[Qawa’id Qur’aniyah] Kaidah 8

“..dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” Az Zumar: 7

Inilah ayat yang menjadi kaidah ke-8 dalam kitab Qawa’id Quraniyah. Sebuah kitab yang ditulis oleh Umar Ibnu Abdillah yang berisi 50 kaidah yang diambil dari ayat-ayat yang ada di dalam Al Qur’an dan menjelaskan penafsirannya (CMIIW, karena gak ikut kajian dari awal jadi gak dapet keterangan kitabnya 🙂 )

Seorang manusia tidak akan menanggung dosa orang lain. Dosa seorang istri juga akan ditanggung sendiri oleh istri. Meskipun suami juga bisa terkena (bukan menanggung) dosa istri jika dosa tersebut disebabkan karena kelalaiannya. Jika seorang istri mempunyai dosa 10 dan itu disebabkan karena kelalaiannya sendiri maka 10 dosa tersebut ditanggung sendiri. Tapi jika dosa yang dilakukan istri tersebut ada andil kelalaian suami maka suami juga akan terkena 10 dosa sang istri tersebut. Begitu juga dosa seseorang yang menunjukkan pada keburukan. Orang yang melakukan keburukan menanggung dosanya sendiri, orang yang menunjukkan pada keburukan juga terkena dosa keburukan tersebut.

Pesan dari kaidah ke-8 ini adalah tentang meninggalkan dosa. Meninggalkan dosa berarti mengatasi masalah. Mengatasi masalah berarti menjadikan kehidupan menjadi lebih baik. Jika ada seseorang yang meninggalkan dosa tapi kehidupannya masih belum menjadi lebih baik, berarti dia belum benar-benar meninggalkan dosa. Hanya berpindah dari dosa yang satu ke dosa yang lain. Maka, dosa harus benar-benar ditinggalkan.

Dosa adalah beban berat yang harus dipikul manusia dalam perjalanannya pulang ke kampung akhirat. Dosa mempunyai 2 sisi, sisi positif dan negatif.
(-) Dosa adalah perkara yang membuat manusia hina sengsara
(+) Dosa juga bisa membuat manusia terangkat mulia bahagia

Perbedaan keduanya ada pada sejauh mana kita bersikap terhadap dosa. Melakukannya, kita akan mendapat sisi negatifnya. Meninggalkannya, hal tersebut akan menjadi tangga bagi kita untuk menjadi mulia di sisi Allah Ta’ala.

Melakukan dosa itu sebenarnya lebih ribet daripada meninggalkan dosa. Melakukan dosa memerlukan banyak waktu, tenaga, dan dana. Meninggalkan, ya tinggalkan saja. Tak usah dilakukan, tak perlu ada waktu; tenaga; dan dana yang sia-sia keluar. Bergosip itu membutuhkan waktu dan tenaga. Waktu yang dihabiskan bisa sampai 15 menit-an lebih mungkin. Belum lagi tenaga yang dikeluarkan untuk berbicara. Sedangkan meninggalkan, mungkin hanya perlu waktu 10 detik untuk menyadarkan diri lalu kita bisa melakukan aktivitas bermanfaat lainnya. Tapi yang menjadi pertanyaan,

“Mengapa manusia lebih suka melakukan dosa daripada meninggalkannya padahal meninggalkan dosa itu lebih simpel daripada melakukannya??”

Ittiba’ul hawa, mengikuti hawa nafsu. Manusia masih banyak yang suka melakukannya. Para ulama sepakat, nafsu adalah suara kehidupan yang ada di dalam diri manusia yang punya kecenderungan mengajak diri bersenang-senang dengan dunia. Cirinya dia berupa keinginan-keinginan yang jelas tidak ada hubungannya dengan akhirat. Sedang dosa, dalam sudut pandang dunia, memang menyenangkan. Hingga nafsu pun menyukai dosa. Nafsu menyukai dosa inilah yang kemudian menjadikan manusia tak peduli lagi dengan ribetnya melakukan dosa dan cenderung lebih memilih melakukan dosa daripada meninggalkannya.

Sementara, dalam diri kita sebenarnya ada lagi unsur lain yaitu akal, hati, dan jiwa. Jika ketiganya kompak maka suara kehidupan yang ada di dalam diri manusia akan mengajak manusia untuk hidup tenang bersama Allah, bahagia bersama sesama, dan damai bersama diri sendiri.

Nafsu yang tak tertangani dengan baik akan menjadi sumber konflik antara akal, hati, dan jiwa. Konflik inilah yang menjadikan tidak tenangnya hati. Ketika nafsu merecoki ketiganya, maka suara akal; hati; dan jiwa akan menjadi tidak jelas dan sulit untuk diidentifikasi. Nah, saat itulah maka akan mengalir air mata keburukan bernama kemudahan melakukan dosa.

Nafsu bagi diri itu seperti seorang ibu yang pergi ke sebuah tempat yang penting dengan waktu yang terbatas sambil menggandeng anak yang banyak maunya. Saat ini, kita pun sedang dalam perjalanan menuju ke kampung akhirat dengan waktu yang terbatas dan dalam kondisi menggendong nafsu yang banyak maunya serta tidak ada kaitannya dengan perjalanan kita. Disinilah letak masalahnya.

Seorang ibu membawa anaknya menuju ke stasiun kereta yang akan berangkat 20 menit lagi. Ketika melewati pasar, si anak melihat balon dan ingin membelinya. Berhenti untuk memenuhi keinginan sang anak hanya akan membuat perjalanan mengejar kereta terhambat dan ada kemungkinan terlambat. Memberi tahu tentang kondisi saat itu, si anak belum tentu mau mengerti. Memaksanya dengan kekerasan hanya akan menambah marahnya sang anak. Maka, langkah-langkah yang harus dilakukan di ibu untuk menundukkan anaknya inilah yang bisa digunakan untuk merumuskan solusi untuk mengatasi masalah nafsu yang para ulama biasanya menyebutnya dengan istilah MUJAHADAH.

Perngertian mujahadah secara umum adalah berjuang untuk tidak memanjakan nafsu dan keinginan serta kesenangan dunia yang tidak punya nilai akhirat. Seorang anak yang mengamuk meminta sesuatu kemudian sang ibu mengabulkannya, maka si anak akan merasa menang terhadap ibunya. Belajar dari pengalaman sebelumnya, si anak akan terus melakukan hal sama dengan keinginan-keinginannya di kemudian hari. Akhirnya, bukan sang anak yang menurut sang ibu, tapi ibu lah yang menurut pada anaknya. Begitulah kondisi kita dengan nafsu jika terlalu dimanjakan.

Dan berikut adalah langkah-langkah untuk melakukan mujahadah:
1- Memahami bahwa semua keinginan nafsu adalah penghalang menuju akhirat
2- Menekadkan diri untuk tidak memenuhi apapun keinginan nafsu
3- Berjuang untuk melakukan tindakan yang berlawanan dengan keinginan haawa nafsu
4- Tidak mempedulikan ‘rengekan’ nafsu yang ingin dikasihani

Mujahadah itu seperti antibiotik. Sifatnya wajib harus diberikan dengan kadar dan waktu yang tepat. Jika dihentikan sebelum waktu dan kadarnya maka hanya akan membuat bakteri menjadi resisten.

After all, semoga allah mudahkan kita dalam bermujahadah melawan nafsu dunia hingga kita bisa menjadi seperti yang dikatakan Hasan Al Bashri rahimahullah,

“Zahidun fid-dunya, raghibun fil-akhirah”

Seorang yang selalu menjadikan apapun yang ada pada dirinya selama hidup di dunia ini selalu bernilai akhirat.

Wallahu ta’ala ‘alam

Abi Syatori hafidzahullah
Nurul Ashri

image

Advertisements

4 comments on “[Qawa’id Qur’aniyah] Kaidah 8

  1. luar biasa perumpamaannya, 🙂

    Pernah dapat nasehat dari senior, hati itu ketika tidak disibukkan dengan keta’atan maka dia akan disibukkan dengan kemaksiatan, karena begitulah tabiat hati. Wallahua’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s