Optimasi Model Kehidupan

Sudah agak lama aku mengamatinya. Perbedaan caraku menjemur dan cara menjemur bapak. Bapak akan menempatkan kain-kain atau pakaian-pakaian kecil dan tak begitu banyak warna di seutas tali yang merentang dari tembok kanan ke tembok kiri. Letaknya di paling pinggir tempat jemuran, hingga paling banyak terkena matahari. Pakaian-pakaian yang besar dan berwarna ditempatkan di rak jemuran yang letaknya di dalam tempat jemuran beratap asbes hingga sinar matahari tak langsung mengenai pakaian. Aku, sebaliknya. Menempatkan pakaian-pakaian yang tebal di tempat yang paling banyak terkena matahari dan yang kecil dan tipis di tempat yang tak banyak terkena matahari.

Tiap kali melihat model jemuran bapak, aku hanya bertanya dalam hati,
“kenapa polanya seperti itu??”
Sampai akhirnya, aku paham alasannya.

Pikirku, pakaian yang tebal akan lebih cepat kering jika ditempatkan di tempat yang terkena banyak sinar matahari. Tanpa memikirkan warna yang bisa luntur karena terlalu lama terkena sinar matahari. Dari cara menjemur Bapak, aku mengerti, pakaian berwarna diletakkan di tempat yang tak terkena sinar matahari langsung agar warnanya tidak cepat luntur.

Keduanya sama-sama efektif jika dilihat dari tujuan menjemur pakaian. Yaitu, agar kering. Tapi, jika dilihat dari segi efisiensi, cara Bapak lebih efisien. Selain pakaian kering, warna pun tetap terjaga. Paham hal ini, aku pun sekarang meniru cara beliau.

-xxx-

Dua cara yang berbeda, hasil dari 2 buah pemikiran yang berbeda. Akan ada banyak sudut pandang di luar sana. Dari yang paling jauh dari kebenaran sampai yang paling mendekati kebenaran. Segala prinsip yang kau pegang saat ini pun, berada di range tersebut.

Maka, ketika menemukan sebuah prinsip yang berbeda, telaah baik-baik. Dari yang kau pegang dan dari yang kau temukan, mana yang paling mendekati kebenaran. Dan ketika telah kau temukan jawaban, hancurkan ego diri lalu tunduklah pada kebenaran.

Seorang kawan dulu pernah menuliskan sebuah status yang masih diingat sampai sekarang,

“Aku berjalan di tepian pantai. Kuambil sebutir pasirnya. Kurenungkan ia. Lalu, kupandang ke arah lautan. Pasir ini, belum ada apa-apanya. Masih ada berapa banyak lagi ciptaanNya di dalam sana..”

Karena masih begitu banyak yang belum dimengerti tentang kehidupan. Karena ilmuNya tak akan habis meski semua pohon menjadi pena dan air laut menjadi tinta. Maka perlahan, kurangi segala error hidup. Sedikit demi sedikit, membuka pikiran serta hati, mengilmui, melihat, merasa, mendengar, memahami lebih banyak. Hingga akhirnya, saat tiba masa berpulang, model kehidupan dengan error terkecil lah yang saat itu dipegang..
Semoga…

Wallahu ta’ala ‘alam..

~ 10 Dzulhijah 1437 H
Ditengah trenyuhnya kumandang gema takbir pengagungan namaMu…

Advertisements

6 comments on “Optimasi Model Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s