Indah kan, Perbedaan :)

“When I say that I love You
It means I’ll give the best for You
You means everything to me
Cause I will never leave You
Cause I love You so..
No more fear about the future
Cause I’ll give everything
When I say that I love You”

Salah satu dari dua lagu rohani yang saya hapal di luar kepala karena si Mbak, teman sekamar dulu ketika SMA, sangat sering menyanyikannya. Bukan hanya satu dua, tapi ada beberapa lagu yang sering beliau nyanyikan ketika di kamar. Suaranya bagus, jernih, dengan rentang oktaf yang luas membentang dari rendah sampai tinggi karena beliau memang menjadi anggota paduan suara di tempat kebaktian beliau. Dan entah kenapa, lagu ini akhir-akhir ini sering terngiang di otak bawah sadar meski saat ini sedang berjuang keras untuk membuang musik dari kehidupan.

Dan, gegara hari ini parkir terlalu dekat dengan lapangan basket, saya jadi pengen nge-dribble bola basket lagi. Permainan yang sudah sejak SMA ditinggalkan. Jadi inti cerita ini, saya kangen masa SMA saya..heuhh..salah..

Si Mbak, seorang penganut yang taat. Sering membaca kitab sucinya sebelum tidur. Berdoa khusyuk sebelum makan. Dan sering mengingatkan saya, yang masih jahiliyah akut, untuk sholat. Beliau-lah yang berteriak paling keras ketika saya tidak memakai jilbab di minggu pertama saya pertama kali memakai jilbab, saat emak bahkan babe yang mendoktrin pake jilbab pun hanya no-komen. Senin-jum’at lolos full jilbab di tanah rantau. Hingga ketika kembali ke desa tercinta, di acara tujuh belasan ketika para pemudanya disuruh keluar mengatur seluruh lomba-lomba yang diadakan, saya yang dari kecil paling males disuruh paling jilbab kembali melakukan pembelotan. Sebenernya karena gak enak pake jilbab sendirian diantara seluruh warga desa yang belum berjilbab. Berasa alien…hufft

“Hehh…mana jilbabnya!!??” dengan suara khas beliau yang terkadang bisa sangat keras dengan mata melotot..
Nyengir aja saya mah, meski akhirnya pulang ngambil jilbab seadanya..heu..last time..thanks Sist

Ada saat-saat ketika beliau bercengkerama asik dengan teman beliau lain yang se-keyakinan di kamar. Saya pun ikut duduk khusyuk jadi pendengar setia sambil mengangguk-angguk mengikuti cerita-cerita mereka seputar keyakinan yang mereka anut. Jangan suruh ngulang karena saya sudah lupa..(kethok kepala). Yang diingat cuma prediksi akan ditanamnya chip di dalam tubuh manusia. Itu, futuristik banget percakapannya.. πŸ˜€

Indah kan, perbedaan dalam saling penghormatan..
Untukmu lah agamamu dan untukku lah agamaku..
πŸ™‚

Lain cerita anaknya, lain pula cerita emaknya..

Ada dua keluarga berbeda keyakinan yang Emak sering datangi ketika lebaran. Satu partner beliau ketika jalan pagi dan yang satu emang udah deket dengan Emak sejak saya masih kecil. Bahkan acara natal pun dulu kerap diundang meski kita tak pernah sekalipun datang hingga undangan pun terhenti dengan sendirinya. Tapi, hidangannya tetep nyampe ke rumah. Duluuu… πŸ˜€

Dan, sebagai sopir Emak yang setia mengantar kemana pun beliau pergi, saya kena jatah juga nganter si Emak ke rumah beliau-beliau ini. Sungkeman di rumah yang penuh dengan ornamen keyakinan mereka, bagaimana rasanya..??
Biasa aja…
((innocent always..always innocent))
Toh beliau-beliau juga ramah sangat..
Meski pada akhirnya, saya hanya diam tak meng-aamiin-kan setiap doa-doa yang beliau-beliau ucapkan.

Saya selalu berada di belakang mereka berdua, si Emak dan Bu Guru SD saya, setiap kali jalan pagi bersama. Mendengar obrolan seperti apa yang mereka bicarakan. Khas pembicaraan emak-emak lah ya. Dari obrolan tentang merica, bawang merah dan bawang putih, isu-isu terkini, dll. Tak ada sekalipun nyerempet SARA.

Indah kan, perbedaan dalam saling penghormatan..
Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku..
πŸ™‚

Terkadang kita tak perlu bertanya, ikatan apa yang menyatukan beda yang tak akan pernah satu ini..??
Hanya menjalani, dengan dasar fitrah kebaikan yang sebenarnya sudah tertanam sejak penciptaan awal. Mungkin…
Kalo dulu saya ditanya kenapa bisa sebegitu akrab dengan si Mbak yang berbeda keyakinan, saya pun mungkin tak tahu jawabannya. Jika si emak jika ditanya dengan pertanyaan yang sama, paling mungkin jawabannya adalah,
“Lha karo tonggo dhewe kok yo Dek, mosok ora gayub rukun..”
Kearifan lokal khas penduduk desa, kan.. πŸ™‚
Tapi, jangan tanya si Babe. Jawabannya mungkin akan lain, sudah berdalil…heu..babe gue..love you lah..
Dan, ada kan sebenarnya syari’at yang mengaturnya..

Rasulullah pun menjenguk seorang Yahudi kecil yang sakit hingga akhirnya si kecil masuk Islam. Tak melarang saling memberi hadiah dengan mereka apalagi sampai merusak tempat ibadah mereka. Rasulullah kan yang kita anut..

Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.

Jumu’ah barakah. Semoga Allah lembutkan hati-hati kita sehingga keberkahan selalu menyelimuti semesta. Islam rahmatan lil ‘alamin πŸ™‚

~ Bermula dari berkelibatnya momen-momen masa-masa SMA…

8 comments on “Indah kan, Perbedaan :)

  1. TFS mba Is, sudah mengingatkan lagi πŸ™‚

    Pribadi, aku punya tante beda kepercayaan, sahabatku, om, tapi ya baik2 semua hehe

  2. Deket rumah saya, cuma sepelemparan batu ada sebuah gereja. Dulu waktu kecil beberapa kali bantu2 bersihin gereja, karena kayaknya mereka ndak punya remaja masjid ala gereja gitu yg bisa diberdayakan. Soalnya mayoritas umatnya dari luar desa. Jadi kami inisiatif membantu kl mereka akan ada acara besar.

    Dan itulah toleransi ala desa kami…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s