Titik 6.2

Jakal km 6.2

Aku melewatinya. Empat orang yang berdiri di trotoar yang dialih fungsi menjadi warung makan yang sedang tutup lapak dengan terpal biru memayungi beberapa deret meja dan kursi. Sekitar 3 meter di depan mereka, aku berhenti. Mengeluarkan bang andro dari dalam tas. Membuka aplikasi maps, mengetikkan nama sebuah gang dan mulai mencernanya.

Suara itu mulai terdengar. Suara aneh. Serak dan keras, seperti monster. Itu yang pertama kali terlintas di pikiran. Aku menoleh ke belakang. Tersentak melihat seorang laki-laki tinggi besar menonjok-nonjok kepala seorang anak perempuan seusia anak SMP. Adeknya, mungkin, karena wajahnya mirip. Keduanya beradu mulut. Kencang. Tak peduli dengan sekitar. Seorang lagi, wanita dewasa mencoba menengahi. Seorang lagi, seorang ibu paruh baya yang ringkih, hanya bisa melihat.

Aku kembali ke bang andro. Mencoba kembali membaca peta.

Suara keras serak di belakang berubah menjadi suara tangisan. Buyar. Aku palingkan mata ke arah spion. Melihat seluruh kejadian dari cermin cembung yang menempel di stang kanan.

Lelaki besar berambut kuning itu kini bersujud mencium kaki ibunya sambil meminta ampun. Satu-dua kali kalimat istighfar keluar dari mulutnya. Ibunya, wanita berwajah sayu itu, memeluk tiang bambu yang dipakai untuk menegakkan terpal. Hanya gelengan kepala, berkali-kali. Adeknya kembali menimpali, memaki. Lelaki itu kembali berdiri. Menonjok-nonjok lagi kepala adeknya dengan tangannya yang besar.

Perhatianku teralihkan pada dua anak SMP yang berdiri di depanku yang ikut melihat, sambil sesekali bergidik ngeri. Aku masih mengamati keduanya, dan beberapa orang yang juga berpaling menyaksikan sinetron nyata di hadapan mereka. Hingga, kedua anak SMP itu berteriak perlahan lalu buru-buru menyeberang. Aku kembali melihat ke arah spion. Sebuah batu hitam besar sudah berada di genggaman lelaki bercelana jeans yang diarahkan, sudah tentu, untuk adeknya.

Aku kembali melihat sekitar. Tak ada tanda akan ada orang luar yang menengahi. Beberapa hanya melihat, beberapa tak peduli. Beruntung, batu itu kembali diletakkan. Tak jadi dilempar. Si anak lelaki kembali memohon. Memeluk ibunya yang sudah sedemikan pasrahnya sambil terus memohon ampun. Ibunya masih bergeming. Hingga, diambilnya sebuah tas ransel agak besar milik ibunya, mungkin. Seolah tak mengijinkan sang ibu pergi. Suaranya masih serak. Suara tangisan seorang laki-laki. Bagaimana rasa hati mendengarnya??

Sampai akhirnya si ibu berbicara sebentar dengan anak perempuannya yang sedari awal cekcok dengan abangnya. Mengelus tangannya, mencoba memberi pengertian, mungkin.

Cukup sudah. Aku harus meneruskan perjalanan. Suspect jalan yang harus dilalui sudah diketahui. Motor kubalikkan, berbarengan dengan si anak lelaki yang mencangklongkan tas ke punggungnya dan mulai menjalankan motornya. Motorku berbelok mengharap ke arahnya, dan motornya menghadap ke arahku. Ibunya, adeknya, dan wanita yang satu lagi berjalan ke arah yang berlawanan dengan si anak lelaki. Searah denganku.

-xxx-

Setiap kali melihat sesuatu yang diluar kebiasaan, selalu akan ada tanya,
“Untuk apa Allah perlihatkan??”

Untuk apa??
Syukur..?? Tentu. Keluargamu baik-baik saja kan..
Lainnya??
Saa..wakaranai..
Memang, kedalaman dasar sungai tak akan tampak jika airnya sedang mengeruh..

Satu yang terlihat dari beberapa (atau banyak) yang tersembunyi.
Cerminan kondisi keluarga negeri ini??
Entah, sampel cuma satu kasus belum bisa untuk menggeneralisir kan..meski mungkin bisa ditambah dari kisah-kisah yang cuma bisa dibaca darimana saja..

Pada akhirnya,
yang tahu kelak akan ditanya,
“kenapa tak kau beritahu saudaramu??”

Advertisements

12 comments on “Titik 6.2

  1. Tidak tahu duduk masalahnya lebih baik tidak ikut campur. Apalagi yg tidak kenal. Ntar malah dapat masalah meskipun niat kita baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s