[Qawaid Qur’aniyah] Kaidah 9b

Hidup adalah perjalanan menjadikan semua masalah sebagai kesempatan untuk menjadikan diri lebih baik.. ~Syatori Abdur Rauf

Dan ternyata, kajian hari ini masih melanjutkan kaidah ke-9 yang kemarin. Tentang tsiqqah pada Allah. Lebih banyak mengulang, sedikit tambahan.

Apapun konsep hukum yang tidak didasarkan rasa tsiqqah pada Allah, hanya akan menimbulkan konflik kehidupan. Misalnya emansipasi wanita atau sekarang biasa disebut dengan kesetaraan gender. Dalam buku Qawaid Qur’aniyah, Doktor Umar Ibnu Abdillah menyebutkan beberapa pendapat dari beberapa tokoh pergerakan wanita.

Da Visun*, seorang tokoh gerakan wanita dunia

“Banyak sekali wanita yang dalam kehidupan rumah tangganya kemudian menuntut kesetaraan antara suami dan istri. Laki-laki adalah pemimpin yang harus ditaati. Wajib atas wanita untuk hidup di rumah suaminya. hendaklah para wanita melupakan seluruh pikiran-pikiran dia yang berhubungan dengan kesetaraan gender karena tidak ada manfaat dalam kehidupan.”

Helen Andelin, seorang aktivis wanita yang menjadi peneliti dalam satu lembaga yang bergerak di bidang keluarga di Amerika

“Sesungguhnya pemikiran tentang kesetaraan gender itu tidak aplikatif (tidak sesuai kenyataan) dan tidak sesuai dengan teori. Konsep kesetaraan gender hanya akan berakibat pada bahaya yang nyata terhadap wanita, keluarga, dan masyarakat.”

Raina Marry*, seorang pemimpin organisasi yang bergerak di bidang kewanitaan di Paris

“Sesungguhnya orang-orang yang menuntut persamaan yang sempurna antara laki-laki dan perempuan hanya akan menuju pada satu keadaan yang hampa dimana kedua pihak sama-sama tidak bisa mendapatkan haknya.”

Dalam Islam, kewajiban suami menjadi hak istri dan kewajiban istri menjadi hak suami. Ketika konsep kesetaraan ini diterapkan, maka kewajiban suami berarti juga kewajiban istri, hak suami juga sama dengan hak istri. Tidak ada hubungan saling melengkapi di antara keduanya. Konsep yang dibuat oleh mereka akhirnya terbongkar sendiri kerapuhannya oleh mereka sendiri. Sehingga terbukti bahwa apa yang ada dalam Al Qur’an memang cocok diterapkan untuk kehidupan..

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)..” Al Hadiid: 16

Dalam ayat tersebut ada 2 perubahan yang Allah inginkan pada diri kita:
1- Melepaskan hati selain dari Allah dan menjadikan Allah sebagai pemberat semua pertimbangan-pertimbangan hidup kita. Apapun yang kita putuskan, selalu diawali dengan menimbang dan mengingat Allah.
2- Menundukkan hati untuk selalu menerima dan patuh pada semua kebenaran yang Allah turunkan dari langit bukan kebenaran yang datang dari bumi. Adapun kebenaran yang tumbuh dari bumi, maka ia adalah kebenaran yang kering, gersang, dan berujung gelap.

Maka, kapan lagi kita mau kembali pada Allah jika bukan sekarang??

Wallahu ta’ala ‘alam

Abi Syatori hafidzahullah
Nurul ‘Ashri

* belum berhasil nemu keterangan lengkapnya. Mungkin salah dengar namanya…wallahu’alam..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s