[QS 80:11-42] Kiat Qur’ani Berinteraksi dengan Al Qur’an

Sudahkah kita memiliki alarm qur’ani dalam diri kita?? (ayat 11-16)

Ayat 11 diawali dengan ‘Kallaa’. Dalam tafsir Al Qur’an, Kallaa menunjukkan “Larangan yang kuat untuk tidak melakukan sesuatu”. Dalam terjemahan “Sekali-kali jangan begitu!”
Jangan melakukan apa??
Ayat sebelumnya (ayat 1-10), mengabaikan orang yang bersegera datang untuk mendapatkan pengajaran Al Qur’an, untuk menjadikan Al Qur’an sebagai tadzkirah.

Al Qur’an adalah tadzkirah. Apakah tadzkirah itu??
Tadzkirah adalah alarm dan sinyal-sinyal yang kuat. Seperti rasa lapar merupakan alarm kita untuk segera makan. Kalau seseorang tak pernah merasa lapar, berarti dalam tubuhnya ada yang bermasalah. Sama seperti orang yang tak pernah merasakan alarm Al Qur’an, berarti ada masalah di dalam hati atau jiwanya.

Alarm apa yang berasal dari Al Qur’an??
1- Alarm untuk beramal sesuai petunjuk dalam Al Qur’an
Misal, orang yang sinyal/alarm qur’ani nya kuat ketika mendengar surah Adz Dzariyat langsung menyadari bahwa ia terlalu banyak tidur hingga kurang banyak beristighfar di waktu sahur. Ketika mendengar ayat-ayat tentang perintah berinfaq dan balasannya berupa ampunan Allah, langsung bersemangat untuk berinfaq.

2- Alarm untuk memperbaiki kondisi hati kita
Ketika kita belum bisa memahami satuan-satuan perintah di Al Qur’an dan belum termotivasi untuk mengamalkannya, minimal jadikan Al Qur’an sebagai tadzkirah global, minimal sadari kalau ini perkataan Allah. Minimal, ketika kita berinteraksi dengan Al Qur’an, sadari kalau kita sedang berinteraksi dengan Al Qur’an, sadari kalau kita sedang berinteraksi dengan perkataan Dzat yang sangat kita cinta..

Kalau kita belum bisa menyadari hal ini juga, berarti pikiran-pikiran kita hanya sibuk dengan persoalan dunia saja, bisa jadi hati kita juga terlalu banyak diliputi dosa

Kata “ismun” dosa itu berkaitan dengan lambat dan mundur. Artinya, kalau seseorang melakukan perbuatan dosa maka akan menjadikan dia lambat untuk kembali kepada Allah, mengalami kemunduran untuk taat kepada Allah. Itulah mengapa, kalau kita berbuat dosa, segeralah beristighfar yang banyak agar dosa tersebut belum menimbulkan kelambatan dan kemunduran dalam diri kita..

Al Qur’an adalah tadzkirah atau alarm ketika kita mengalami kemunduran dan kelambatan karena dosa-dosa kita. Merasa malas, jenuh, berat untuk tilawah Al Qur’an, sulit menghapal Al Qur’an. Itu adalah alarm bahwa kita mengalami kemunduran dan kelambatan karena dosa-dosa kita. Itu adalah tanda bahwa hati kita perlu diobati, apakah dengan banyak istighfar, perbanyak ilmu, mujahadah, dll.
Kalau mau melihat hati kita bersih atau gak, lihatlah kondisi hati kita ketika berinteraksi dengan Al Qur’an..

Bagaimana menjadikan Al Qur’an sebagai tadzkirah??
1- Memiliki kehendak yang kuat terhadap Al Qur’an (ayat 12)
“Maka barangsiapa yang menghendaki..”
Bagaimana mungkin bisa meraih sesuatu kalau menghendakinya saja tidak?
Meskipun kita merasa belum mampu, minimal tumbuhkan “mau” sebanyak-banyaknya. Kalau “kehendak” kita tidak kepada Al Qur’an, dipastikan “kehendak” kita kepada hal-hal lainnya yang kualitasnya lebih rendah dari Al Qur’an.

Kehendak yang besar ini ditunjukkan oleh seorang buta (Abdullah bin Umi Maqtum) yang mendatangi Rasulullah untuk mempelajari Al Qur’an. Beliau memiliki semangat yang sangat kuat untuk belajar Al Qur’an kepada Rasulullah, untuk menyucikan diri dengan Ql Qur’an, tidak mudah menyerah.. (ayat 3-4 dan 8-10).

Sementara sikap orang yang tidak memiliki kehendak kepada Al Qur’an, ditunjukkan oleh sikap para pembesar. Tidak punya keinginan kepada Al Qur’an, tidak tertarik kepada Al Qur’an, tidak merasa butuh dengan Al Qur’an, sekalipun yang mengajarkannya adalah Rasulullah. Kehendak mereka juga sangat besar dan kuat, tapi kepada dunia, bukan kepada Al Qur’an.

Seakan Allah berfirman,
“Ngapain orang seperti itu kamu perhatikan?? Padahal bukan urusanmu kalau dia tidak mendapatkan hidayah karena dia sendiri juga tidak ingin mendapat hidayah. Sementara ada orang yang memiliki kehendak besar kepada Al Qur’an, yang akan mudah menjadikan Al Qur’an sebagai tadzkirah, malah kamu abaikan..”

2- Mengetahui kedudukan dan keutamaan Al Qur’an (ayat 13-16)
Selanjutnya, Allah menjelaskan keutamaan-keutamaan Al Qur’an agar kita semakin bersemangat menjadikan Al Qur’an sebagai tadzkirah..
~ Al Qur’an memiliki sifat mukaromah (dimuliakan)
~ Al Qur’an memliki sifat marfu’ah (ditinggikan)
~ Al Qur’an memliki sifat muthoharoh (disucikan)
Maka, Allah pun akan menjadikan orang-orang yang dekat dengan Al Qur’an mukaromah, marfu’ah, dan muthoharoh.

Kemuliaan hakiki di sisi Allah itu karena Al Qur’an. Kalau kita melihat seseorang dimuliakan oleh manusia karena hal-hal duniawi, bukan karena Al Qur’an dalam dirinya, maka itu kemuliaan yang semu.

Di surah Al Waqi’ah, Allah memperingatkan, jangan sampai kita menjadi orang yang dimuliakan di sisi manusia tapi direndahkan di sisi Allah. Jadilah orang yang dimuliakan di sisi Allah, sekalipun direndahkan di sisi manusia.
Sementara itu, Allah akan menjadikan hamba-hamba yang dekat dengan Al Qur’an mulia, baik di sisi Allah maupun di sisi manusia.

3- Mengingat awal dan akhir proses penciptaan (ayat 17-23)
Celakalah manusia yang kufur terhadap ayat-ayat Allah, mengabaikan nasihat-nasihat dari Allah. Seakan Allah berfirman,
“Siapa sih manusia itu? sombong amat! Gak sadar apa kalau dia diciptakan dari air yang hina.”
Allah akan memuliakan manusia dengan Al Qur’an. Tanpa Al Qur’an, manusia yang diciptakan dari air yang hina akan terus hina.

4- Mengingat Allah di balik makanan yang kita nikmati (ayat 24-32)
Ayat 29, zaitun dan buah tin adalah makanan yang sangat berkhasiat. Perhatikan anggur, sayur-sayuran, buah-buahan, makanan yang dimakan hewan ternak (rumput, dll). Fitrahnya, makhluk akan senang pada yang memberinya makan. Misal, hewan-hewan akan menjadi jinak pada yang memberinya makan. Manusia juga akan senang jika diberi makanan. Allah mengingatkan manusia bahwa Allah lah yang memberi makan manusia.

Di surah Al ‘Adiyat, Allah menggambarkan kuda saja yang hanya diberi makan rumput oleh manusia bisa menjadi begitu penurut pada tuannya. Bersegera lari sekencang-kencangnya ketika diperintah oleh tuannya sampai antara kaki dan batu-batu memercikkan api. Siap diperintah bekerja saat waktu istirahat, siap melaksanakan perintah sekalipun harus menghadapi bahaya. Padahal kuda hanya diberi makan rumput. Manusia..??

5- Mengingat suasana hari kiamat (ayat 33-42)
Ayat 36, istri disebutkan sebagai shoohibah karena di hari itu hubungan istri dengan suami hanya sebatas status, tisak saling peduli, masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Tapi, disaat seperti itu, Al Qur’an akan mendatangi orang-orang yang ketika hidupnya selalu sibuk dengan Al Qur’an.

KESIMPULAN
Kita harus menjadikan diri kita sensitif dengan alarm dari Al Qur’an.
Ketika kondisi kita sedang turun, Al Qur’an menjadi alarm bahwa kita harus meningkatkan kondisi diri kita..
Ketika kondisi kita sedang naik, petunjuk-petunjuk di Al Alqur’an menjadi alarm dan motivasi bagi kita untuk segera mengamalkannya..
Sehingga jadilah kita hamba yang dimuliakan, ditinggikan, dan disucikan oleh Allah karena Al Qur’an.

Wallahu ta’ala a’lam..

Ustadz abdul Aziz Abdur

Advertisements

2 comments on “[QS 80:11-42] Kiat Qur’ani Berinteraksi dengan Al Qur’an

  1. Mba Isnaini, afwan koreksi untuk judulnya, bukan Qs 30 Mba, tapi Qs 80, ini tafsir surat ‘Abasa,
    saya dapat konfirmasi langsung dari notulisnya soalnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s