengan sikap beliau yang selalu tenang.
“Dia gak pernah marah ya. Kayaknya senyum terus..”
Pernahkah beliau marah??
Aku pernah sekali kena gertaknya. Bukan marah, mungkin, hanya gemas melihat tingkahku yang saat itu sedang blank akut tingkat tinggi. Tak bisa mencerna apa yang beliau katakan. Dan itu adalah satu-satunya kata terkeras yang kudengar dari mulutnya. Itu pun beliau katakan masih dengan senyum di wajahnya. Dan pasti, selalu, kalimat demi kalimat nasihat langsung meluncur untukku. Isinya, entah..kepala jika sudah blank tak akan pernah bisa mengingat dengan jelas kan 😀

Beliau, seorang sanguin yang ingin menjadi plegmatis katanya waktu itu padaku. Tapi tetap saja, bagiku beliau adalah seorang sanguin yang selalu dikelilingi banyak saudara dimanapun beliau berada. Karakternya yang lembut dan tegas serta santun dipadu dengan sikap sanguin-nya menjadikannya seorang anak manusia dengan kemanfaatan yang begitu banyak untuk sekitar. Cahaya hatinya berhasil bukan hanya untuk menerangi hatinya sendiri tapi juga menerangi manusia-manusia lain di sekitarnya.

Kebeningan hati, al qur’an, dan mualafnya seorang profesor di salah satu universitas di jepang. Inti status yang beliau tulis kemarin. Ditulis dari Negeri Matahari Terbit di timur sana. Ya, cahayanya sudah menyebar sedemikian jauh. Menjadi matahari hati di negeri yang terbitnya matahari justru menjadi sebab tertutupnya hati. Semoga Allah lancarkan dakwah beliau disana..

Dan to tell the truth,,sampai sekarang, beliaulah orang pertama yang kukenal dekat yang paling menyejukkan hati. Belum ada lagi tandingannya..Semoga Allah selalu jaga beliau dan keluarga..Ada banyak yang ingin dituliskan tentang beliau, tapi entah. Susah untuk mengungkapkannya. Selalu, kesulitan mengungkapkan beningnya hati seseorang dalam sebuah tulisan. Apalagi yang menuliskan kadar kebeningan hatinya terpaut sangat jauh dengan yang menjadi obyek tulisannya.. 🙂

Semoga Allah selalu jaga keikhlasan hati beliau. Karena selalu tak mudah menjaga keikhlasan ketika sudah menjadi begitu dikenal di mata banyak orang…

Karena Islam bisa menjadi sangat indah jika tiap-tiap pemeluknya benar-benar mengaplikasikannya. Jika seorang demi seorang dengan kerelaan mau memperbaiki diri dan hatinya, rahmatan lil ‘alamin pasti bisa tersebar di bumi ini. Insya Allah. Menjadi orang-orang seperti beliau yang mengajarkan indahnya Islam bukan hanya lewat lisan dan tulisannya tapi juga lewat setiap tingkah lakunya yang keluar dari sebuah kebeningan hati. Dan selalu, dari hati pasti akan menyentuh hati. Menyebar dari satu menjadi sekumpulan..
Hingga, damailah dunia.. 🙂

Ramadhan day 10
10 dari 30. Sepertiga dari satu. Dari rahmat menuju ampunan..

Advertisements
By Isnaini Posted in Moment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s